BERITA TERKAIT
Keluarga Cassim memiliki dan mengoperasikan sebuah rumah mode yang bermarkas di kota Johannesburg, Afrika Selatan. Perusahaan keluarga ini telah 75 tahun menyuplai tekstil ke jaringan ritel. Di samping itu, perusahaan juga menyuplai tirai dan selimut. Saat ini perusahaan dipimpin oleh Mahmood, sang ayah, dan kedua putranya, Abu dan Yusuf.
Perusahaan ini pada awalnya hanya mengelola secara ritel bisnisnya tersebut. Kemudian, mereka memperluas usahanya menjadi grosir tekstil. Namun keluarga Cassim kemudian memutuskan untuk menutup bisnis ritelnya dan berkonsentrasi sebagai grosir. Alasannya adalah mereka sudah menguasai seluk-beluk bisnis tekstil. Pelanggan mereka sudah paham betul apa ekspektasi mereka terhadap perusahaan. Demikian pula sebaliknya. Perusahaan telah paham kebutuhan mereka sehingga mudah dilayani. Basis pelanggan telah dibangun dengan baik. Sistem dan proses telah cukup mapan.
Keluarga Cassim telah memilih untuk berkonsentrasi dalam bisnis perdagangan tekstil. Ini tentu sah-sah saja. Namun ada pula perusahaan keluarga yang memilih strategi diversifikasi untuk mengembangkan bisnisnya. Contohnya adalah Cargill (AS), Tata Group (India), LG (Korea Selatan), dan Sabanci (Turki). Di Indonesia, banyak juga berusahaan keluarga yang melakukan diversifikasi usaha. Ini juga sah-sah saja. Tentu selama didasarkan pada kalkulasi bisnis yang matang.
Apapun strategi yang dilakukan, sama halnya dengan perusahaan lain, perusahaan keluarga juga memerlukan pertumbuhan. Pertumbuhan bisnis diperlukan demi mengoptimalkan sumber daya, memanfaatkan potensi pasar, mendahului pesaing masuk pasar, dan memanfaatkan peluang bisnis. Kesemuanya bertujuan untuk meningkatkan penjualan, laba, dan memberikan nilai tambah bisnis dalam jangka panjang. Pertumbuhan berarti meningkatnya pendapatan, keuntungan, pangsa pasar, jumlah pelanggan, jumlah karyawan, dan lokasi operasi. Bagi anggota keluarga, pertumbuhan perusahaan akan membantu mereka untuk memperluas cakrawala pemikiran.
Kembali kepada contoh keluarga Cassim di atas, meski hanya berkonsentrasi di bisnis tekstil, bukan berarti perusahaan tidak tumbuh. Terbukti dengan diperkenalkannya tirai dan selimut sebagai lini bisnis baru. Dengan terjun ke bisnis baru ini, Mahmood dan putraputranya belajar bagaimana cara merakit tirai dan selimut. Mereka juga belajar cara menjual kedua barang tersebut. Keluarga Cassim juga rajin melakukan inovasi dan pembaruan terhadap bisnis mereka. Kebijakan ini mendapat dukungan, baik secara emosional maupun finansial dari seluruh keluarga.
Meski demikian, perusahaan keluarga harus hati-hati dengan risikorisiko yang muncul seiring dengan tingginya pertumbuhan. Dalam konteks bisnis keluarga, ada dua risiko yang melekat, yaitu risiko bisnis dan risiko hubungan keluarga. Risiko-risiko bisnis yang harus diantisipasi adalah teknologi yang tidak lagi memadai seiring makin kompleksnya operasi bisnis, pesaing yang mulai masuk dan melancarkan serangan balik, kebutuhan dana yang meningkat, kurangnya karyawan dalam hal jumlah dan kompetensi, dan fasilitas produksi dan layanan yang tidak memadai sehingga harus ditingkatkan. Bertumbuhnya bisnis juga mengharuskan diterapkannya praktik-praktik manajemen yang lebih profesional. Struktur organisasi, sistem, dan prosedur harus mulai ditata. Tanpa pengelolaan yang baik, bisnis yang tumbuh cepat akan kewalahan melayani pelanggan, gangguan operasional, kekurangan karyawan yang kompeten, kesulitan dalam mengelola persediaan, dan menghadapi keluhan pelanggan yang tidak puas.
Pertumbuhan tinggi ternyata juga meningkatkan risiko pecahnya konflik di antara anggota keluarga. Di banyak perusahaan keluarga, konflik justru pecah tatkala perusahaan sedang tumbuh pesat. Saat awal didirikan, pendiri mudah meraih komitmen anggota keluarga. Mereka sadar harus bersatu agar dapat bertahan dan maju.
Komunikasi dan informasi mengalir tanpa distorsi. Keputusan lebih cepat diambil karena dominannya pendiri, yang memiliki kontrol kuat terhadap sumber daya dan terlibat dalam aktivitas keseharian perusahaan. Rasa saling percaya antar anggota keluarga tinggi. Jika terjadi perselisihan, pendiri sebagai sosok yang dihormati akan langsung turun tangan.
Namun saat perusahaan bertumbuh, hubungan antar anggota keluarga menjadi lebih kompleks. Kesuksesan juga menjadikan anggota keluarga terlalu percaya diri. Mereka bahkan mulai lebih mengedepankan kepentingan pribadi ketimbang bisnis. Akibatnya, keharmonisan anggota keluarga terganggu. Untuk mencegah hal ini, perusahaan harus menyusun struktur, sistem, dan prosedur organisasi, yang mengatur hak, kewajiban, tugas, dan tanggung jawab masing-masing anggota keluarga. Semakin dini disusun, semakin baik.
Pertumbuhan bisnis keluarga memang harus dipacu. Namun pertumbuhan tanpa mengantisipasi risiko berpotensi melahirkan bencana. Perusahaan perlu menyeimbangkan kapan saatnya harus menginjak gas, dan kapan harus menginjak rem.
















