BI catat aliran modal asing US$ 8,5 miliar di Q2 2026. Cadangan devisa tergerus US$ 11 miliar untuk stabilisasi Rupiah dan utang luar negeri.
Stabilitas.id – Bank Indonesia (BI) mencatat derasnya aliran modal asing (net inflows) yang masuk ke instrumen portofolio domestik mencapai US$ 8,5 miliar atau setara Rp 153 triliun (asumsi kurs Rp 18.000 per dolar AS) pada kuartal II-2026.
- Baca juga: Lompatan Kemerdekaan dari Genggaman Digital
Pelaksana Tugas / Pejabat Sementara Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti, menjelaskan bahwa masuknya investasi portofolio asing tersebut terutama disokong oleh tingginya minat investor pada instrumen Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
“Aliran investasi portofolio asing didukung oleh SBN dan SRBI yang kemudian berlanjut pada kuartal III-2026 seiring dengan meningkatnya imbal hasil instrumen keuangan domestik,” ujar Destry dalam konferensi pers Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) di Jakarta, Senin (3/8).
BERITA TERKAIT
Derasnya arus modal masuk tersebut turut memperkuat otot mata uang Garuda. Setelah sempat mengalami gejolak pada pertengahan Juli akibat eskalasi konflik geopolitik Timur Tengah dan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed, nilai tukar rupiah berbalik menguat ke level Rp 17.994 per dolar AS pada penutupan perdagangan 31 Juli 2026.
Dari pilar eksternal, neraca perdagangan Indonesia sepanjang Januari hingga Juni 2026 masih membukukan surplus sebesar US$ 3,58 miliar, kendati pada Juni 2026 sempat mencatatkan defisit tipis sebesar US$ 0,45 miliar.
Cadangan Devisa Tergerus US$ 11 Miliar
Di sisi lain, BI mengungkapkan posisi cadangan devisa (cadev) Indonesia mengalami penurunan sekitar US$ 11 miliar atau setara Rp 198 triliun sepanjang tahun berjalan ini.
Destry menerangkan, posisi cadev Indonesia sempat menyentuh level tertingginya di kisaran US$ 156 miliar pada awal tahun 2026. Namun per akhir Juni 2026, posisinya terkoreksi menjadi US$ 145,6 miliar.
Pengurangan dana cadev tersebut dimanfaatkan BI secara terukur untuk dua kebutuhan utama, yakni intervensi di pasar valuta asing guna meredam volatilitas Rupiah serta pemenuhan pembayaran utang luar negeri pemerintah.
“Posisi cadangan devisa tertinggi kita di 2026 itu sekitar US$ 156 miliar, dan sekarang posisinya US$ 145 miliar. Pengurangan ini digunakan untuk stabilisasi dan juga pembayaran utang luar negeri, khususnya dari pemerintah karena dana pemerintah ada di BI,” kata Destry.
Kendati tergerus sekitar US$ 11 miliar, BI menegaskan bahwa struktur ketahanan sektor eksternal Indonesia masih dalam kondisi yang sangat prima.
Destry menekankan bahwa posisi cadev sebesar US$ 145,6 miliar masih sangat memadai lantaran mampu membiayai 5,4 bulan impor sekaligus pembayaran utang luar negeri pemerintah. Capaian tersebut berada jauh di atas standar kecukupan internasional yang menetapkan batas minimum benchmark selama 3 bulan impor. ***

















