Masih ingat penyanyi Lady Gaga yang batal pentas di Jakarta beberapa waktu yang lalu? Akibat kecaman dan ancaman terhadap konser Lady Gaga oleh beberapa organisasi masyarakat, akhirnya pentas penyanyi nyentrik itu dibatalkan. Meski promotor lokal, Big Daddy terus berupaya mendapatkan izin hingga hari terakhir, pembatalan akhirnya dilakukan oleh manajemen Lady Gaga karena mereka khawatir dengan keamanan sang artis dan fans.
Gagalnya konser itu tak hanya merugikan fans yang sudah membeli tiket, tapi juga bagi promotor. Untuk diketahui, harga tiket konser Lady Gaga dalam rangkaian tur dunia “The Born This Way Ball” paling murah Rp465 ribu. Sedangkan untuk kelas VVIP berharga Rp2,25 juta. Dengan kapasitas Gelora Bung Karno (GBK), yang cukup besar, Big Daddy menyediakan tiket untuk 60 ribuan penggemar Lady Gaga. Hingga sepekan jelang konser, penjualan tiket sudah mencapai 80 persen dari target. Akan tetapi, karena pembatalan konser tersebut, semua uang hasil pembelian tiket tersebut dikembalikan (refund) ke penggemar yang sudah membeli.
Presiden Direktur Big Daddy, Michael Rusli menolak mengungkapkan berapa nilai kerugian yang dialaminya. “Kalau tentang komersial, kami tak bisa bicarakan,” kata mantan CEO ABN Amro Indonesia ini.
BERITA TERKAIT
Meski gagal menggelar konser Lady Gaga, tapi Michael pantang surut. “Ini bisnis jangka panjang. Ke depannya, kami akan tetap meng-announce show-show hiburan lainnya,” kata Michael yang juga berniat melakukan penawaran saham perdana atau initial public offering (IPO) PT Prima Java Kreasi (Big Daddy) tahun ini.
Berpengalaman belasan tahun sebagai bankir, lalu bantir setir menjadi pengusaha bidang energi hingga mendirikan perusahaan hiburan -salah satunya usaha promotor, ticketing and management– Michael menyadari benar sebuah risiko usaha. “Setiap usaha sudah dihitung semua,” kata Michael, Presiden Direktur PT Prima Java Kreasi.”Ini risiko sebuah show.”
Penyandang gelar Bachelor of Commerce-Marketing (1995) dan Diploma in Banking & Finance (1996) dari Curtin University of Technology Perth, Australia; serta Master of Commerce, Banking & Finance dari Monash University, Melbourne, Australia (1997) ini mengungkapkan, bisnis yang dilakoninya merupakan investasi jangka panjang. “Dari awal saya meminimalkan risiko. Yang penting dalam bisnis adalah cash flow. Penjualan tiketnya nyambung terus. Setiap saat pasti ada tiga event yang dijual,” ujarnya.
Michael melihat ada dua sumber risiko dalam bisnis ini, yaitu sumber konten pertunjukan (dalam hal ini artis) dan infrastruktur. Menurutnya, infrastruktur (gedung konser/venue dan sound system) yang tidak memenuhi standar internasional merupakan salah satu kendala bisnis ini di Tanah Air. Untuk menyiasati risiko ini, dia melakukan kontrak panjang dengan agensi artis, seperti yang dia lakukan dengan Disney, melakukan kontrak selama tujuh tahun. Dengan adanya kontrak jangka panjang, dia berani investasi ke bisnis pendukung (infrastruktur) pertunjukan seperti gedung konser, peralatan sound system, dan ticketing.
Kesadaran yang tinggi untuk memitigasi risiko itu sudah barang tentu didapatkannya pada saat Michael masih menjadi bankir. Lembaga perbankan dengan segala peraturan yang ketat telah melatih seseorang untuk terbiasa menghadapi risiko bisnis. Karena menjadi pegawai bank sudah memiliki risiko tersendiri.
Biar begitu, memutuskan keluar dari dunia perbankan jelas akan berhadapan dengan risiko yang lebih besar. Namun karena sudah mahfum dengan risiko, para mantan bankir ini tidak terlalu kaget dengan hal tersebut.
Sebagaimana Michael Rusli, kesadaran akan risiko yang muncul ketika memutuskan “pensiun” dari bankir lalu menjadi entrepreneur, juga dialami Lilis Andriyani. Dia saat ini tercatat sebagai pengusaha properti yang menggarap proyek perumahan di Jombang, Jakarta dan Manado. Setelah mempelajari segala konsekuensi yang bakal timbul dari bisnis properti, alumnus Fakultas Ekonomi jurusan akunting UGM Yogyakarta dan peraih MBA dari Middlesesex University, London ini memutuskan mundur dari Bank Indover pada September 2009. “Setelah bisnis ini berjalan lima tahun, barulah saya resign dari kantor,” papar perempuan yang jabatan terakhirnya adalah Assistant Vice President PT Bank Indover, Jakarta.
Menurut mantan pegawai Bank Indonesia (BI) ini, risiko menjadi pengembang properti seperti dirinya relatif kecil dibandingkan dengan keuntungan yang didapatnya. Risiko yang paling tinggi adalah jika proyek perumahan yang dibangun tidak atau lambat terjual. Namun, karena nilai properti semakin lama semakin naik, maka perumahan yang lambat laku tersebut malah semakin naik harga jualnya.
