• Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
Sabtu, Oktober 24, 2026
  • Login
Stabilitas
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
Stabilitas
No Result
View All Result
 
Home Laporan Utama

Ekspektasi Tinggi Berbalut Risiko

by Sandy Romualdus
30 Juli 2015 - 00:00
10
VIEWS
Ekspektasi Tinggi Berbalut Risiko
0
SHARES
10
VIEWS

Oleh Agustaman

Mulai munculnya keberanian dari pengelola perusahaan milik negara untuk menggunakan transaksi  hedging menerbitkan kegairahan bagi industri perbankan Tanah Air. Bagaimana tidak, sebagai pelaku dominan dalam transaksi valuta asing dalam negeri, badan usaha negara adalah konsumen yang tak terelakkan bagi bank, terutama yang memiliki izin dalam transaksi devisa.

  • Baca juga: Daya Beli Tertekan Inflasi Pangan, Saldo Rekening di Bawah Rp100 Juta Turun ke Rp1,66 Juta

Bisnis hedging, yang tadinya sepi peminat dan membuat transaksi valuta asing di Indonesia masih minim, tampaknya akan segera marak pasca ditandatanganinya kesamaan persepsi mengenai lindung nilai oleh lembaga negara dan lembaga hukum tahun lalu. Meski demikian, bukan berarti pemberian layanan hedging dengan serta merta tidak lagi berisiko bagi bank.

BERITA TERKAIT

Jakarta Financial Festival 2026: Bank Jakarta Dinobatkan Jadi PUJK Literasi Keuangan Teraktif

Kredit Tembus Rp1.605 Triliun, Laba Bersih Bank Mandiri Melesat 20,7 Persen di Kuartal III/2026

Transformasi Digital dan Perang Talenta: Strategi BTN Merebut Takhta Bank Konsumer Terbesar

Sikapi Dinamika Bursa, BNI Pacu Aksi Buyback Terukur Berlandaskan Aset Rp1.434 Triliun

Bank-bank pelat merah saat ini tengah merengkuh manisnya bisnis hedging karena kompatriotnya yang sama-sama milik pemerintah lebih memilih menggunakan jasa mereka. Seperti yang dialami oleh Bank BNI, Bank Mandiri, dan Bank BRI. Ketiga bank tersebut sudah memiliki klien dalam layanan transaksi lindung nilai yang dilakukan oleh badan usaha milik negara (BUMN) macam PLN, Garuda Indonesia dan Pertamina.

Bank aset terbesar di Indonesia, Bank Mandiri, tentu tidak ingin tertinggal dengan perkembangan terkini terkait mulai digunakannya hedging oleh perusahaan negara nonbank. Direktur Korporasi Bank Mandiri Royke Tumilaar mengatakan bahwa pihaknya sudah berencana untuk memberikan fasilitas hedging sepanjang tahun ini senilai 3 miliar dollar AS. “Delapan korporasi sudah mulai hedging, ekspektasi volume hedging 2015 senilai 3 miliar dollar AS, jumlah BUMN yang ditargetkan untuk difasilitasi tahun ini ada 10 masih konservatif, kita akan pelan,” ujar dia.

Fasilitas hedging ini, lanjutnya, memperkuat perusahaan BUMN menghadapi tekanan volatilitas rupiah dan secara nasional dapat memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah.

April lalu, Bank Mandiri meneken kesepakatan terkait fasilitas hedging dengan PLN yang memiliki utang yang cukup besar dalam valuta asing. Menurut Royke, perusahaan yang dipimpin Sofyan Basir tersebut, memiliki kewajiban membayar utang luar negeri dan operasional dalam valuta asing. Di sisi lain, pendapatan usaha yang diterima kebanyakan dalam mata uang rupiah sehingga PLN terpapar potensi mismatch arus kas keuangan.

