BERITA TERKAIT
Menyaksikan Debat Capres beberapa waktu lalu, terkait visi mereka dalam ekonomi, menyisakan banyak renungan. Salah satu calon menjanjikan kecukupan sandang, pangan, dan papan dengan menutup kebocoran. Calon lain menawarkan pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan. Kedua calon mengasumsikan bila ada peningkatan pertumbuhan ekonomi yang tinggi, “semua bisa dipenuhi”. Dengan kata lain, pertumbuhan ekonomi diandalkan sebagai lokomotif utama menarik gerbong kesejahteraan.
Kira-kira 48 tahun silam, John F Kennedy, saat mencalonkan diri sebagai Presiden AS, justru berkata sebaliknya. Kennedy mengkritik apa yang menjadi panduan dan keyakinan para ekonom itu. Karena ia menilai banyak hal yang dilepaskan dari perhitungan PDB. “…PDB (pertumbuhan ekonomi) tidak mencakup keindahan puisi kita atau keharmonisan pernikahan kita, kecerdasan perdebatan publik kita atau integritas pejabat negara kita. PDB tidak mengukur keberanian kita, atau kebijaksanaan kita, atau bakti kita kepada negara. Pendeknya, PDB mengukur segala hal, kecuali yang membuat hidup kita berarti,”tandasnya dalam sebuah pidatonya yang ditulis kembali dalam Principles of Economics karangan Mankiw et al.
Sentilan Kennedy itu mengingatkan, pertumbuhan ekonomi, bukan segala-galanya. Ada banyak aspek lain, yang tidak dihitung dalam PDB. Kennedy mencontohkan kebahagiaan dan makna hidup, yang tercermin dalam “keharmonisan pernikahan” salah satu yang tidak dihitung dalam PDB. Banyak negara yang sibuk mengejar impian kenaikan PDB, melupakan pembangunan aspek kejiwaan manusianya.
Di masanya, tingkat perceraian di AS seperti yang ditulis dalam buku Recent Social Trends in the United States 1960-1990, berkurang. Bila pada 1945 mencapai 14,4 per 1.000 wanita yang menikah usia di atas 15 tahun, pada 1960 turun menjadi 9,2 atau titik paling rendah. Bisa dibayangkan kenapa Kennedy bangga menyebut pernikahan yang harmonis sebagai prestasi yang tidak bisa disepelekan begitu saja dibanding capaian ekonomi. Karena setelah era 60-an itu, tingkat perceraian di AS terus meningkat bahkan dua hingga tiga kali lipat. Ini mengindikasikan betapa meskipun mereka memiliki daya beli, namun banyak persoalan yang potensial melilit dan berakibat hilangnya kebahagiaan.
Praying
Dalam perspektif Quranomics, meletakkan ekonomi sebagai prioritas utama memecahkan masalah, kurang tepat, untuk tidak mengatakan keliru. Jauh sebelum Peter Fisk menulis buku People, Planet, Profit yang menandaskan bahwa pertumbuhan yang berkelanjutan akan terjadi bila manusia yang menggerakkan perusahaan (people) tidak hanya mengejar keuntungan (profit), tapi juga menjaga kelestarian alam (planet).
Ekonomi itu penting, namun ia hanya bagian dari sub sistem pembangunan manusia dan lingkungannya. Terlalu menumpukan ekonomi, misalnya, manusia menerabas dan merusak alam sekitarnya.“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)(QS. ar-Rum : 41).
Al-Quran telah menetapkan pentingnya membangun keselarasan unsur-unsur tersebut dengan menambahkan satu unsur maha penting: berserah diri pada Allah dengan doa (praying).
Ketika menghadapi masalah, Quran memberikan panduan untuk memaksimalkan usaha yang dibarengi dengan doa. “Mintalah pertolongan dengan sabar dan shalat” (QS. Al-Baqarah: 45). Sabar mengindikasikan kualitas diri yang tidak mengenal menyerah dan selalu berusaha, meskipun hasilnya mungkin belum seperti yang diharapkan. Lalu bagaimana dengan shalat? Shalat arti harfiahnya adalah berdoa. Doa adalah senjatanya orang beriman.
Saya ingin berbagi kisah nyata tentang bagaimana sabar dan shalat menyelesaikan masalah seseorang. Sebut saja Pak Sulaiman. Ia adalah pensiunan PNS. Umur kira-kira menjelang kepala tujuh. Beliau tidak didik dalam lingkungan agama yang kuat. Namun, Allah berkenan memberi hidayah sehingga ia bisa membaca al-Quran dan mendalaminya sedikit demi sedikit. Hal pertama yang beliau ketahui adalah shalat. “Shalat itu tiang agama. Itu yang pertama saya dengar. Artinya kalau tiang sudah kita dirikan, kita jaga dan rawat, rumah akan berdiri. Sebaliknya, bila shalat sering diabaikan, rumah bisa rubuh. Alhamdulillah, semenjak saya serius mengenal shalat, saya tidak meninggalkan shalat malam hingga saat ini,” tuturnya.
