Ekspansi pabrik pacu impor, Vietnam cetak defisit dagang US$ 3,59 miliar pada Juli 2026 di tengah tekanan tarif dan pengawasan ketat AS.
Stabilitas.id – Neraca perdagangan Vietnam kembali membukukan defisit bulanan untuk kedelapan kalinya secara berturut-turut pada Juli 2026. Pembengkakan defisit ini dipicu oleh aksi pabrik-pabrik domestik yang terus memacu kapasitas produksi dan mengimpor bahan baku, kendati perekonomian berbasis ekspor tersebut kembali dibayangi hambatan tarif dari Amerika Serikat (AS).
Berdasarkan data resmi kantor statistik Vietnam, nilai ekspor mencatatkan lonjakan sebesar 25% secara tahunan (year-on-year/yoy) menjadi US$ 53,1 miliar pada Juli 2026. Capaian ekspor tersebut sejatinya relatif sejalan dengan proyeksi konsensus para ekonom yang memperkirakan pertumbuhan di level 25,5%.
Namun di saat yang sama, laju impor Vietnam melesat jauh lebih kencang hingga 41,4% yoy, melampaui estimasi pasar yang berada di kisaran 36,7%. Pembengkakan pasokan bahan baku dan peralatan industri dari luar negeri ini memaksa neraca perdagangan Vietnam terperosok ke zona defisit sebesar US$ 3,59 miliar pada Juli 2026.
Meskipun mencatatkan defisit, agresivitas impor tersebut menandakan bahwa aktivitas manufaktur Vietnam masih berada dalam fase ekspansi yang kuat. Indeks Manajer Pembelian (PMI) Manufaktur Vietnam rilisan S&P Global mencatat kenaikan tajam pada volume produksi, pesanan baru, dan aktivitas pembelian, yang turut didorong oleh penurunan harga minyak dunia sehingga menekan biaya operasional manufaktur.
Di tengah lonjakan produksi, Vietnam kini berada dalam pengawasan ketat otoritas perdagangan Washington. Negara Asia Tenggara ini menjadi salah satu dari 60 negara yang dikenakan tarif baru oleh AS atas dugaan kurangnya pengawasan terhadap isu kerja paksa pada rantai pasok. Otoritas Bea Cukai AS bahkan mulai menggelar inspeksi acak ke pabrik-pabrik di Vietnam yang terhubung dengan modal Tiongkok guna menguji asal-usul bahan baku dan nilai tambah produk.
Kekhawatiran utama Washington tertuju pada potensi praktik transshipment atau pengalihan jalur pengiriman barang asal Tiongkok melalui Vietnam demi menghindari tarif masuk AS. Sepanjang Januari hingga Juli 2026, Amerika Serikat tetap bertahan sebagai pasar ekspor terbesar Vietnam dengan nilai surplus perdagangan mencapai US$ 91,4 miliar (+22,6% yoy). Sebaliknya, Tiongkok menjadi pemasok impor terbesar dengan pengapalan barang senilai US$ 138,6 miliar, sehingga melemparkan Vietnam ke defisit dagang sebesar US$ 93 miliar dengan Negeri Tirai Bambu tersebut.
Sementara itu dari sisi harga, laju inflasi (IHK) Vietnam naik 4,45% yoy pada Juli 2026, mendekati batas atas target pemerintah sebesar 4,5%. Bank sentral Vietnam memproyeksikan laju inflasi berpotensi merangkak naik hingga menyentuh 5,5% hingga akhir tahun akibat kenaikan biaya transportasi, jasa, dan harga energi global. ***

















