Perekonomian Indonesia diperkirakan akan memasuki kondisi overheating tahun ini. Namun demikian masih besarnya potensi pasar dalam negeri dan juga belum optimalnya sector infrastruktur membuat prediksi itu tidak terlalu dikhawatirkan.
Oleh : Romualdus San Udika
BERITA TERKAIT
Di saat perekonomian Indonesia dinilai akan tetap tumbuh meski di tengah kekhawatiran krisis dunia, muncul ancaman baru: overheating. Ekonomi Indonesia terancam “kepanasan” tahun ini. Dalam teori ekonomi, kondisi itu terjadi ketika kapasitas produksi tidak lagi mampu meladeni peningkatan permintaan.
Dan orang yang mengemukakan hal itu adalah Taimur Baig, Kepala Ekonom Global dari Deutsche Bank. Kendati mengakui kondisi Indonesia tetap aman saat perekonomian dunia masih bergejolak, Taimur mengingatkan adanya risiko overheating yang muncul di tengah momentum pertumbuhan yang tinggi tersebut. “Risiko utama di Indonesia pada 2012, tidak seperti negara lain yang melambat, adalah overheating,” tukas Taimur.
Meski demikian Taimur bukanlah yang pertama memprediksi Indonesia akan mengalami overheating dalam perekonomian. Dalam edisi akhir Juni tahun lalu, Majalah The Economist memaparkan risetnya bahwa beberapa negara yang pasarnya berkembang sedang menuju ke arah overheat. Dan salah satunya adalah Indonesia.
Dalam risetnya majalah tersebut menggunakan enam indikator yaitu inflasi, pertumbuhan PDB, tingkat pengangguran, suku bunga, pertumbuhan kredit dan neraca transaksi berjalan. Skor dari semua indikator itu kemudian dijumlahkan untuk menghasilkan indeks secara keseluruhan, 100 berarti bahwa perekonomian memang tengah “panas” di semua enam indikator.
Salah satu kesimpulannya adalah bahwa pertumbuhan Indonesia, bersama Argentina, Brasil dan India dan Indonesia, telah melampaui tren jangka panjangnya. Meski demikian di sisi inflasi Indonesia dinilai aman.
Namun secara keseluruhan, The Economist menyebut bahwa Indonesia termasuk negara yang sebagian besar indikator sudah masuk wilayah overheating bersama Argentina, Brasil, Hong Kong, India, Turki dan Vietnam.
Sementara itu, tahun ini dinilai sebagai tahun krusial bagi perekonomian Indonesia, apakah mesin ekonominya mengalami kepanasan atau tidak. Setidaknya itu yang dikatakan oleh Taimur Baig. “Overheating bisa saja terjadi akibat ekspektasi yang terlalu tinggi terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Sentimen terhadap ekonomi Indonesia memang sangat baik yang bisa memicu meningkatnya investasi,” jelas dia.
Gejala-gejala yang dilihatnya bisa menyebabkan kondisi overheat bagi ekonomi Indonesia antara lain peningkatan permintaan impor, terjadinya bubble sektor properti, dan bertambahnya kredit melampaui target bank sentral sebesar 25 persen.
Permintaan impor saat ini cenderung meningkat sejalan dengan tingginya pertumbuhan ekonomi Indonesia. Menurut data Badan Pusat Statistik nilai impor produk tertentu sepanjang tahun lalu meningkat 31,38 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. “Peningkatan permintaan impor, seiring dengan meningkatkan nilai tukar rupiah,” kata Taimur.
Di sisi lain, harga properti nasional juga akan melambung akibat tumbuhnya permintaan sektor konsumsi. Kecenderungan ini mengikuti apa yang sudah terjadi di sejumlah negara Asia. Di China sektor ini melonjak hingga 30 persen. “Keadaan yang sama juga sangat mungkin terjadi di Indonesia,” ujar Taimur. “Permintaan properti di Indonesia semakin tinggi karena profil demografi kalangan muda dengan hasrat konsumsi tinggi.”
Kondisi tersebut tidak bisa dipisahkan dengan tingginya kecenderungan konsumsi yang akhirnya berdampak pada peningkatan permintaan kredit. Tahun ini Bank Indonesia menetapkan target pertumbuhan kredit 25 persen. Jika target ini terlampaui, ujar Taimur sangat mungkin akan terjadi overheating di Indonesia. “Kredit sampai tumbuh 30 persen saja, bank akan kesulitan melakukan koleksi akibat kemungkinan tingginya kredit macet.”
