Pendapatan HRTA melonjak 124,61% jadi Rp 33,80 triliun dan laba bersih melesat 100,86% menembus Rp 700,01 miliar pada Semester I-2026.
Stabilitas.id – PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) membukukan kinerja keuangan yang melonjak signifikan sepanjang semester I-2026. Emiten manufaktur dan perdagangan emas terintegrasi ini mencatatkan pendapatan sebesar Rp 33,80 triliun, atau melesat 124,61% secara tahunan (year-on-year/yoy) dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 15,05 triliun.
Sejalan dengan lonjakan omzet tersebut, laba bersih perseroan meroket 100,86% yoy menjadi Rp 700,01 miliar pada akhir Juni 2026, jauh melampaui raihan semester I-2025 yang tercatat sebesar Rp 348,51 miliar.
Akselerasi kinerja HRTA disokong oleh kenaikan volume penjualan emas murni sebesar 46,74% yoy menjadi 13 ton. Pertumbuhan volume tersebut berpadu dengan lonjakan harga jual rata-rata (average selling price/ASP) emas murni perseroan yang naik 53,21% yoy menjadi Rp 2.591.673 per gram.
BERITA TERKAIT
Dari pilar kontribusi segmen usaha, penjualan grosir masih menjadi tulang punggung utama dengan porsi 89,33%, di mana kontribusi dari institusi keuangan dan Bullion Bank mendominasi hingga 80,34%. Sementara itu, segmen ritel menyumbang 10,31% dan bisnis gadai berkontribusi sebesar 0,33%.
Kinerja profitabilitas perseroan juga menunjukkan penguatan dengan Return on Assets (ROA) berada di level 12,33% dan Return on Equity (ROE) melonjak ke posisi 37,37%. Di sisi permodalan, rasio utang berbunga terhadap ekuitas (interest-bearing debt to equity) tetap terjaga sehat di level 1,11 kali.
Direktur Utama Hartadinata Abadi, Sandra Sunanto, menyampaikan bahwa capaian positif di paruh pertama tahun ini membuktikan efektivitas strategi perusahaan dalam memperkuat ekosistem bisnis emas yang terintegrasi dari hulu ke hilir.
“Pencapaian pada semester pertama tahun ini menunjukkan bahwa strategi perseroan dalam memperkuat ekosistem bisnis emas terintegrasi telah memberikan hasil yang positif. Dengan fundamental bisnis yang semakin solid dan dukungan dari pertumbuhan permintaan institusi keuangan serta Bullion Bank, kami fokus pada penciptaan pertumbuhan yang berkelanjutan,” ujar Sandra dalam siaran pers resmi perusahaan, Senin (3/8).
Penguatan kinerja HRTA juga tidak lepas dari tren reli harga emas global dan domestik. Sepanjang Juli 2026, harga emas dunia bertahan di level tinggi dengan rata-rata USD 4.072,54 per troy ounce (+21,99% yoy). Di pasar domestik, harga emas rata-rata menyentuh Rp 2.356.050 per gram (+34,66% yoy), dipicu oleh ketegangan geopolitik Timur Tengah, arah suku bunga acuan The Fed dan Bank Indonesia di level 5,75%, serta tingginya permintaan masyarakat terhadap aset safe haven.
Memasuki paruh kedua tahun ini, manajemen HRTA optimistis prospek industri emas tetap menjanjikan. Konsensus analis global seperti UBS, Goldman Sachs, hingga JP Morgan memperkirakan harga emas dunia masih berpotensi menguji level USD 4.800 hingga melampaui USD 5.400 per troy ounce pada akhir 2026, didorong oleh kuatnya aksi beli bank sentral global dan diversifikasi cadangan devisa. ***

















