Pemerintah dan DPR resmi menyepakati asumsi dasar makro RAPBN 2027. Target pertumbuhan ekonomi dipatok 5,8%-6,5% dengan pendapatan per kapita naik jadi Rp 96,4 juta.
Stabilitas.id – Pemerintah bersama Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) resmi menyepakati bauran asumsi dasar ekonomi makro serta kerangka postur Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027. Salah satu poin krusial yang disetujui adalah target Pendapatan Nasional Bruto atau Gross National Income (GNI) per kapita yang dibidik menyentuh angka Rp 96,4 juta.
Laporan hasil panja pembahasan tersebut disampaikan langsung oleh Wakil Ketua Badan Anggaran (Banggar) DPR, Wihadi Wijanto, dalam Sidang Paripurna DPR Ke-23 Masa Persidangan V Tahun Sidang 2025-2026, Kamis (2/7).
Wihadi menuturkan, Rencana Kerja Pemerintah (RKP) 2027 mengusung tema besar ‘Akselerasi Pertumbuhan Berkualitas Melalui Produktivitas Investasi dan Industri’. Tema inilah yang dijadikan kompas utama dalam mengarsiteki jajaran target pembangunan nasional pada tahun depan.
BERITA TERKAIT
“Sasaran pembangunan untuk pertumbuhan ekonomi target tahun 2027 berada di kisaran 5,8% sampai 6,5%. Gross national income per capita ditargetkan sebesar US$ 5.800 sampai US$ 5.840, yang jika dikonversi dalam mata uang rupiah adalah senilai Rp 96,4 juta,” urai Wihadi dalam paparannya.
Patokan jatah kesejahteraan ini terpantau melonjak jika dibandingkan dengan target pada APBN 2026 yang sebelumnya berada di level US$ 5.520 atau setara Rp 92,68 juta. Apabila dibedah secara bulanan, rerata pendapatan masyarakat Indonesia ditargetkan merangkak naik dari Rp 7,72 juta per bulan pada 2026 menjadi Rp 8,03 juta per bulan pada 2027.
Bidikan Indikator Kesejahteraan Sosial
Tidak hanya berfokus pada pacuan roda pertumbuhan ekonomi makro murni, kesepakatan fiskal ini turut menetapkan batas target perbaikan pada indikator kesejahteraan sosial masyarakat:
-
Tingkat Kemiskinan: Ditargetkan mampu ditekan ke kisaran 6,0% hingga 6,5%.
-
Kemiskinan Ekstrem: Diharapkan dapat terkikis habis hingga menyentuh level 0%.
-
Rasio Gini (Ketimpangan): Diproyeksikan berada di level moderat 0,362 – 0,367.
-
Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT): Ditargetkan melandai ke angka 4,30% – 4,87%.
-
Lapangan Kerja Baru: Penciptaan lapangan kerja baru ditargetkan mampu menyerap 2,57 juta hingga 3,49 juta orang, dengan proporsi sektor formal dikunci pada level 40,81%.
“Peningkatan kesejahteraan rakyat adalah tujuan utama dari seluruh gerak pembangunan nasional,” tambah Wihadi. Secara garis besar, seluruh arah kebijakan makro ini sejalan dengan visi Presiden Prabowo Subianto, dengan penyesuaian target lifting migas yang dipatok sedikit lebih agresif dari draf awal.
Tabel Asumsi Dasar Ekonomi Makro 2027
| Indikator Ekonomi Makro | Target / Pagu Kesepakatan |
| Pertumbuhan Ekonomi | 5,8% – 6,5% |
| Tingkat Inflasi | 1,5% – 3,5% |
| Suku Bunga SBN Tenor 10 Tahun | 6,5% – 7,3% |
| Nilai Tukar Rupiah (per dolar AS) | Rp 16.800 – Rp 17.500 |
| Harga Minyak Mentah Indonesia (ICP) | US$ 70 – US$ 95 per barel |
| Lifting Minyak Mentah | 605 – 620 ribu barel per hari |
| Lifting Gas Bumi | 951 – 990 ribu barel setara minyak per hari |
Tabel Kerangka Postur RAPBN 2027
| Komponen Fiskal | Persentase Terhadap PDB |
| Total Pendapatan Negara | 12,01% – 12,40% |
| – Penerimaan Perpajakan | 10,16% – 10,50% |
| – Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) | 1,85% – 1,89% |
| – Penerimaan Hibah | 0,002% – 0,003% |
| Total Belanja Negara | 13,81% – 14,80% |
| – Belanja Pemerintah Pusat | 11,26% – 12,01% |
| – Transfer ke Daerah (TKD) | 2,55% – 2,79% |
| Keseimbangan Primer | 0,45% hingga minus 0,14% |
| Defisit APBN | 1,80% – 2,40% |
| Pembiayaan Investasi | minus 0,50% hingga minus 0,90% |
| Rasio Utang Pemerintah | 40,31% – 40,64% |
Dengan kisaran defisit yang dirancang lebih ketat di level 1,80% hingga 2,40% dari PDB, arsitektur anggaran 2027 ini diharapkan mampu menjaga kredibilitas fiskal Indonesia di mata dunia sekalian mengamankan ruang gerak bagi akselerasi industri domestik. ***

















