Stabilitas.id – PT Wijaya Karya (Persero) Tbk. (WIKA) terus memacu pengerjaan proyek Jalan Tol Pelabuhan II atau Harbour Road 2 (HBR 2) seksi Ancol Timur–Pluit. Proyek strategis senilai Rp5,22 triliun ini menjadi salah satu penopang utama dalam agenda restrukturisasi dan penyehatan keuangan perseroan.
Hingga kuartal I/2026, emiten konstruksi pelat merah ini mencatatkan progres konstruksi fisik sebesar 32,31%. Proyek jalan tol layang (elevated) sepanjang 9,7 kilometer ini dimiliki oleh PT Citra Marga Nusaphala Persada Tbk. (CMNP).
Manajer Proyek HBR 2 WIKA, Hari Purnama, mengungkapkan bahwa tantangan utama saat ini masih berkisar pada pembebasan lahan yang baru mencapai 45% untuk porsi pengerjaan WIKA.
BERITA TERKAIT
“Jalan tol ini dibangun untuk mengurai kemacetan di koridor Jabodetabek. Kami berbagi porsi pengerjaan dengan kontraktor lain, yakni PT Girder Indonesia,” ujar Hari dalam media briefing di Jakarta Utara, Senin (6/4/2026).
Di tengah pengerjaan proyek besar, WIKA di bawah kepemimpinan Direktur Utama Agung Budi Waskito tengah menjalankan lima pilar strategi pemulihan:
-
Cash Focus: Prioritas pada likuiditas dan arus kas perusahaan.
-
Cost Efficiency: Melakukan efisiensi internal secara masif.
-
Market Expansion: Mengembalikan dominasi pasar di sektor konstruksi.
-
Innovation: Inovasi untuk menekan Harga Pokok Penjualan (HPP).
-
Core Business: Kembali fokus sebagai kontraktor murni, bukan pemrakarsa atau pemilik proyek.
Performa Kontrak dan Penjualan 2025
Meskipun masih dalam proses restrukturisasi utang, Agung menegaskan bahwa operasional 85 proyek berjalan senilai Rp31,35 triliun tetap terjaga tanpa hambatan berarti.
“Alhamdulillah proyek-proyek besar tidak terhambat. Kami tetap fokus melaksanakan kontrak yang sedang berlangsung dengan baik,” kata Agung.
Sepanjang tahun buku 2025, WIKA membukukan kontrak baru sebesar Rp17,46 triliun, yang mengerek total kontrak berjalan menjadi Rp50,52 triliun. Dari total kontrak tersebut, perseroan mencatatkan penjualan sebesar Rp20,45 triliun, dengan rincian:
-
Penjualan Non-KSO: Rp13,33 triliun.
-
Penjualan KSO: Rp7,12 triliun.
Atas performa tersebut, WIKA berhasil mengantongi laba kotor (gross profit) sebesar Rp1,13 triliun. Capaian ini menjadi modal penting bagi perseroan untuk terus memperbaiki struktur permodalan dan memenuhi kewajiban restrukturisasi di tahun 2026. ***
















