Ekspor ditetapkan akan meningkat tahun ini meski kondisi perekonomian dunia belum mendukung. Hal ini membuat pengamat memperkirakan bahwa target tersebut sulit tercapai.
Oleh : Romualdus San Udika
BERITA TERKAIT
Target dibuat untuk memberikan arah yang jelas dan juga untuk memudahkan kita dalam mencapai tujuan. Namun yang terpenting, sebuah target haruslah realistis dan bisa dicapai. Begitu yang sering tertulis dalam buku-buku motivasi ataupun manajemen. Dan ketika pemerintah menetapkan target ekspor untuk tahun ini, pastilah sudah mengacu pada hal-hal itu.
Awal tahun ini, pemerintah menargetkan ekspor sebesar 230 miliar dollar AS, lebih besar 15 persen dari target tahun lalu sebesar 200 miliar dollar AS. Berdasarkan data terakhir Badan Pusat Statistik (BPS), hingga November 2011 ekspor mencapai 186 miliar dollar AS. Tampaknya tak sulit mencapai target ekspor 2011 yang sebesar 200 miliar dollar AS, melihat tren beberapa bulan belakangan angka ekspor mencapai 16 miliar dollar AS tiap bulan.
Tapi apakah hal yang sama bisa terjadi tahun ini mengingat hampir seluruh negara di dunia masih harap-harap cemas akan kemungkinan meledaknya krisis di kawasan Eropa. Saat ini saja kecenderungan menurunnya permintaan barang-barang dari kawasan Eropa sudah mulai terlihat.
Hal itu dirasakan oleh China yang mendominasi ekspor ke kawasan tersebut. Pada awal triwulan terakhir tahun lalu, laju ekspor China melambat dan tercatat sebagai pelambatan terbesar dalam dua tahun terakhir karena menyusutnya permintaan dari Eropa.
Ekspor China hanya naik 15,9 persen dari tahun sebelumnya dengan surplus perdagangan 17 miliar dollar AS. Padahal survei Bloomberg terhadap 24 ekonom menyatakan bahwa kenaikan ekspor pada periode itu bisa mencapai 28,7 persen.
Sejatinya pemerintah sendiri tidak yakin 100 persen bahwa target ekspor tahun ini akan tercapai. Meski ekspor tahun 2011 diperkirakan akan melampaui target, namun tahun ini sederet aral dan rintangan yang ada tampaknya akan mengganjal target tersebut. Selain ancaman krisis Eropa, yang bisa mengganjal kinerja ekspor adalah menurunnya rasio ekspor terhadap Kegagalanpertumbuhan ekonomi alias Gross Domestic Product (GDP).
“Rasio ekspor terhadap GDP kita menurun. (Tapi) Positifnya, kalau terjadi guncangan global maka ekspor tidak terlalu berpengaruh. Kita cukup kembangkan pasar domestik,” kata Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Hatta Rajasa. Tahun lalu, rasio ekspor berada di level 24 persen, turun dibanding setahun sebelumnya yang masih 28 persen.
Meski begitu, tidak mungkin pemerintah alpa membuat rencana untuk menggapai target tersebut. Dan untuk mencapainya pemerintah dengan terang-terangan akan menjalankan strategi diversifikasi, baik negara tujuan maupun produk ekspor.
Sementara ini, negara tujuan ekspor terbesar Indonesia adalah China 13,1 persen, Jepang 11,4 persen, Amerika Serikat 9,7 persen, India 8,3 persen, dan Singapura 7,1 persen. Dengan porsi ekspor tersebut, sejatinya krisis Eropa tidak terlalu berpengaruh kepada ekspor Indonesia. Namun, jika negara yang termasuk second round, seperti China dan Singapura terkena imbas yang cukup besar, maka Indonesia tentu akan mendapat efek dominonya.
Oleh karena itu Kementerian Perdagangan akan menggiatkan ekspor ke pasar-pasar non tradisional seperti di negara-negara Afrika dan Timur Tengah. “Total ekspor Indonesia ke negara nontradisional (diharapkan) meningkat 25 persen tahun 2012,” ujar Menteri Perdagangan Gita Wirjawan, yang menggantikan Mari E Pangestu.
Di sisi lain, penerapan penganekaragaman produk ekspor sebenarnya sudah dilakukan sejak Mari E Pangestu masih memimpin Kementerian Perdagangan. Selain komoditas unggulan, pemerintah menetapkan beberapa lagi yang berasal dari komoditas nonmigas, di antaranya tekstil dan produk tekstil (TPT), alas kaki, otomotif, kertas, kelapa sawit (CPO) dan produk turunannya, kakao olahan dan biji kakao serta kopi.