Lilis membuktikannya. Dari 500 unit perumahan di tanah kelahiran suaminya, Jombang, Jawa Timur, lebih dari separuhnya sudah terjual. Padahal, harga yang dia tawarkan tergolong tinggi untuk ukuran kota Jombang, yakni Rp400 juta per unit untuk rumah tipe 70.
Risiko lainnya, kalau lahan yang kita beli itu bermasalah, seperti sertifikat tumpang tindih, lahan sengketa dan sebagainya. “Ini bisa kita antisipasi dengan meneliti lahan tersebut sebelum memutuskan membelinya,” papar pengusaha properti yang mengembangkan perumahan Jasmine Residence, Firdaus Residence dan Lily Residence.
Meminimalkan Risiko
Michael Rusli dan Lilis Adriyani hanyalah sedikit contoh dari sekian banyak bankir yang memutuskan menjadi entrepreneur, namun tetap menyadari risiko yang bakal ditemuinya kelak di bisnis yang ditekuninya.
Pietra Sarosa, seorang konsultan bisnis mengatakan, sebuah risiko yang diperhitungkan dengan baik akan lebih banyak memberikan kemungkinan berhasil. Inilah yang membedakan antara “entrepreneur” dan “manager”. Entrepreneur lebih dibutuhkan pada tahap awal atau pengembangan perusahaan, sedangkan manager dibutuhkan untuk mengatur perusahaan yang telah maju.
Seseorang, entah itu bankir atau non-bankir, yang memutuskan menjadi entrepreneur, haruslah bisa dan sedapat mungkin meminimalkan risiko yang dihadapinya. “Kunci untuk meminimalkan risiko antara lain memilih bidang bisnis yang Anda pahami. Misalnya, memahami cara produksi, operasional, pemasaran, tenaga kerja, hingga pengelolaan keuangan. Ini akan meminimalisir risiko. Sebaliknya, memulai bisnis tanpa adanya pemahaman yang cukup akan sangat berisiko,” kata pemilik Sarosa Consulting Group ini.
Soal pemahaman ini, Michael Rusli mungkin bisa menjadi contoh positif. Michael mengaku, ide awal terjun ke bisnis pertunjukan karena dipicu oleh tawaran Disney Indonesia pada 2010 untuk meneruskan penyelenggaraan Disney on Ice di Tanah Air yang telah berjalan sekitar dua tahun. Rupanya kerja sama Disney dengan beberapa promotor sebelumnya tidak begitu berhasil. “Setelah melihat kinerja kami, mereka langsung mengontrak kami hingga tujuh tahun ke depan,” ujar pria kelahiran kelahiran Jakarta, 2 November 1975, yang besar di Singapura dan Australia ini.
Selain itu, keberanian komisaris PT Trisurya Lintas Elektrikal dan Chief Financial Officer PT Trisurya Lintas Energi ini muncul karena ia bermitra dengan Arifin Wiguna, pendiri Indika yang memahami bisnis hiburan ini.
Begitu juga dengan Lilis. Mantan Head of Accounting Sanwa Indonesia Bank ini sebelumnya sudah banyak membeli tanah sebagai investasi di berbagai tempat sebagai tabungan di hari tua. Jadi dia tahu bagaimana lika-liku memiliki lahan seperti itu. Pengalamannya berkecimpung di dunia perbankan juga ikut membantunya memuluskan usaha propertinya tersebut, terutama ketika berhubungan dengan bank terkait dukungan pembiayaa proyek dan kerjasama untuk KPR.
Contoh sedikit berbeda terjadi pada diri Robby Djohan. Orang mengenal Robby sebagai bankir andal, setidaknya track record itu bisa terlihat kala Robby didapuk menjadi CEO untuk membenahi Bank Niaga dan Bank Mandiri. Namun, kini Robby juga dikenal sebagai pebisnis di bidang penerbangan. Dia adalah pendiri sekaligus pemilik sekolah penerbangan Bali International Flight Academy (BAF).
Rupanya, pengalaman Robby sebagai Dirut Garuda selama beberapa waktu membuatnya paham akan bisnis penerbangan. Bahkan, dari 137 alumni BAF, sebagian besar masuk menjadi pilot maskapai penerbangan Garuda.
Dalam bukunya “Essentials of Entrepreneurship and Small Business Management”, Zimmerer, Scarborough dan Wilson mengungkapkan, seorang entrepreneur sejati harus berani mengambil sikap dalam pengambilan risiko dalam setiap usaha yang dilakukan. Keberaniannya mengambil risiko pada setiap peluang usaha, maka akan berdampak pada keuntungan dan kerugian. Seorang entrepreneur harus dapat menciptakan dan memunculkan peluang-peluang usaha yang berbeda-beda dan seorang entrepreneur harus mampu tampil beda dengan entrepreneur yang lain. Pola pikiran yang kreatif dan inovatif sangat diperlukan dalam kewirausahaan karena akan berpeluang dalam keuntungan yang kita peroleh dari usaha tersebut.
Jika seorang entrepreneur mampu menghadapi risiko dalam setiap peluang usaha yang dilakukan maka seorang pengusaha tersebut mampu memperoleh kesuksesan. Karena kunci dari kesuksesan itu berada dalam jiwa seorang entrepreneur yang berani bersikap dalam mengambil risiko. Michael Rusli, Lilis Andriyani dan Robby Djohan hanyalah segelintir mantan bankir yang berani mengambil risiko.
Bagaimana dengan Anda?

















