• Redaksi
  • Iklan
  • Majalah Digital
  • Kontak Kami
Sabtu, Juni 20, 2026
  • Login
Stabilitas
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Eksmud
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Interview
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Eksmud
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Interview
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
Stabilitas
No Result
View All Result
Home Kolom

Pesan Kennedy Untuk Capres

oleh Sandy Romualdus
22 Juli 2014 - 00:00
9
Dilihat
Ekonomi Ibrahim
0
Bagikan
9
Dilihat

BERITA TERKAIT

Sasar Komunitas Muda Blok M, CIMB Niaga Tebar Cashback 50% di ‘Ada OCTO Land’

BNI Dukung Penanganan Stunting di Pangalengan Lewat Program Desa Sehat

Andalkan AI dan Platform Elevate, SIG Rombak Total Sistem Manajemen Performa

Strategi Menkeu Purbaya Jinakkan Rupiah Lewat Kerja Sama Kupon Dagang China

Menyaksikan Debat Capres beberapa waktu lalu, terkait visi mereka dalam ekonomi, menyisakan banyak renungan. Salah satu calon menjanjikan kecukupan sandang, pangan, dan papan dengan menutup kebocoran. Calon lain menawarkan pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan. Kedua calon mengasumsikan bila ada peningkatan pertumbuhan ekonomi yang tinggi, “semua bisa dipenuhi”. Dengan kata lain, pertumbuhan ekonomi diandalkan sebagai lokomotif utama menarik gerbong kesejahteraan.
Kira-kira 48 tahun silam, John F Kennedy, saat mencalonkan diri sebagai Presiden AS, justru berkata sebaliknya. Kennedy mengkritik apa yang menjadi panduan dan keyakinan para ekonom itu. Karena ia menilai banyak hal yang dilepaskan dari perhitungan PDB. “…PDB (pertumbuhan ekonomi) tidak mencakup keindahan puisi kita atau keharmonisan pernikahan kita, kecerdasan perdebatan publik kita atau integritas pejabat negara kita. PDB tidak mengukur keberanian kita, atau kebijaksanaan kita, atau bakti kita kepada negara. Pendeknya, PDB mengukur segala hal, kecuali yang membuat hidup kita berarti,”tandasnya dalam sebuah pidatonya yang ditulis kembali dalam Principles of Economics karangan Mankiw et al.
Sentilan Kennedy itu mengingatkan, pertumbuhan ekonomi, bukan segala-galanya. Ada banyak aspek lain, yang tidak dihitung dalam PDB. Kennedy mencontohkan kebahagiaan dan makna hidup, yang tercermin dalam “keharmonisan pernikahan” salah satu yang tidak dihitung dalam PDB. Banyak negara yang sibuk mengejar impian kenaikan PDB, melupakan pembangunan aspek kejiwaan manusianya.
Di masanya, tingkat perceraian di AS seperti yang ditulis dalam buku Recent Social Trends in the United States 1960-1990, berkurang. Bila pada 1945 mencapai 14,4 per 1.000 wanita yang menikah usia di atas 15 tahun, pada 1960 turun menjadi 9,2 atau titik paling rendah. Bisa dibayangkan kenapa Kennedy bangga menyebut pernikahan yang harmonis sebagai prestasi yang tidak bisa disepelekan begitu saja dibanding capaian ekonomi. Karena setelah era 60-an itu, tingkat perceraian di AS terus meningkat bahkan dua hingga tiga kali lipat. Ini mengindikasikan betapa meskipun mereka memiliki daya beli, namun banyak persoalan yang potensial melilit dan berakibat hilangnya kebahagiaan.
Praying
Dalam perspektif Quranomics, meletakkan ekonomi sebagai prioritas utama memecahkan masalah, kurang tepat, untuk tidak mengatakan keliru. Jauh sebelum Peter Fisk menulis buku People, Planet, Profit yang menandaskan bahwa pertumbuhan yang berkelanjutan akan terjadi bila manusia yang menggerakkan perusahaan (people) tidak hanya mengejar keuntungan (profit), tapi juga menjaga kelestarian alam (planet).
Ekonomi itu penting, namun ia hanya bagian dari sub sistem pembangunan manusia dan lingkungannya. Terlalu menumpukan ekonomi, misalnya, manusia menerabas dan merusak alam sekitarnya.“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)(QS. ar-Rum : 41).
Al-Quran telah menetapkan pentingnya membangun keselarasan unsur-unsur tersebut dengan menambahkan satu unsur maha penting: berserah diri pada Allah dengan doa (praying).
Ketika menghadapi masalah, Quran memberikan panduan untuk memaksimalkan usaha yang dibarengi dengan doa. “Mintalah pertolongan dengan sabar dan shalat” (QS. Al-Baqarah: 45). Sabar mengindikasikan kualitas diri yang tidak mengenal menyerah dan selalu berusaha, meskipun hasilnya mungkin belum seperti yang diharapkan. Lalu bagaimana dengan shalat? Shalat arti harfiahnya adalah berdoa. Doa adalah senjatanya orang beriman.
