Banyak orang takut untuk menekuni profesi sebagai entrepreneur (pengusaha), terutama kalangan “orang gajian” alias karyawan. Perasaan takut tersebut berasal dari risiko yang mungkin dihadapi jika gagal berwirausaha. Mereka takut jika tidak berhasil akan kehilangan pendapatan, karena selama ini terbiasa menerima gaji rutin. Padahal, sebetulnya risiko berbisnis bisa dikelola dengan berbekal ilmu manajemen risiko. Dan jika berhasil meminimalisir risiko, pendapatan pengusaha bisa jauh melampaui pendapatan karyawan. Buktinya, para orang terkaya di dunia, juga di negeri ini, adalah mereka yang berprorfesi sebagai entrepreneur.
Tetapi mereka yang kemudian berani pindah kuadran menjadi pengusaha juga tidak sedikit. Bahkan, tidak jarang mereka memutuskan pindah jalur pada saat berada di puncak karir sebagai karyawan. Tidak percaya? Lihat saja kiprah para mantan bankir top yang belakangan memutuskan diri menjadi pengusaha.
BERITA TERKAIT
Sebut saja beberapa nama di antaranya, Michael Rusli (mantan Presdir ABN Amro Indonesia), Robby Djohan (mantan Presdir Bank Niaga), Mochtar Ryadi (mantan Direktur BCA), Agam Napitupulu (mantan Executive Vice President Bank Mandiri), dan masih ada beberapa nama lain. Para bankir handal ini berani mengambil risiko, melepas gaji, fasilitas dan kompensasi yang diterima dari bank tempatnya bekerja, hanya untuk satu tujuan: menjadi pengusaha.
Michael Rusli kini dikenal sebagai pengusaha pertambangan, infrastruktur, event organizer dan bisnis pertunjukan. Sementara Agam Napitupulu, selain dikenal sebagai konsultan perbankan, sekarang menjadi pemilik PT Bumi Daya Plaza Mandiri. Adapun Mochtar Ryadi adalah pendiri dan pemilik jaringan bisnis Lippo Group. Lain lagi dengan Robby Djohan, selain masih dipercaya menjadi konsultan bank dan komisaris di beberapa perusahaan, dia kini memutuskan berbisnis sekolah calon pilot Bali International Flight Academy (BIFA), yang antara lain menjadi pemasok ‘supir’ pesawat bagi maskapai Garuda Indonesia.
Ada pula nama-nama mantan bankir level di bawah mereka, seperti Lilis Andriyani, mantan assistan vice president Bank Indover yang menjadi pengembang perumahan di Jombang, Jakarta dan Manado; Sugondo, mantan bankir di Bank Majapahit, sekarang dikenal sebagai pendiri dan pemilik resto steak terkenal, antara lain Obong Steak dan Waroeng Obong; Christovita Wiloto, mantan bankir di Bank Tiara, Bank Niaga dan American Express yang kini lebih banyak berkiprah di bisnis PR dan penggagas Indonesian Young Entrepreneur (IYE), sebuah komunitas beranggotakan 21 ribu calon pengusaha Indonesia masa depan. Tung Desem Waringin, mantan bankir BCA yang kini lebih dikenal sebagai motivator dan pemilik bisnis konsultan bisnis ternama.
Bankerpreneurs, mungkin bisa menjadi sebutan yang pas untuk mereka. Sebutan yang menggabungkan antara profesi mereka sebagai bankir (tepatnya mantan bankir) dan entrepreneur. Kata entreprenur memiliki makna seseorang yang pandai atau berbakat dalam mengenali produk atau ide baru, memahami langkah-langkah produksi, mampu menyusun operasi untuk pengadaan produk baru, cermat dalam memasarkannya, serta handal mengatur permodalan operasinya. Singkatnya, seorang bankerpreneurs adalah seorang entrepreneur yang memiliki pengalaman sebagai bankir.
Selalu menarik membicarakan fenomena seorang karyawan memutuskan pensiun dini dan menjadi entrepeneur justru ketika mereka berada di puncak karir, seperti para bankir top di atas. Setidaknya ada dua alasan kenapa fenomena ini pantas dicermati. Pertama, karena dalam tahun-tahun belakangan ini kian banyak orang yang memutuskan pensiun dini. Sebagian mereka malah bersedia melepas posisi empuk dan gaji yang “wah” di perusahaan besar untuk memasuki dunia bisnis yang penuh tantangan. Mereka pindah kuadran dari “orang gajian” (karyawan/profesional) menjadi entrepreneur.
