• Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
Senin, Oktober 19, 2026
  • Login
Stabilitas
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
Stabilitas
No Result
View All Result
 
Home Ekonomi

Mempersiapkan Kegagalan

by Sandy Romualdus
12 Februari 2012 - 00:00
9
VIEWS
Mempersiapkan Kegagalan
0
SHARES
9
VIEWS

Ekspor ditetapkan akan meningkat tahun ini meski kondisi perekonomian dunia belum mendukung. Hal ini membuat pengamat memperkirakan bahwa target tersebut sulit tercapai.

Oleh : Romualdus San Udika

  • Baca juga: ULN Indonesia Agustus 2026 Terjaga US$459,3 Miliar, BI Tegaskan Struktur Tetap Sehat

 

BERITA TERKAIT

Tak Serta-merta Otomatis, LPS Siapkan Syarat Kesehatan bagi Peserta Penjaminan Polis

BNI Sabet Peringkat 4 BUMN Layanan Terbaik di Danantara Indonesia CX100 Award 2026

Laba Tembus Rp1 Triliun: Bank BPD Bali Pacu Kredit UMKM Rp14,43 Triliun hingga Kuartal III/2026

Minta Pasar Tak Panik Sikapi Wacana MSCI, Peluang Bursa RI Turun Kelas Sangat Mustahil

Target dibuat untuk memberikan arah yang jelas dan juga untuk memudahkan kita dalam mencapai tujuan. Namun yang terpenting, sebuah target haruslah realistis dan bisa dicapai. Begitu yang sering tertulis dalam buku-buku motivasi ataupun manajemen. Dan ketika pemerintah menetapkan target ekspor untuk tahun ini, pastilah sudah mengacu pada hal-hal itu.

Awal tahun ini, pemerintah menargetkan ekspor sebesar 230 miliar dollar AS, lebih besar 15 persen dari target tahun lalu sebesar 200 miliar dollar AS. Berdasarkan data terakhir Badan Pusat Statistik (BPS), hingga November 2011 ekspor mencapai 186 miliar dollar AS. Tampaknya tak sulit mencapai target ekspor 2011 yang sebesar 200 miliar dollar AS, melihat tren beberapa bulan belakangan angka ekspor mencapai 16 miliar dollar AS tiap bulan.

Tapi apakah hal yang sama bisa terjadi tahun ini mengingat hampir seluruh negara di dunia masih harap-harap cemas akan kemungkinan meledaknya krisis di kawasan Eropa. Saat ini saja kecenderungan menurunnya permintaan barang-barang dari kawasan Eropa sudah mulai terlihat.

Hal itu dirasakan oleh China yang mendominasi ekspor ke kawasan tersebut. Pada awal triwulan terakhir tahun lalu, laju ekspor China melambat dan tercatat sebagai pelambatan terbesar dalam dua tahun terakhir karena menyusutnya permintaan dari Eropa.

Ekspor China hanya naik 15,9 persen dari tahun sebelumnya dengan surplus perdagangan 17 miliar dollar AS. Padahal survei Bloomberg terhadap 24 ekonom menyatakan bahwa kenaikan ekspor pada periode itu bisa mencapai 28,7 persen.

Sejatinya pemerintah sendiri tidak yakin 100 persen bahwa target ekspor tahun ini akan tercapai. Meski ekspor tahun 2011 diperkirakan akan melampaui target, namun tahun ini sederet aral dan rintangan yang ada tampaknya akan mengganjal target tersebut. Selain ancaman krisis Eropa, yang bisa mengganjal kinerja ekspor adalah menurunnya rasio ekspor terhadap Kegagalanpertumbuhan ekonomi alias Gross Domestic Product (GDP).

“Rasio ekspor terhadap GDP kita menurun. (Tapi) Positifnya, kalau terjadi guncangan global maka ekspor tidak terlalu berpengaruh. Kita cukup kembangkan pasar domestik,” kata Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Hatta Rajasa. Tahun lalu, rasio ekspor berada di level 24 persen, turun dibanding setahun sebelumnya yang masih 28 persen.

Meski begitu, tidak mungkin pemerintah alpa membuat rencana untuk menggapai target tersebut. Dan untuk mencapainya pemerintah dengan terang-terangan akan menjalankan strategi diversifikasi, baik negara tujuan maupun produk ekspor.

