JAKARTA, Stabilitas—Kondisi perekonomian China yang mengalami perlambatan sejak tahun lalu akibat dari perang dagang AS-China, menurut Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo sebaiknya dimanfaatkan oleh Indonesia.
Tahun ini, perekonomian di China tumbuh melambat menjadi 6,3 persen dari sebelumnya 6,6 persen pada tahun 2018.
“Walaupun terkena dampak perang dagang tapi Indonesia harus bisa mengambil kesempatan menjadi relokasi industri dari China,”kata Perry dalam acara diskusi di Jakarta, Senin, (4/3/2019).
BERITA TERKAIT
Lebih lanjut dirinya menjelaskan, kondisi perang dagang sebelumnya juga pernah terjadi antara Jepang dan Amerika pada tahun 1980an. Jepang akhirnya melakukan restrukturisasi industri dan keuangannya ke kawasan Asia Tenggara.
Tidak hanya Jepang, lanjutnya, Korea Selatan ketika mengalami krisis 1997-1998 juga melakukan relokasi industri ke Asia Tenggara.
“Jadi indonesia jangan mengeluh tidak bisa ekspor komoditas. Selama ini sudah ekspor tapi bagaimana cara kita menarik investor asing untuk masuk ke Indonesia,”imbuhnya.
Menurutnya, selama ini banyak pengusaha yang mengeluhkan tidak bisa mengekspor nikel ke luarn negeri. Dirinya menyarankan agar dapat menarik investor membangun smelter dan hal lainnya utuk menambah nilai jual.
Perry menambahkan, tahun lalu Indonesia mendapat banyak tekanan sebagai akibat dari gejolak pasar keuangan global yang menyebabkan aliran modal keluar (capital outflow), namun tahun ini perekonomian Indonesia sudah banyak dipengaruhi gejolah perdagangan global.
“Terutama sengketa dagang Amerika dan China. Karakteristik sudah berubah dari keuangan ke pasar perdagangan oleh karena itu kita harus punya strategi untuk ambil kesempatan dan mengubah risiko.”papar Perry.
Lebih jauh dikatakan Perry, Indonesia harus bisa mengembangkan kualitas produk agar bisa menembus pasar Amerika. Pun demikian, Amerika masih menjadi pasar terbesar industri manufaktur terutama produk elektronik Indonesia. (Is)
