Saat ini pergerakan nilai tukar rupiah masih akan terus mengalami fluktuasi sebagai akibat dari membaiknya kondisi ekonomi Amerika Serikat dan adanya rencana The Fed melakukan normalisasi kebijakan moneter, dengan menaikkan suku bunga acuan pada 2015. Hal itu tentu meningkatkan kekhawatiran akan terdepresiasi mata uang rupiah yang berbuntut pada meningkatnya risiko nilai tukar. “Kami komitmen untuk mendukung upaya pemerintah dalam memperkuat perekonomian Indonesia. Di tengah kondisi perekonomian global yang saat ini  belum stabil,” ujar Royke.

Dia melanjutkan, kerja sama pemberian fasilitas hedging ke PLN merupakan kelanjutan dari Peraturan Menteri Badan Usaha Milik Negara Nomor PER-09/MBU/2013 tentang Kebijakan Umum Transaksi Lindung Nilai Badan Usaha Milik Negara.

“Kami mengharapkan tentunya kerja sama ini dapat memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah. Selain itu, juga bisa mengurangi tekanan volatilitas rupiah, terutama terhadap kinerja perusahaan BUMN,” kata Royke.

Seolah tak mau kalah Bank BNI pun sudah menyiapkan fasilitas lindung nilai untuk risiko kurs itu dengan jumlah yang sama dengan Bank Mandiri, yang merupakan gabungan untuk perusahaan swasta dan BUMN. “Nanti korporasi swasta hedging 1,5 miliar dollar AS dan BUMN 1,5 miliar dollar AS. 50:50 untuk korporasi dan BUMN,” kata Direktur Keuangan BNI Rico Rizal Budidarmo.

  • Baca juga: Bank BSN Perkuat Ekosistem UMKM Halal, Dorong Pertumbuhan Ekonomi Kerakyatan yang Inklusif

Sementara itu, Bank BRI juga akan memberikan fasilitas tersebut meski dengan besaran yang lebih rendah. Direktur Keuangan BRI Haru Koesmahargyo menuturkan BRI akan memberikan fasilitas hedging kepada BUMN sebesar 1,8 miliar dollar AS tahun ini. “Rencananya kami akan beri 1,4 miliar dollar AS ke BUMN dan 400 juta dollar AS ke swasta. Total BUMN yang diberi fasilitas rencananya 12 BUMN di tahun ini,” kata Haru.

Hingga bulan lalu, BRI tengah memproses transaksi hedging sebanyak 22 perusahaan, termasuk di antaranya 12 BUMN. Menurut Haru, ke depan, jumlah perusahaan yang akan melakukan transaksi hedging kemungkinan akan paling banyak berasal dari swasta. Namun, dari sisi transaksi hedging menurut dia, volume transaksi kemungkinan akan didominasi oleh BUMN.

“Jadi dari segi jumlah perusahaannya, BUMNnya sedikit, tapi volumenya besar. Pertamina saja misalnya, volumenya setengah dari total fasilitas transaksi hedging yang kami berikan ke seluruh BUMN,” kata Haru.

Mitigasi Risiko

Menurut sebagian ekonom atau para pelaku di pasar keuangan macam trader, cara terbaik untuk memahami hedging adalah dengan menganggapnya sebagai asuransi. Ketika sebuah perusahaan memutuskan untuk melakukan transaksi lindung nilai, maka mereka mengasuransikan perusahaan terhadap peristiwa negatif. Langkah tersebut memang tidak mencegah peristiwa negatif terjadi, tetapi jika itu tidak terjadi dan hedging sudah dilakukan, maka dampak dari peristiwa itu pada neraca keuangan perusahaan akan berkurang.

Di kalangan bank sendiri, skema paling sederhana dari lindung nilai adalah transaksi forward antara korporasi dengan bank. Misalnya, sebuah korporasi di Indonesia punya beban utang dalam dollar AS yang segera jatuh tempo. Untuk melunasi utang, korporasi itu bersepakat dengan bank membeli dollar AS memakai nilai tukar tertentu dalam rupiah pada tanggal tertentu di masa depan. Bila transaksi spot dilakukan maksimal dalam dua hari, maka transaksi forward punya batasan minimal waktu transaksi lebih dari dua hari sampai maksimal satu tahun.