Lantas kapan tepatnya Indonesia akan overheating? Taimur mengaku tak bisa memprediksi waktu yang tepat. Namun, yang perlu diperhatikan adalah pertumbuhan kredit yang tidak boleh melampaui dua kali lipat pertumbuhan sektor swasta, artinya untuk saat ini tidak lebih dari 23-24 persen.
“Saya mengerti rasio kredit terhadap PDB rendah karenanya Indonesia butuh penyaluran kredit yang booming untuk mengejar rasio tersebut. Saya setuju dengan itu dan BI pun menyatakan hal itu. Tapi seberapa cepat? Akan sulit manajemen risiko perbankan jika pertumbuhan terlalu pesat,” tukas Taimor.
Masih Kokoh
Kondisi ekonomi Indonesia sejauh ini memang masih bisa meredam dampak dari gejolak yang terjadi di perekonomian Eropa dan Amerika Serikat. Pertumbuhan ekonomi pada kuartal terakhir tahun lalu yang mencapai 6,5 persen, capaian pertumbuhan ekonomi tertinggi di kawasan ASEAN. Di lain sisi, inflasi 2011 juga tercatat rendah, yakni 3,79 persen.
Maka dari itu, Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa menolak prediksi yang mengatakan bahwa ekonomi akan mengalami overheating tahun ini. “Saya tidak melihat gejala itu, karena overheating itu kalau sektor kita tidak tumbuh,” kata Hatta. Berdasarkan data pemerintah, industri manufaktur masih tumbuh 6,7 persen.
Dengan begitu tahun ini Hatta optimistis pertumbuhan akan terjadi seiring dengan meningkatnya investasi. Selain investasi di sektor industri manufaktur berbasis sumberdaya yang akan semakin meningkat, pemerintah memperkirakan akan banyak investasi yang masuk di sektor infrastruktur pada tahun ini. “Ini seiring dengan tax allowance dan tax holiday yang dirilis pemerintah, diterima dengan baik oleh pengusaha” ujar Hatta.
Dengan bukti-bukti tersebut, Hatta menegaskan bahwa analisis sejumlah pengamat yang menyatakan terjadi deindustrilasisasi ternyata tidak terbukti karena masih besarnya pasar dalam negeri.
Senada dengan itu, pengamat ekonomi Aviliani juga menilai tak ada risiko overheating pada perekonomian Indonesia di tahun ini. Menurut dia, ekonomi Indonesia masih akan tumbuh, apalagi tak seperti India dan China, di Indonesia belum ada investasi besar-besaran di infrastruktur. “Lambatnya pertumbuhan infrastruktur dan basis sumber daya alam yang besar menyebabkan Indonesia sebagai negara berkembang yang belum overheating,” tutur Aviliani.
Berdasarkan kajian IMF pertengahan tahun 2011 silam, China dan India dilaporkan sudah mengalami overheating dalam perekonomiannya. Menurut ekonom Indef ini, overheating yang terjadi di China disebabkan karena pemerintah Negara Tirai Bambu itu sudah menarik pajak yang tinggi untuk aliran modal masuk (capital inflow). Hal ini dilakukan karena cadangan devisanya telah mencapai 2,7 triliun dollar AS, kala itu.
Oleh karena penetapan pajak tersebut, maka terjadi capital outflow dari China, yang kemudian menjadikan Indonesia salah satu negara tujuan. Sementara di India, pada periode yang sama ada gejolak inflasi yang angkanya sudah sampai 8,89 persen.
“Dengan kondisi ekonomi nasional yang kondusif saat ini, pasar modal harus bersiap untuk menerima aliran dana asing yang akan banyak masuk ke depannya. Ini juga dipengaruhi oleh Amerika Serikat dan Eropa yang tidak mengalami proses pemulihan secepat yang diperkirakan, sehingga menambah derasnya aliran modal masuk ke Indonesia,” kata dia lagi.
Hal itulah yang menurut Aviliani akan menyebabkan nilai tukar rupiah menguat dalam empat tahun ke depan selain juga disebabkan lamanya waktu pemulihan negara-negara tersebut. “Dengan demikian, kalaupun terjadi lonjakan inflasi tahun ini, hal itu bukan karena kebijakan moneter, atau uang beredar, tapi karena distribusi.”
Maka dari itu sudah seharusnya pemerintah memperkuat sektor infrastruktur agar jalur distribusi di dalam negeri tidak mengganggu permintaan konsumsi masyarakat yang tinggi sebagai akibat dari aktivitas investasi yang juga semakin meningkat. SP

















