Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat dan solid meskipun nilai tukar rupiah menyentuh level Rp 18.000 per dolar AS.
Stabilitas.id – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menilai fundamental ekonomi Indonesia masih tetap kokoh, meskipun nilai tukar rupiah kembali menyentuh level Rp 18.000 per dolar Amerika Serikat (AS). Pemerintah menegaskan ketahanan ekonomi domestik saat ini masih ditopang oleh pertumbuhan ekonomi yang positif, inflasi yang terkendali, neraca perdagangan, hingga stabilitas sektor perbankan.
“Kalau kita lihat, pertumbuhan ekonomi kemarin masih baik di 5,61 persen. Kemudian, neraca perdagangan secara year to date (ytd) juga masih positif,” ujar Airlangga.
Berdasarkan data Bloomberg, mata uang Garuda tercatat sempat menguat sebesar 63 poin atau 0,35% ke level Rp18.065 per dolar AS pada penutupan pekan lalu.
BERITA TERKAIT
Kinerja Ekspor Komoditas Utama Masih Stabil
Airlangga menjelaskan bahwa defisit neraca perdagangan yang terjadi dalam satu bulan terakhir bukan disebabkan oleh melemahnya daya saing ekspor, melainkan dipicu oleh lonjakan nilai impor bahan bakar minyak (BBM).
Di sisi lain, performa pengiriman komoditas unggulan non-migas Indonesia diklaim masih berada dalam posisi yang aman.
-
Volume dan nilai ekspor kelapa sawit, batu bara, serta ferro alloy dilaporkan relatif stabil dibandingkan dengan periode sebelumnya.
-
Pemerintah berkomitmen untuk terus menjaga momentum stabilitas ekspor komoditas utama ini dalam beberapa bulan ke depan.
Inflasi Terjaga
Dari sisi stabilitas harga, Airlangga menegaskan tingkat inflasi domestik masih bergerak sesuai dengan jalur yang ditetapkan pemerintah, yakni di kisaran 2,5% dengan toleransi plus minus 1%.
Guna menjaga daya saing korporasi dan industri nasional di tengah tekanan kurs, pemerintah tengah menyiapkan sejumlah insentif fiskal strategis, antara lain:
-
Pembebasan Bea Masuk Impor Bahan Baku Plastik: Insentif ini diberikan bagi industri kimia melalui implementasi Peraturan Menteri Keuangan (PMK) terbaru.
-
Fasilitas Bea Masuk Nol Persen Impor LPG: Fasilitas tarif 0% ini ditujukan untuk impor liquefied petroleum gas (LPG) yang digunakan sebagai bahan baku industri petrokimia, dengan masa berlaku selama enam bulan ke depan.
Prospek Ekonomi RI Dinilai Aman
Lebih lanjut, Airlangga menambahkan bahwa berbagai program stimulus ekonomi yang digulirkan pemerintah masih mencatatkan capaian yang positif. Program padat karya dan ketahanan daya beli seperti penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) serta kredit perumahan tetap berjalan sesuai target.
Optimisme pemerintah terhadap prospek ekonomi domestik ini juga sejalan dengan proyeksi sejumlah lembaga finansial internasional.
-
World Bank, Dana Moneter Internasional (IMF), hingga OECD masih memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia mampu bertahan di kisaran 5%.
-
Konsensus dari lembaga-lembaga internasional tersebut menilai bahwa secara umum perekonomian Indonesia berada dalam kondisi yang relatif aman dan solid menghadapi gejolak global. ***

















