Ulasan Pasar Manulife Agustus 2026 menyoroti penguatan pasar saham RI sebesar 4,64% dan pasar obligasi 2,12%, didorong disiplin fiskal dan stabilitas nilai tukar Rupiah.
Stabilitas.id – Kinerja instrumen investasi domestik, baik pasar saham maupun obligasi, mencatatkan penguatan solid sepanjang Agustus 2026. Laporan Monthly Market Review dari PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) menyoroti bahwa stabilitas fundamental makroekonomi, kejelasan arah kebijakan fiskal, dan ketahanan moneter menjadi katalis utama pendorong aliran masuk modal asing (capital inflow).
Dari sisi makroekonomi, inflasi umum pada Agustus 2026 merangkak naik ke level 3,2% secara tahunan (YoY) dari 2,9% pada bulan sebelumnya. Kenaikan ini dipicu oleh lonjakan komponen harga makanan, minuman, dan tembakau akibat fenomena El Nino, serta naiknya biaya pendidikan pada laju inflasi inti.
Kendati demikian, Bank Indonesia (BI) di bawah kepemimpinan Gubernur Interim Destry Damayanti memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan (BI Rate) di level 5,75%. Keputusan ini diambil karena inflasi dinilai masih terkendali dalam rentang target BI dan Rupiah terus menunjukkan stabilitas apresiasi.
BERITA TERKAIT
Ketahanan Ekuitas Domestik Lampaui Pasar Global
Ketegasan pemerintah dalam mempertahankan disiplin fiskal—tercermin dari target defisit RAPBN 2027 sebesar 2,4% dari PDB—sukses menopang kepercayaan investor di pasar modal.
- Pasar saham Indonesia membukukan penguatan 4,64% sepanjang Agustus, mengungguli indeks MSCI World (2,48%), MSCI Asia Pacific ex Japan (3,01%), dan MSCI Emerging Market (3,21%).
- Investor asing membukukan pembelian bersih (net buy) senilai USD68,1 juta di bursa saham.
- Sektor bahan dasar dan energi memimpin penguatan indeks, masing-masing melesat sebesar 10,1% dan 9,9%.
MAMI menilai isu terkait posisi saham Indonesia di indeks MSCI—dengan tenggat peninjauan hingga November—bukanlah sentimen pelemahan struktural. Regulator domestik telah menggulirkan sejumlah reformasi, sehingga risiko penurunan kelas (downgrade) ke frontier market tidak menjadi skenario dasar.
Pasar Obligasi Dibanjiri Permintaan Asing
Kinerja pasar obligasi domestik turut terapresiasi, di mana Indeks BINDO naik 2,12% MoM pada Agustus. Imbal hasil (yield) Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun turun 34 basis poin dari 7,32% menjadi 6,98%.
Penurunan imbal hasil SBN ini terjadi di tengah gejolak global, di mana yield US Treasury tenor 10 tahun justru naik tipis menjadi 4,75% usai Gubernur The Fed Kevin Warsh melontarkan pandangan hawkish dalam Simposium Jackson Hole. Akibatnya, selisih (spread) imbal hasil antara SBN dan US Treasury 10 tahun menyempit menjadi 223 bps.
Di pasar perdana, permintaan lelang obligasi pemerintah (SUN) melonjak dengan penawaran masuk mencapai IDR84,76 triliun, melampaui rata-rata tahunan sebesar IDR66 triliun. Kepercayaan ini selaras dengan aksi investor asing yang memborong SBN dengan pembelian bersih sebesar IDR15,35 triliun, mendorong porsi kepemilikan asing naik menjadi 12,98% dari total obligasi pemerintah yang dapat diperdagangkan. ***

