Saya ingin berbagi kisah nyata tentang bagaimana sabar dan shalat menyelesaikan masalah seseorang. Sebut saja Pak Sulaiman. Ia adalah pensiunan PNS. Umur kira-kira menjelang kepala tujuh. Beliau tidak didik dalam lingkungan agama yang kuat. Namun, Allah berkenan memberi hidayah sehingga ia bisa membaca al-Quran dan mendalaminya sedikit demi sedikit. Hal pertama yang beliau ketahui adalah shalat. “Shalat itu tiang agama. Itu yang pertama saya dengar. Artinya kalau tiang sudah kita dirikan, kita jaga dan rawat, rumah akan berdiri. Sebaliknya, bila shalat sering diabaikan, rumah bisa rubuh. Alhamdulillah, semenjak saya serius mengenal shalat, saya tidak meninggalkan shalat malam hingga saat ini,” tuturnya.
Suatu ketika istrinya sakit. Gejalanya bila buang air besar disertai keluarnya darah. Dibawa berobat dan opname di salah satu rumah sakit ternama. Setelah hampir dua bulan, penyakit istrinya belum kunjung sembuh. Istrinya pun meminta agar bisa pulang dirawat di rumah saja. Pak Sulaiman bersabar dengan berbagai cara dan ikhtiar. Tidak lupa ia terus berdoa. “Suatu ketika, saat hendak melakukan shalat sunnah sebelum shalat Jumat, saya seperti mendengar bisikan obat untuk istri saya. Tapi saya tidak percaya. Karena itu saya berdoa mudah-mudahan Allah berkenan menunjukkan jalannya. Yang saya rasakan, saat berdoa itu, tangan saya yang sebelah kanan seperti ada yang menggerakkan dan menggoreskan semacam tulisan di tangan kiri membentuk tulisan ‘ya’. Saya tidak ragu lagi dan alhamdulillah, setelah petunjuk saya tunaikan dan akhirnya ditelan sebagai obat, istri saya pun sembuh total. Alhamdulillah,” katanya.
Shalat dan PDB
Sebegitu kuatkah pengaruh shalat? Mari simak satu saja bagian dari shalat yang mungkin sering terlupakan: doa di antara dua sujud. Doa tersebut kira-kira begini Rabbighfirlii (Tuhanku ampuni aku), warhamnii (sayangi aku), wajburnii (tutuplah aib-aibku), warfa’nii (angkatlah derajatku), warzuqnii (beri aku kelapangan rezeki), wahdinii (berilah aku petunjuk), wa’aafinii (sehatkanlah aku), wa’fu’annii (maafkanlah diriku).
Kalau kita simak sekali lagi doa di atas, paling tidak mimpi para capres kita untuk membawa kesejahteraan sudah diwakili oleh tiga permintaan: Angkatlah derajatku (dengan pendidikan), berikanlah kelapangan rezeki, dan kesehatan. Dengan kata lain, para capres kita baru menyentuh tiga hal dari delapan kualitas yang diharapkan bisa diberikan Allah kepada manusia. Sementara lima hal yang lain tidak (atau belum?) dibidik para capres itu –permohonan diampuni, disayangi, ditutup aib, diberikan petunjuk, serta dimaafkan dari kesalahan).
Padahal, kalau mau jujur, lima permintaan sisanya–meminjam bahasa Kennedy—justru membuat hidup manusia lebih bermakna. Coba simak beberapa renungan sederhana berikut. Kenapa banyak orang di negara maju yang bunuh diri? Mungkin mereka kesepian, tidak merasa disayangi. Atau mungkin merasa penuh beban hidup tapi tidak mendapatkan petunjuk jalan keluar dari masalahnya. Atau mungkin merasakan kepengapan hati karena trauma kesalahan atau dosa masa lalu yang tak mampu ia hapus. Atau karena ia menyimpan aib yang terbuka sehingga tak kuat menanggung malu. Pendeknya, semua persoalan ini bermuara kepada sempitnya hati.
Para peneliti dibuat pusing oleh kenyataan bahwa kebanyakan korban bunuh diri bukan berasal dari negara miskin, sebaliknya justru negara maju dan kaya.Tahun 2011, misalnya, AS sebagai salah satu negara maju, berada diperingkat ke-39 negara yang paling banyak warganya bunuh diri. Majalah Newsweek bahkan pernah menurunkan laporan utama yang menghebohkan: The Suicide Epidemic: Why are we killing ourselves? Kesimpulan mereka, bunuh diri itu tidak ada kaitannya dengan persoalan ekonomi yang bisa diselesaikan dengan membuka lapangan kerja.Tapi lebih dikarenakan persoalan depresi klinis yang tak tertanggulangi.
Di sinilah uniknya, shalat tidak hanya memohonkan kelapangan harta. Tapi, tidak bisa dibantah, jauh lebih penting dari itu adalah kelapangan hati. Pendekatan PDB atau pertumbuhan ekonomi, tidak pernah melihat fenomena ini. Semakin pertumbuhan ekonomi yang dijadikan ukuran, semakin tertinggal urusan hati, semakin banyak mereka yang depresi dan stres.
Rasanya kritik Kennedy agar para pemimpin menyadari pentingnya memperhatikan apa yang membuat hidup lebih bermakna sangat mengena. Sungguh sulit dimengerti kalau ada pihak yang justru terpanggil untuk menyingkirkan kolom agama dari identitas warganegara. Kalau agama disingkirkan, nilai apa lagi yang diandalkan mengobati penyakit hati rakyatnya?

