Asia Care Survey 2026 dari Manulife menunjukkan masyarakat Indonesia kini mengalokasikan 60% aset untuk persiapan pensiun mandiri guna memutus beban finansial anak di masa depan.
Stabilitas.id — Kesadaran masyarakat Indonesia untuk meraih kemandirian finansial di hari tua dan memutus beban sandwich generation bagi keturunannya menunjukkan tren pergeseran yang sangat positif. Berdasarkan riset Asia Care Survey 2026 yang digelar oleh Manulife, paradigma perencanaan keuangan keluarga mulai bergeser dari sekadar mewariskan harta menjadi persiapan masa pensiun yang bermartabat.
Survei yang melibatkan 9.000 responden di Asia (termasuk Indonesia) ini menemukan bahwa rata-rata masyarakat Indonesia kini membagi proporsi asetnya secara lebih terukur:
- 60% Aset untuk Pensiun: Dialokasikan secara khusus untuk menjaga kesejahteraan diri, memelihara kesehatan, dan instrumen modal yang dikembangkan sebagai bekal hidup mandiri.
- 40% Aset untuk Warisan: Disisihkan sebagai peninggalan murni untuk generasi penerus keluarga.
Chief Marketing Officer PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI), Eveline Haumahu, menilai perubahan cara pandang ini sangat relevan di tengah dinamika makroekonomi saat ini, di mana generasi muda menghadapi persaingan kerja yang ketat, jalur karier dinamis, dan lonjakan biaya hidup (cost of living).
BERITA TERKAIT
“Warisan terbaik bukan selalu aset terbesar. Warisan terbaik adalah ketika anak menerima sesuatu dari orang tuanya, sekaligus tetap memiliki kebebasan untuk membangun kehidupannya sendiri tanpa harus menjadikan dirinya sebagai dana pensiun keluarga,” ujar Eveline dikutip Jumat (11/9/2026).
Mitigasi Risiko Umur Panjang (Longevity Risk)
Pergeseran alokasi aset ini dilandasi oleh proyeksi demografi yang menuntut akumulasi likuiditas jangka panjang. Merujuk pada data Badan Pusat Statistik (BPS):
| Indikator Demografi & Finansial | Keterangan |
| Usia Harapan Hidup (BPS) | Sekitar 74 Tahun |
| Rata-Rata Usia Pensiun | 55 Tahun |
| Masa Pascapensiun | ± 19 hingga 20 tahun hidup tanpa penghasilan aktif dari pekerjaan tetap. |
| Instrumen Rekomendasi MAMI | Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK), Reksa Dana, dan ragam instrumen pasar modal lainnya. |
Eveline menegaskan bahwa durasi 20 tahun pascapensiun membutuhkan akumulasi dana yang masif dan harus dipupuk sedini mungkin. Saat ini, minimum investasi yang semakin terjangkau serta dukungan teknologi di industri keuangan memungkinkan setiap kelas pekerja untuk merintis bekal hari tuanya tanpa hambatan akses.
“Niat membebaskan anak-anak kita dari kewajiban menanggung hidup kita di masa pensiun, sudah lah baik. Akan tetapi, untuk menjadi pensiunan yang mandiri, diperlukan perencanaan finansial yang kuat,” tambah Eveline.

















