Penyaluran kredit BRI mencapai Rp1.646 triliun pada Triwulan II/2026 atau tumbuh 16,2% yoy, melampaui pertumbuhan rata-rata kredit perbankan nasional sebesar 12,7% yoy.
Stabilitas.id — PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) mencatatkan penyaluran kredit sebesar Rp1.646 triliun hingga akhir Triwulan II/2026. Capaian ini tumbuh 16,2% secara tahunan (year-on-year/yoy) dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp1.417 triliun.
Laju pertumbuhan kredit bank berkode saham BBRI ini tercatat melampaui rata-rata industri perbankan nasional yang tumbuh 12,7% yoy. Ekspansi kredit tersebut turut mengerek total aset BRI mencapai Rp2.352 triliun, atau tumbuh 11,7% yoy.
Pertumbuhan penyaluran kredit ditopang oleh perolehan Dana Pihak Ketiga (DPK) yang mencapai Rp1.581 triliun, naik 6,7% yoy dari posisi Rp1.482 triliun pada Triwulan II/2025. Struktur pendanaan perseroan juga mencatatkan perbaikan, di mana rasio dana murah (Current Account Savings Account/CASA) meningkat dari 65,5% menjadi 67,6%.
BERITA TERKAIT
Di tengah laju ekspansi, kualitas aset perseroan tercatat membaik. Rasio kredit bermasalah (Non-Performing Loan/NPL) turun dari 3,0% pada Triwulan I/2026 menjadi 2,9% pada Triwulan II/2026. Penurunan risiko kredit ini diikuti efisiensi Cost of Credit yang membaik sekitar 30 basis poin dari 3,4% menjadi 3,1%.
“Berbagai agenda transformasi BRI bukan hanya rencana strategis ke depan, melainkan juga sudah kami eksekusi dan menunjukkan hasil yang positif terhadap kinerja BRI. Bisnis tumbuh semakin kuat, intermediasi meningkat, rasio kredit bermasalah menurun dan pada saat yang sama pertumbuhan tersebut mampu kami konversikan menjadi peningkatan profitabilitas,” kata Direktur Utama BRI, Hery Gunardi.
Hery menegaskan bahwa perseroan berfokus pada keseimbangan antara ekspansi, risiko, dan keberlanjutan bisnis. “Growth is back, strong. Kualitas pertumbuhan dari sisi risiko tetap kami jaga dan kami optimistis ke depan,” ujarnya.***

