Kurs atau nilai tukar forward biasanya ditentukan berdasarkan kurs spot dan selisih suku bunga kedua mata uang yang dipertukarkan. Dalam hal ini, korporasi memindahkan risiko penurunan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS kepada bank. Namun, bila ternyata saat transaksi dieksekusi nilai tukar rupiah jusru menguat, korporasi itu menanggung potensi kerugian selisih kurs dibanding bila mereka membeli dolar langsung secara tunai di pasar spot.

Transaksi lindung nilai lain yang lazim dilakukan adalah swap yang merupakan gabungan dari transaksi spot dan forward. Ini adalah transaksi pertukaran valuta asing terhadap rupiah melalui pembelian atau penjualan tunai di pasar spot, yang diikuti penjualan atau pembelian kembali secara berjangka (forward). Transaksi ini dilakukan dengan counterparty atau bank yang sama pada tingkat harga yang disepakati kedua pihak.

Sebagai institusi keuangan yang kompleks bank tentu telah memiliki cara untuk memitigasi risiko pemberian fasilitas itu ke nasabahnya. “Proses manajemen risiko pasar perlu dilakukan melalui proses yang sistematis dan terencana dengan baik,” kata Gayatri Rawit Angreni, pakar manajemen risiko.

  • Baca juga: Suku Bunga Tinggi dan Rupiah Loyo, OJK Evaluasi Revisi Rencana Bisnis 105 Bank

Proses itu dimulai dengan identifikasi dan analisis karakteristik risiko pasar yang melekat pada aktivitas fungsional perusahaan atau lembaga keuangan. Kemudian dilakukan pengukuran risiko pasar dengan cara evaluasi secara periodik terhadap penetapan asumsi, sumber data, dan prosedur yang digunakan untuk mengukur risiko pasar.

Kebijakan tindakan mitigasi risiko pasar termasuk tindakan hedging di perusahaan harus dituangkan dalam bentuk standard operational procedures (SOP).  “Kebijakan ini mengatur rencana dan limit risiko pasar yang dapat diterima perusahaan termasuk limit mitigasi risiko, struktur organisasi pengendali risiko pasar, dengan uraian tugas dan tanggung jawab, kewenangan memutus dan sistem pemantauan hasil,  operasionalisasi  dan eksekusi transaksi hedging, penyusunan dokumentasi,  serta pelaporan,” jelas Gayatri. ***

 
 
 
 
 
Previous Post

Menggali dan Memperlebar Kolam

Next Post

Melewati Periode Takut Tapi Butuh

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BACA JUGA

Related Posts

Sejarah Uang

Daya Beli Tertekan Inflasi Pangan, Saldo Rekening di Bawah Rp100 Juta Turun ke Rp1,66 Juta

by Stella Gracia
21 Oktober 2026 - 14:20

INDEF menyoroti fenomena makan tabungan akibat inflasi pangan di atas 5 persen yang membuat rata-rata saldo tabungan di bawah Rp100...

Bank BSN Perkuat Ekosistem UMKM Halal, Dorong Pertumbuhan Ekonomi Kerakyatan yang Inklusif

Bank BSN Perkuat Ekosistem UMKM Halal, Dorong Pertumbuhan Ekonomi Kerakyatan yang Inklusif

by Sandy Romualdus
21 Juli 2026 - 07:47

Bank BSN mendorong penguatan ekonomi kerakyatan, pengembangan kewirausahaan, serta pertumbuhan ekonomi yang inklusif, berkeadilan, dan berkelanjutan Stabilitas.id - Direktur Network...

Berantas Judi Online, OJK Perintahkan Bank Blokir 33.000 Rekening Penampung

Suku Bunga Tinggi dan Rupiah Loyo, OJK Evaluasi Revisi Rencana Bisnis 105 Bank

by Sandy Romualdus
10 Juli 2026 - 12:52

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tengah mengevaluasi revisi Rencana Bisnis Bank (RBB) 2026 yang diajukan oleh sekitar 105 bank akibat penyesuaian...

Respons Aturan KUR 5% Presiden Prabowo, OJK Minta Himbara Pertebal Pencadangan

by Sandy Romualdus
21 Mei 2026 - 14:50

Stabilitas.id — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyambut positif arahan Presiden RI Prabowo Subianto yang meminta perbankan pelat merah (Himbara) untuk...