Sementara ini, negara tujuan ekspor terbesar Indonesia adalah China 13,1 persen, Jepang 11,4 persen, Amerika Serikat 9,7 persen, India 8,3 persen, dan Singapura 7,1 persen. Dengan porsi ekspor tersebut, sejatinya krisis Eropa tidak terlalu berpengaruh kepada ekspor Indonesia. Namun, jika negara yang termasuk second round, seperti China dan Singapura terkena imbas yang cukup besar, maka Indonesia tentu akan mendapat efek dominonya.

Oleh karena itu Kementerian Perdagangan akan menggiatkan ekspor ke pasar-pasar non tradisional seperti di negara-negara Afrika dan Timur Tengah. “Total ekspor Indonesia ke negara nontradisional (diharapkan) meningkat 25 persen tahun 2012,” ujar Menteri Perdagangan Gita Wirjawan, yang menggantikan Mari E Pangestu.

Di sisi lain, penerapan penganekaragaman produk ekspor sebenarnya sudah dilakukan sejak Mari E Pangestu masih memimpin Kementerian Perdagangan. Selain komoditas unggulan, pemerintah menetapkan beberapa lagi yang berasal dari komoditas nonmigas, di antaranya tekstil dan produk tekstil (TPT), alas kaki, otomotif, kertas, kelapa sawit (CPO) dan produk turunannya, kakao olahan dan biji kakao serta kopi.

Dengan jurus klasik itu, pemerintah percaya diri bisa mencapai target ekspor 230 miliar dollar AS tahun ini. Bahkan Deputi Bidang Ekonomi Bappenas Prasetijono Widjojo menyebutkan bahwa target ekspor 2012 sudah memperhitungkan efek penurunan ekonomi global lanjutan (second round effect).

  • Baca juga: Indonesia Peringkat Pertama Modest Fashion Dunia, BI dan Kemendag Pacu Ekspor Wastra Nusantara

Terlalu Muluk

Optimisme pemerintah dinilai terlalu tinggi dan akan sulit tercapai apalagi jika perlambatan ekonomi yang dipicu krisis ekonomi di Eropa dan Amerika Serikat terus terjadi di tahun ini. Hal itu diungkapkan oleh Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sofjan Wanandi.

“Angka realistis untuk target ekspor tahun 2012 adalah 210 miliar dollar AS. Mengingat tahun ini akan terjadi fluktuasi kinerja ekspor karena dampak krisis, apalagi harga komoditas juga turun,” kata Sofjan.

Diversifikasi tujuan ekspor yang diharapkan menjadi pendorong kinerja ekspor juga dinilai belum tentu dapat membantu pencapaian target yang ditetapkan pemerintah. Pasalnya, Indonesia akan menghadapi persaingan ketat dengan negara-negara yang sebelumnya menguasai pasar tersebut. “Alasan diversifikasi tidak segampang itu, karena kita harus menghadapi negara-negara yang kuasai pasar yang menjadi tujuan pemerintah,” ujar Sofjan.

Pesimisme yang sama juga dikatakan oleh ekonom Institute of Development of Economic dan Finance (Indef), M Fadhil Hasan. Dia menilai target ekspor tahun 2012 yang ditetapkan sebesar 230 miliar dollar AS tidak sesuai dengan asumsi perekonomian global yang sekarang terjadi.

Jika melihat penurunan kinerja ekspor tiga bulan terakhir 2011 seharusnya pemerintah sadar bahwa permintaan di negara lain memang sedang menurun dan hal itu erat kaitannya dengan krisis yang terjadi di Eropa dan AS.

“Dengan asumsi perekonomian yang sekarang terjadi mungkin akan mudah untuk mencapai (target). Tetapi kalau sekarang ini justru krisis malah menguat dan diperkirakan pemulihannya berlangsung lama, tareget ekspor belum bisa tercapai,” ujar Fadhil.

Menurut dia, dampak dari perlambatan ekonomi terhadap ekspor terdiri dua jalur, yakni langsung dan tidak langsung. Dampak langsung adalah permintaan ekspor menurun. Yang tidak langsung ketika misalnya China, Jepang dan negara-negara partner dagang AS dan Eropa permintaannya menurun, maka permintaan dari China dan negara Asia lain terhadap Indonesia juga menurun.