Suatu ketika istrinya sakit. Gejalanya bila buang air besar disertai keluarnya darah. Dibawa berobat dan opname di salah satu rumah sakit ternama. Setelah hampir dua bulan, penyakit istrinya belum kunjung sembuh. Istrinya pun meminta agar bisa pulang dirawat di rumah saja. Pak Sulaiman bersabar dengan berbagai cara dan ikhtiar. Tidak lupa ia terus berdoa. “Suatu ketika, saat hendak melakukan shalat sunnah sebelum shalat Jumat, saya seperti mendengar bisikan obat untuk istri saya. Tapi saya tidak percaya. Karena itu saya berdoa mudah-mudahan Allah berkenan menunjukkan jalannya. Yang saya rasakan, saat berdoa itu, tangan saya yang sebelah kanan seperti ada yang menggerakkan dan menggoreskan semacam tulisan di tangan kiri membentuk tulisan ‘ya’. Saya tidak ragu lagi dan alhamdulillah, setelah petunjuk saya tunaikan dan akhirnya ditelan sebagai obat, istri saya pun sembuh total. Alhamdulillah,” katanya.
Shalat dan PDB
Sebegitu kuatkah pengaruh shalat? Mari simak satu saja bagian dari shalat yang mungkin sering terlupakan: doa di antara dua sujud. Doa tersebut kira-kira begini Rabbighfirlii (Tuhanku ampuni aku), warhamnii (sayangi aku), wajburnii (tutuplah aib-aibku), warfa’nii (angkatlah derajatku), warzuqnii (beri aku kelapangan rezeki), wahdinii (berilah aku petunjuk), wa’aafinii (sehatkanlah aku), wa’fu’annii (maafkanlah diriku).
Kalau kita simak sekali lagi doa di atas, paling tidak mimpi para capres kita untuk membawa kesejahteraan sudah diwakili oleh tiga permintaan: Angkatlah derajatku (dengan pendidikan), berikanlah kelapangan rezeki, dan kesehatan. Dengan kata lain, para capres kita baru menyentuh tiga hal dari delapan kualitas yang diharapkan bisa diberikan Allah kepada manusia. Sementara lima hal yang lain tidak (atau belum?) dibidik para capres itu –permohonan diampuni, disayangi, ditutup aib, diberikan petunjuk, serta dimaafkan dari kesalahan).
Padahal, kalau mau jujur, lima permintaan sisanya–meminjam bahasa Kennedy—justru membuat hidup manusia lebih bermakna. Coba simak beberapa renungan sederhana berikut. Kenapa banyak orang di negara maju yang bunuh diri? Mungkin mereka kesepian, tidak merasa disayangi. Atau mungkin merasa penuh beban hidup tapi tidak mendapatkan petunjuk jalan keluar dari masalahnya. Atau mungkin merasakan kepengapan hati karena trauma kesalahan atau dosa masa lalu yang tak mampu ia hapus. Atau karena ia menyimpan aib yang terbuka sehingga tak kuat menanggung malu. Pendeknya, semua persoalan ini bermuara kepada sempitnya hati.
Para peneliti dibuat pusing oleh kenyataan bahwa kebanyakan korban bunuh diri bukan berasal dari negara miskin, sebaliknya justru negara maju dan kaya.Tahun 2011, misalnya, AS sebagai salah satu negara maju, berada diperingkat ke-39 negara yang paling banyak warganya bunuh diri. Majalah Newsweek bahkan pernah menurunkan laporan utama yang menghebohkan: The Suicide Epidemic: Why are we killing ourselves? Kesimpulan mereka, bunuh diri itu tidak ada kaitannya dengan persoalan ekonomi yang bisa diselesaikan dengan membuka lapangan kerja.Tapi lebih dikarenakan persoalan depresi klinis yang tak tertanggulangi.
Di sinilah uniknya, shalat tidak hanya memohonkan kelapangan harta. Tapi, tidak bisa dibantah, jauh lebih penting dari itu adalah kelapangan hati. Pendekatan PDB atau pertumbuhan ekonomi, tidak pernah melihat fenomena ini. Semakin pertumbuhan ekonomi yang dijadikan ukuran, semakin tertinggal urusan hati, semakin banyak mereka yang depresi dan stres.
Rasanya kritik Kennedy agar para pemimpin menyadari pentingnya memperhatikan apa yang membuat hidup lebih bermakna sangat mengena. Sungguh sulit dimengerti kalau ada pihak yang justru terpanggil untuk menyingkirkan kolom agama dari identitas warganegara. Kalau agama disingkirkan, nilai apa lagi yang diandalkan mengobati penyakit hati rakyatnya?






.jpg)