 
 
 
 
 
Sebelumnya

Menuntaskan RUU Jaminan Produk Halal

Selanjutnya

Pengelolaan Inflasi di Indonesia

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BACA JUGA

Related Posts

TakafulTech: Membawa Asuransi Syariah Keluar dari Zona Nyaman

TakafulTech: Membawa Asuransi Syariah Keluar dari Zona Nyaman

oleh Sandy Romualdus
18 Juni 2026 - 10:09

Oleh : Dimyauddin, Peneliti LPPI Bayangkan ada seorang petani peserta asuransi syariah di Nusa Tenggara yang gagal panen karena kekeringan...

Penurunan Mendalam Pasar Saham Indonesia 18 Maret 2025

Penurunan Mendalam Pasar Saham Indonesia 18 Maret 2025

oleh Sandy Romualdus
21 Maret 2025 - 09:16

Oleh : Dr. Katarina Setiawan, Chief Economist & Investment Strategist PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) Tanggal 18 Maret 2025 pasar...

Serangan Hacker terhadap Pusat Data Nasional: Sebuah Renungan Bernegara

Serangan Hacker terhadap Pusat Data Nasional: Sebuah Renungan Bernegara

oleh Stella Gracia
26 Juni 2024 - 15:05

Oleh Achmad Nur Hidayat, Pakar Kebijakan Publik dan Ekonom UPN Veteran Jakarta Baru-baru ini, Indonesia dikejutkan oleh serangan siber besar-besaran...