Daya Saing

Soal strategi diversifikasi ekspor guna mencari pangsa ekspor baru yang giat dilakukan pemerintah, Fadhil mengatakan bahwa hasilnya belum akan terlihat dalam waktu dekat. Selain itu, langkah diversifikasi tujuan ekspor juga tidak bisa menggantikan pasar tradisional yang sudah ada. “Pada umumnya permintaan di negara tujuan ekspor baru tidak sekuat permintaan dan sebesar negara yang mengalami perlambatan ekonomi,” sambung Fadhil.

Maka dari itu, selain diversifikasi pasar ekspor, yang perlu dilakukan untuk mendorong kinerja ekspor adalah peningkatan daya saing. Diversifikasi produk bisa dilakukan dengan mengekspor produk yang negara lain tidak bisa memproduksi. “Kita kuatnya selama ini produk berbasis sumber daya alam dan manufaktur. Produk-produk alas kaki daya saingnya cukup kuat, juga elektronik. Sementara produk-produk lain harus ditingkatkan,” ungkap Fadhil Hasan.

Namun demikian peningkatan daya saing produk Indonesia menjadi tugas yang sangat berat bagi pemerintah, mengingat sementara ini peringkat daya saing Indonesia turun dari urutan 44 pada 2010 menjadi 46 tahun ini, dari 142 negara. Hal itu seperti yang dilansir dalam The Global Competitiveness Report 2011-2012 yang dikeluarkan World Economic Forum, belum lama ini.

Hanya saja, untuk meningkatkan daya saing, lagi-lagi Indonesia akan terganjal karena kondisi infrastruktur nasional yang belum memadai. Dan pekerjaan meningkatkan sarana dan prasarana ekonomi tidak mudah dilakukan karena birokrasi yang berbelit.

  • Baca juga: Riset Paramadina: 8 Juta UMKM Pangan Belum Tersertifikasi, Wajib Halal Serentak Berisiko Tekan Daya Beli

Jadi apakah target ekspor bisa tercapai? Mudah-mudahan saja pemerintah tidak sedang menyiapkan kegagalan. SP

 

 
 
 
 
 
Previous Post

Symptom Ekonomi Mulai Panas

Next Post

Menunggu Efek Tren “Properti Hijau”

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BACA JUGA

Related Posts

Survei BI: Kenaikan Harga Bahan Baku Bakal Dongkrak Inflasi Ritel Per Juni 2026

ULN Indonesia Agustus 2026 Terjaga US$459,3 Miliar, BI Tegaskan Struktur Tetap Sehat

by Stella Gracia
15 Oktober 2026 - 12:51

Bank Indonesia mencatat ULN Indonesia Agustus 2026 tetap sehat sebesar US$459,3 miliar (tumbuh 5,6% yoy) dengan rasio PDB 30,9% didominasi...

Pilar Inklusi dari Binjai Utara: Kisah Shifa Celluler Perluas Akses dan Literasi Keuangan Lansia

Indonesia Peringkat Pertama Modest Fashion Dunia, BI dan Kemendag Pacu Ekspor Wastra Nusantara

by Stella Gracia
15 Oktober 2026 - 12:00

Indonesia peringkat 1 dunia sektor modest fashion SGIE 2025/2026. Deputi Gubernur Senior BI Aida S. Budiman buka IN2MOTIONFEST x JMFW...

Porsi Kredit UMKM BRI Capai 83,86%, Bukti Komitmen BRI pada Pemberdayaan Usaha Mikro

Riset Paramadina: 8 Juta UMKM Pangan Belum Tersertifikasi, Wajib Halal Serentak Berisiko Tekan Daya Beli

by Stella Gracia
15 Oktober 2026 - 08:18

Riset Paramadina memproyeksikan kewajiban sertifikasi halal serentak berisiko membebani 8 juta UMKM pangan dan menekan daya beli rumah tangga. Stabilitas.id...

