Korea Selatan menyelidiki pembobolan data 68.000 nasabah di tujuh bank terkemuka akibat serangan siber otomatis berbasis Artex AI.
Stabilitas.id – Pemerintah Korea Selatan menggelar investigasi besar-besaran menyusul gelombang serangan siber canggih berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang membobol sedikitnya tujuh institusi keuangan terkemuka. Otoritas Komisi Layanan Keuangan (FSC) melaporkan peretasan otomatis ini telah membocorkan data pribadi milik lebih dari 68.000 nasabah perbankan sejak akhir September 2026. Sejumlah bank raksasa seperti Shinhan Bank, KB Kookmin Bank, hingga Hana Bank mengonfirmasi adanya kebocoran data tersebut.
Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung menginstruksikan kepolisian dan badan regulasi untuk menggelar penyelidikan penuh guna meredam kepanikan masyarakat.
“Ada indikasi bahwa kecerdasan buatan digunakan dalam sejumlah serangan peretasan, yang menimbulkan kekhawatiran dan kecemasan cukup besar di kalangan masyarakat,” ujar Presiden Lee dalam rapat kabinet, Selasa (6/10/2026), mengutip AFP.
Lee menegaskan disrupsi teknologi cerdas kini menghadirkan ancaman baru bagi pertahanan digital perbankan.
“Kita telah mencapai titik saat AI dapat mempermudah peretasan, bahkan bagi individu yang tidak memiliki keahlian khusus,” tegas Lee.
Penyelidikan gabungan menemukan pelaku memanfaatkan Artex AI, sebuah perangkat uji penetrasi keamanan siber sumber terbuka (open-source) berbasis AI. Perangkat cerdas ini bekerja otomatis memindai kelemahan sistem perbankan secara adaptif. Guna menghindari sistem inti (core banking) yang terproteksi ketat, peretas menyusup melalui kanal sekunder yang lebih rentan, seperti platform agen penjualan dan layanan pengajuan pinjaman digital.
Di Shinhan Bank, peretas mengeksploitasi sistem agen kredit dan mencuri data milik 25.000 nasabah, mencakup nama lengkap, nomor ponsel, nominal pendapatan tahunan, hingga plafon kredit. Korban terbanyak dialami Yegaram Savings Bank dengan sekitar 40.000 data nasabah bocor, disusul Welcome Savings Bank (2.200 korban), KB Kookmin Bank (153 korban), Hyundai Capital (146 korban), Hana Bank (89 korban), dan BNK Busan Bank (11 korban).
Sebaliknya, Woori Bank dan NH NongHyup Bank berhasil memblokir serangan secara langsung berkat keandalan sistem deteksi intrusi (Intrusion Detection System/IDS).
Otoritas FSC menemukan alamat protokol internet (IP) penyerang disamarkan melalui server perantara di Amerika Serikat, Jepang, Singapura, Vietnam, dan Inggris. Data finansial yang tercuri dikhawatirkan disalahgunakan untuk penipuan manipulatif (voice phishing).
Ketua FSC Lee Eok-won memerintahkan seluruh bank memutus akses sistem pihak ketiga yang tidak esensial serta menerapkan prinsip serangan AI dilawan dengan AI.
“Kita tak bisa tutup mata pada kemungkinan serangan ini menggunakan AI,” ujar Lee Eok-won.
Gelombang serangan siber serupa juga menghantam Jepang. Mengutip Nikkei Asia, peretasan berbasis AI generatif berhasil membobol data 6,6 juta pengguna rental mobil Times Car, 10 juta pengguna jaringan restoran, serta 220.000 nasabah Daiwa Securities dengan mengeksploitasi kecakapan bahasa lokal secara fasih. ***
Editor: Sandy Romualdus

