Kedua, saat ini banyak orang kantoran ingin segera berpindah kuadran menjadi entrepreneur, tapi sayang mereka belum berani. Banyak alasannya, antara lain, karena takut gagal, belum punya modal, sampai karena alasan belum mengerti cara memulai usaha sendiri. Mereka baru memikirkannya setelah memasuki usia pensiun. Selama puluhan tahun bekerja di perusahaan, hidup mereka tercurah sepenuhnya untuk menjalani rutinitas pekerjaan. Kesempatan untuk mengembangkan jiwa entrepreneurship tak dimanfaatkan sungguh-sungguh. Akibatnya, ketika memutuskan menjadi pengusaha, banyak di antara mereka yang tidak berhasil dan terpaksa usahanya gulung tikar sebelum memasuki tahun ke-3. Mereka terjebak sebagai pengusaha yang bermental karyawan.
Nah, bankerpreneurs pastilah termasuk kategori yang pertama. Mereka berani melangkah dan lebih siap mental menghadapi risiko saat menjadi entrepreneur. Michael Rusli misalnya. Ketika karirnya sebagai bankir berada di puncak, pria kelahiran Jakarta, 2 November 1975, yang besar di Singapura dan Australia ini justru memutuskan undur diri sebagai bankir dan beralih menjadi entrepeneur. Michael memilih berbisnis di pertambangan, infrastruktur dan bisnis pertunjukan (event organizer/EO). Ketika EO-nya “Big Daddy Production” gagal mendatangkan penyanyi Lady Gaga, Michael hanya berucap, “Ini risiko sebuah show. Semua usaha sudah dihitung risikonya.”
Pengalaman yang lebih tragis terjadi pada sosok mantan bankir Bambang N. Rachmadi. Mengundurkan diri sebagai Presdir Bank Panin pada November 1988, nama pria yang akrab disapa Tonny ini nyaris tenggelam. Namun pada 1991, restoran fast food McDonald’s milik Tony dibuka di Gedung Sarinah, Jalan Thamrin, Jakarta. Dibukanya gerai pertama McD di Indonesia itu sekaligus menjawab pertanyaan tentang hilangnya Tonny selama 2,5 tahun dari dunia bisnis Indonesia. Selama kurun waktu itu Tonny berjuang supaya bisa menjadi master franchise (pemegang hak waralaba) makanan cepat saji asal AS untuk wilayah Indonesia.
Ketika perjuangannya berhasil dan usahanya berkembang pesat, Tonny akhirnya harus kehilangan usahanya tersebut. Hak waralaba McD Indonesia yang semula sebagian besar milik Tonny, beralih ke kelompok usaha Sosro. Meski mantan komisaris Bank IFI ini sempat mengubah outlet McD tersisa miliknya menjadi outlet resto Tonny Jack’s, hal itu tak menolong. Bahkan belakangan, resto cepat saji Tony Jack’s pun tak jelas kelanjutannya.
Menjadi entrepreneur adalah sebuah pilihan. Pilihan yang kadang kala memang tak masuk akal, namun bisa menimbulkan kecanduan bagi yang sudah menguasai medannya dan tahu kira-kira rintangan apa yang bakal dihadapi.
Menurut Sonny B. Sofjan, motivator bisnis dari Pillar Business Accelerator, tantangan yang paling besar sebelum beralih menjadi pengusaha adalah kesiapan diri dan lingkungan Anda dalam menghadapi petualangan baru pasca berhenti dari pekerjaan.
Meskipun memberikan peluang sukses tanpa batas, dunia usaha bukan dunia yang ramah dan penuh kenyamanan, sehingga kesiapan yang dibutuhkan pun tidak main-main. “Kesiapan tersebut begitu vitalnya, sehingga membutuhkan lompatan transformasi yang luar biasa dasyat pada diri dan lingkungan kita. Lompatan ini bernama quantum transformation,” kata Sonny.
Quantum Transformation alias perubahan besar-besaran pada dasarnya adalah lompatan perubahan mindset yang menyebar dari diri ke seluruh lingkungan tempat kita berada. “Semua dimulai dari diri kita dan pada akhirnya akan kembali kepada kita,” ulas Sonny. Para bankerpreneurs sudah melakukan itu semua. Bagaimana dengan Anda? Seberapa jauh Anda siap melompat dari bankir menjadi pengusaha.
