Camino de Flores: Menyusuri Spiritualitas dan Pemulihan Ekonomi di Tanah Flores

Camino de Flores: Menyusuri Spiritualitas dan Pemulihan Ekonomi di Tanah Flores

by Stella Gracia
13 Oktober 2026 - 13:23

Kementerian Pariwisata meluncurkan rute wisata Camino de Flores. Program ini bertujuan meratakan distribusi wisatawan dan memulihkan ekonomi masyarakat Nusa Tenggara...

IKK September 2026 Bertengger di 118,1: Bank Indonesia Catat Konsumsi Rumah Tangga Meningkat

IKK September 2026 Bertengger di 118,1: Bank Indonesia Catat Konsumsi Rumah Tangga Meningkat

by Stella Gracia
12 Oktober 2026 - 12:21

Survei Konsumen BI September 2026 mencatat IKK tetap optimis di level 118,1 di tengah kenaikan rasio belanja konsumsi masyarakat menjadi...

Kikis Inefisiensi, Kemenkeu Selamatkan Anggaran Rp170 Triliun Tanpa Ganggu Birokrasi

Defisit APBN Tembus Rp319 Triliun per September 2026, Menkeu Pastikan Postur Fiskal Tetap Kredibel

by Stella Gracia
9 Oktober 2026 - 14:13

APBN membukukan defisit Rp319 triliun atau 1,24 persen PDB per September 2026, Menkeu Suahasil Nazara pastikan disiplin fiskal terjaga. Stabilitas.id...

E-MAGAZINE

TERPOPULER

  • Transaksi Repo Tembus Rp17,5 Triliun per Hari, BI Luncurkan Tri-Party Agent Repo

    Transaksi Repo Tembus Rp17,5 Triliun per Hari, BI Luncurkan Tri-Party Agent Repo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • OJK dan Bappebti Perkuat Sinergi dalam Pengawasan Derivatif Keuangan Berbasis Efek

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • LinkUMKM Tembus 14 Juta User, BRI Dorong Kerajinan Ramah Lingkungan Go International

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menyiapkan Talenta Hijau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Keras Dan Menghantam

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Nakhoda Baru Askrindo: Mahelan Prabantarikso Gantikan M. Fankar Umran

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pacu Belanja Turis Asing ke Daerah, Garuda Indonesia Luncurkan Skema Multi-Destinasi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
 

Terbaru

Tak Serta-merta Otomatis, LPS Siapkan Syarat Kesehatan bagi Peserta Penjaminan Polis

BNI Sabet Peringkat 4 BUMN Layanan Terbaik di Danantara Indonesia CX100 Award 2026

Laba Tembus Rp1 Triliun: Bank BPD Bali Pacu Kredit UMKM Rp14,43 Triliun hingga Kuartal III/2026

Minta Pasar Tak Panik Sikapi Wacana MSCI, Peluang Bursa RI Turun Kelas Sangat Mustahil

Bongkar Manipulasi Saham dan Penjatahan Semu: OJK Denda DSSA, BREN, dan CUAN Total Rp2,1 Triliun

Filosofi Bahtera di Atas Laut, Pemprov DKI Resmikan Masjid Apung An-Nur di Pantai Ancol

Ancaman Eksodus Dana Asing: Simak Pemicu Usulan Reklasifikasi Standalone Market oleh MSCI

Tekanan Ganda Pasar Finansial: BI Gelontorkan Intervensi Hadapi Sentimen Risk-Off dan Isu MSCI

Tersengat Wacana MSCI dan Inflasi AS: IHSG Kena Trading Halt di Awal Sesi I

STABILITAS CHANNEL

 
 
Next Post
Memaknai Angka 50 Tahun

Memaknai Angka 50 Tahun

  • Advertorial
  • Berita Foto
  • BUMN
  • Bursa
  • Ekonomi
  • Eksmud
  • Figur
  • Info Otoritas
  • Internasional
  • Interview
  • Keuangan
  • Kolom
  • Laporan Utama
  • Liputan Khusus
  • Manajemen Resiko
  • Perbankan
  • Portofolio
  • Resensi Buku
  • Riset
  • Sektor Riil
  • Seremonial
  • Syariah
  • Teknologi
  • Travel & Resto
  • UKM
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pesan Majalah
  • Kontak Kami
logo-footer

Copyright © 2021 – Stabilitas

Find and Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata

Copyright © 2021 Stabilitas - Governance, Risk Management & Compliance