Dengan jurus klasik itu, pemerintah percaya diri bisa mencapai target ekspor 230 miliar dollar AS tahun ini. Bahkan Deputi Bidang Ekonomi Bappenas Prasetijono Widjojo menyebutkan bahwa target ekspor 2012 sudah memperhitungkan efek penurunan ekonomi global lanjutan (second round effect).
Terlalu Muluk
Optimisme pemerintah dinilai terlalu tinggi dan akan sulit tercapai apalagi jika perlambatan ekonomi yang dipicu krisis ekonomi di Eropa dan Amerika Serikat terus terjadi di tahun ini. Hal itu diungkapkan oleh Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sofjan Wanandi.
“Angka realistis untuk target ekspor tahun 2012 adalah 210 miliar dollar AS. Mengingat tahun ini akan terjadi fluktuasi kinerja ekspor karena dampak krisis, apalagi harga komoditas juga turun,” kata Sofjan.
Diversifikasi tujuan ekspor yang diharapkan menjadi pendorong kinerja ekspor juga dinilai belum tentu dapat membantu pencapaian target yang ditetapkan pemerintah. Pasalnya, Indonesia akan menghadapi persaingan ketat dengan negara-negara yang sebelumnya menguasai pasar tersebut. “Alasan diversifikasi tidak segampang itu, karena kita harus menghadapi negara-negara yang kuasai pasar yang menjadi tujuan pemerintah,” ujar Sofjan.
Pesimisme yang sama juga dikatakan oleh ekonom Institute of Development of Economic dan Finance (Indef), M Fadhil Hasan. Dia menilai target ekspor tahun 2012 yang ditetapkan sebesar 230 miliar dollar AS tidak sesuai dengan asumsi perekonomian global yang sekarang terjadi.
Jika melihat penurunan kinerja ekspor tiga bulan terakhir 2011 seharusnya pemerintah sadar bahwa permintaan di negara lain memang sedang menurun dan hal itu erat kaitannya dengan krisis yang terjadi di Eropa dan AS.
“Dengan asumsi perekonomian yang sekarang terjadi mungkin akan mudah untuk mencapai (target). Tetapi kalau sekarang ini justru krisis malah menguat dan diperkirakan pemulihannya berlangsung lama, tareget ekspor belum bisa tercapai,” ujar Fadhil.
Menurut dia, dampak dari perlambatan ekonomi terhadap ekspor terdiri dua jalur, yakni langsung dan tidak langsung. Dampak langsung adalah permintaan ekspor menurun. Yang tidak langsung ketika misalnya China, Jepang dan negara-negara partner dagang AS dan Eropa permintaannya menurun, maka permintaan dari China dan negara Asia lain terhadap Indonesia juga menurun.
Daya Saing
Soal strategi diversifikasi ekspor guna mencari pangsa ekspor baru yang giat dilakukan pemerintah, Fadhil mengatakan bahwa hasilnya belum akan terlihat dalam waktu dekat. Selain itu, langkah diversifikasi tujuan ekspor juga tidak bisa menggantikan pasar tradisional yang sudah ada. “Pada umumnya permintaan di negara tujuan ekspor baru tidak sekuat permintaan dan sebesar negara yang mengalami perlambatan ekonomi,” sambung Fadhil.
Maka dari itu, selain diversifikasi pasar ekspor, yang perlu dilakukan untuk mendorong kinerja ekspor adalah peningkatan daya saing. Diversifikasi produk bisa dilakukan dengan mengekspor produk yang negara lain tidak bisa memproduksi. “Kita kuatnya selama ini produk berbasis sumber daya alam dan manufaktur. Produk-produk alas kaki daya saingnya cukup kuat, juga elektronik. Sementara produk-produk lain harus ditingkatkan,” ungkap Fadhil Hasan.
Namun demikian peningkatan daya saing produk Indonesia menjadi tugas yang sangat berat bagi pemerintah, mengingat sementara ini peringkat daya saing Indonesia turun dari urutan 44 pada 2010 menjadi 46 tahun ini, dari 142 negara. Hal itu seperti yang dilansir dalam The Global Competitiveness Report 2011-2012 yang dikeluarkan World Economic Forum, belum lama ini.
Hanya saja, untuk meningkatkan daya saing, lagi-lagi Indonesia akan terganjal karena kondisi infrastruktur nasional yang belum memadai. Dan pekerjaan meningkatkan sarana dan prasarana ekonomi tidak mudah dilakukan karena birokrasi yang berbelit.
Jadi apakah target ekspor bisa tercapai? Mudah-mudahan saja pemerintah tidak sedang menyiapkan kegagalan. SP

