Virsem LPPI #107: Bukan Sekadar Religi, Hijrah Finansial Jadi Tren Baru Ekonomi Berkelanjutan

Virsem LPPI #107: Bukan Sekadar Religi, Hijrah Finansial Jadi Tren Baru Ekonomi Berkelanjutan

by Sandy Romualdus
13 April 2026 - 14:54

Stabilitas.id — Industri perbankan syariah nasional terus menunjukkan tren pertumbuhan positif meski masih menghadapi tantangan penetrasi pasar yang belum optimal....

Menaker Terbitkan SE WFH 1 Hari Sepekan, Dorong Ketahanan Energi Nasional

Menaker Terbitkan SE WFH 1 Hari Sepekan, Dorong Ketahanan Energi Nasional

by Stella Gracia
1 April 2026 - 21:53

Stabilitas.id – Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli resmi mengimbau perusahaan swasta, Badan Usaha Milik Negara (BUMN), dan Badan Usaha Milik Daerah...

E-MAGAZINE

TERPOPULER

  • Transaksi Repo Tembus Rp17,5 Triliun per Hari, BI Luncurkan Tri-Party Agent Repo

    Transaksi Repo Tembus Rp17,5 Triliun per Hari, BI Luncurkan Tri-Party Agent Repo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • OJK dan Bappebti Perkuat Sinergi dalam Pengawasan Derivatif Keuangan Berbasis Efek

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • LinkUMKM Tembus 14 Juta User, BRI Dorong Kerajinan Ramah Lingkungan Go International

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menyiapkan Talenta Hijau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Keras Dan Menghantam

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pacu Belanja Turis Asing ke Daerah, Garuda Indonesia Luncurkan Skema Multi-Destinasi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Nakhoda Baru Askrindo: Mahelan Prabantarikso Gantikan M. Fankar Umran

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
 

Terbaru

Jakarta Financial Festival 2026: Bank Jakarta Dinobatkan Jadi PUJK Literasi Keuangan Teraktif

Kredit Tembus Rp1.605 Triliun, Laba Bersih Bank Mandiri Melesat 20,7 Persen di Kuartal III/2026

Transformasi Digital dan Perang Talenta: Strategi BTN Merebut Takhta Bank Konsumer Terbesar

Sikapi Dinamika Bursa, BNI Pacu Aksi Buyback Terukur Berlandaskan Aset Rp1.434 Triliun

Di Rakornas TPAKD 2026, Presiden Prabowo Janji Siapkan Pembiayaan Rakyat Rp400 Triliun

OJK Tegaskan Sanksi Denda Rp2,1 Triliun Bukan Akhir, Buka Peluang Jerat Pidana Pasar Modal

Redam Volatilitas Pasar, BRI Siapkan Buyback Saham Tahap II Senilai Rp1 Triliun

Perkuat Diplomasi Ekonomi, BRI Dorong Korporasi dan UMKM Lokal Masuk Rantai Pasok Global

Buka Akses Permodalan UMKM Perempuan, Kredivo Catat Lonjakan Pengguna hingga 10 Kali Lipat

STABILITAS CHANNEL

 
 
Next Post
Laba Bersih BII Tumbuh 13,9% di Semester I 2015

Laba Bersih BII Tumbuh 13,9% di Semester I 2015

  • Advertorial
  • Berita Foto
  • BUMN
  • Bursa
  • Ekonomi
  • Eksmud
  • Figur
  • Info Otoritas
  • Internasional
  • Interview
  • Keuangan
  • Kolom
  • Laporan Utama
  • Liputan Khusus
  • Manajemen Resiko
  • Perbankan
  • Portofolio
  • Resensi Buku
  • Riset
  • Sektor Riil
  • Seremonial
  • Syariah
  • Teknologi
  • Travel & Resto
  • UKM
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pesan Majalah
  • Kontak Kami
logo-footer

Copyright © 2021 – Stabilitas

Find and Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata

Copyright © 2021 Stabilitas - Governance, Risk Management & Compliance