Alm. Bambang Hartono meninggal dunia, Robert Budi Hartono kini jadi pengendali tunggal BBCA via PT Dwimuria Investama Andalan.
Stabilitas.id – PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mengumumkan perubahan struktur pemegang saham pengendali perseroan. Emiten perbankan dengan kapitalisasi pasar terbesar di Indonesia ini kini memiliki pengendali tunggal, yakni Robert Budi Hartono.
Sebelumnya, pengendalian BBCA dilakukan secara bersama lewat holding investasi PT Dwimuria Investama Andalan (DIA) oleh dua bersaudara pendiri Grup Djarum, Michael Bambang Hartono dan Robert Budi Hartono.
Sekretaris Perusahaan BCA, Rudy Budiartjo, menjelaskan bahwa perubahan struktur ini terjadi seiring dengan berpulangnya Michael Bambang Hartono.
BERITA TERKAIT
“Sehubungan dengan telah meninggal dunianya Alm. Bambang Hartono, maka terdapat perubahan pemegang saham pengendali PT DIA menjadi Robert Budi Hartono,” ungkap Rudy dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (3/8).
Porsi kepemilikan saham Robert Budi Hartono di PT DIA tercatat tidak mengalami perubahan, yakni sebesar 51% dari modal ditempatkan dan disetor.
Berdasarkan data kepemilikan saham BEI per 31 Juli 2026, PT Dwimuria Investama Andalan merupakan pemegang saham pengendali utama BBCA dengan menguasai 67,73 miliar saham atau setara 54,94% dari total saham perseroan.
Adapun pemegang saham lainnya di atas 1% meliputi PT Tricipta Mandhala Gumilang sebesar 1,07% (1,31 miliar saham), PT Caturguwiratna Sumapala sebesar 1,02% (1,26 miliar saham), serta Anthoni Salim sebesar 1,15% (1,41 miliar saham).
Alm. Michael Bambang Hartono lahir pada tahun 1939 dan merupakan salah satu tokoh konglomerat terbesar di Indonesia. Bersama saudaranya Budi Hartono, ia membangun gurita bisnis Djarum Group yang merambah berbagai sektor strategis, mulai dari perbankan (BCA), manufaktur elektronik (Polytron), properti (Grand Indonesia), e-commerce (Blibli), media, hingga klub sepak bola Italia, Como 1907.
Kinerja Kuat Semester I 2026
Perubahan struktur pengendali ini terjadi di tengah performa fundamental BCA yang solid. Sepanjang Semester I 2026, BBCA membukukan laba bersih konsolidasian sebesar Rp 29,5 triliun.
Untuk pertama kalinya dalam sejarah perseroan, penyaluran kredit BCA menembus level psikologis Rp 1.000 triliun, tepatnya mencapai Rp 1.036 triliun atau tumbuh 8% secara tahunan (year-on-year/YoY).
Ekspansi kredit tersebut disokong oleh pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) sebesar 7,9% YoY menjadi Rp 1.284 triliun. Porsi dana murah (Current Account Saving Account/CASA) mendominasi hingga 84,3% atau setara Rp 1.082 triliun (+10,2% YoY), sehingga menjaga biaya dana (cost of fund) tetap efisien.
Di sisi kualitas aset, BCA menjaga rasio Loan at Risk (LAR) di level 4,9% dan Non-Performing Loan (NPL) sebesar 1,9%. Sementara itu, penyaluran pembiayaan berkelanjutan (green financing) tumbuh 19% YoY menjadi Rp 123 triliun. ***

