Praktik Sustainable: Harapan Besar pada Bank

Praktik Sustainable: Harapan Besar pada Bank

oleh Sandy Romualdus
21 September 2023 - 16:34

Oleh Ahmed Zulfikar, Relationship Manager LPPI SAAT ini isu perubahan iklim telah menjadi topik hangat yang hampir selalu dibahas dalam...

Strategi Penerapan Keamanan Siber di Perbankan

Strategi Penerapan Keamanan Siber di Perbankan

oleh Sandy Romualdus
11 Agustus 2023 - 12:32

Oleh : Novita Yuniarti, Assistant Programmer LPPI SERANGAN siber memiliki dampak yang serius dan menjadi isu kritis dalam digitalisasi keuangan...

Kilas Balik Pandemi COVID-19: Strategi Cermat India yang Terhambat Sistem Pasar Obat-Obatan Dunia

Kilas Balik Pandemi COVID-19: Strategi Cermat India yang Terhambat Sistem Pasar Obat-Obatan Dunia

oleh Sandy Romualdus
3 Juni 2023 - 20:20

Oleh : Baiq Shafira Salsabila, Diospyros Pieter Raphael Suitela, Muhammad Faiz Ramadhan * INDIA adalah salah satu negara berkembang dengan industri farmasi terbesar...

E-MAGAZINE

TERPOPULER

  • Manjakan Investor Ritel, BBCA Berencana Bagikan Dividen Interim Setiap Kuartal

    Tekanan Rebalancing MSCI Mereda, Saham BCA (BBCA) Siap Rebound ke Level Rp6.000

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Keras Dan Menghantam

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menyiapkan Talenta Hijau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Danamon-Manulife Indonesia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Freeport Indonesia Setor Rp4,8 Triliun ke Pemda Papua, Total Kontribusi Negara Tembus Rp75 T

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Plus Minus Perdagangan Karbon

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gebrakan Ekonomi Desa, Presiden Prabowo Resmikan Operasional 1.061 Koperasi Merah Putih

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
 

Terbaru

Sasar Komunitas Muda Blok M, CIMB Niaga Tebar Cashback 50% di ‘Ada OCTO Land’

BNI Dukung Penanganan Stunting di Pangalengan Lewat Program Desa Sehat

Andalkan AI dan Platform Elevate, SIG Rombak Total Sistem Manajemen Performa

Strategi Menkeu Purbaya Jinakkan Rupiah Lewat Kerja Sama Kupon Dagang China

Kedok IPO Fiktif & Jasa Pelunasan Pinjol Dibongkar, Satgas PASTI Sikat Dua Entitas Ini

Perkuat Beyond Mortgage, BTN (BBTN) Gandeng Pemprov DKI dan Kementerian UMKM

Jaga Stabilitas PVML, OJK Longgarkan Aturan Modal Asing & Batasi Pemain Paylater

Resmi! Satgas PASTI Terbitkan SP 10, Tindak KOL Pempromosi Aset Digital Bodong

Laba Bank BSN Mengalir Deras, Tercatat Melampaui 40%

STABILITAS CHANNEL

 
Selanjutnya
Semester I, Laba BCA Tumbuh 24,2 Persen

Semester I, Laba BCA Tumbuh 24,2 Persen

  • Advertorial
  • Berita Foto
  • BUMN
  • Bursa
  • Ekonomi
  • Eksmud
  • Figur
  • Info Otoritas
  • Internasional
  • Interview
  • Keuangan
  • Kolom
  • Laporan Utama
  • Liputan Khusus
  • Manajemen Resiko
  • Perbankan
  • Portofolio
  • Resensi Buku
  • Riset
  • Sektor Riil
  • Seremonial
  • Syariah
  • Teknologi
  • Travel & Resto
  • UKM
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pesan Majalah
  • Kontak Kami
logo-footer

Copyright © 2021 – Stabilitas

Find and Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Eksmud
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Interview
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata

Copyright © 2021 Stabilitas - Governance, Risk Management & Compliance