Stabilitas.id – Bank Indonesia (BI) mencatatkan inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) pada Maret 2026 tetap terkendali dalam kisaran sasaran 2,5±1%. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi bulanan tercatat sebesar 0,41% (mtm), sementara inflasi tahunan melandai signifikan ke level 3,48% (yoy) dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 4,76% (yoy).
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, menyatakan bahwa terjaganya inflasi ini merupakan hasil konsistensi kebijakan moneter serta sinergi erat antara otoritas moneter dan pemerintah melalui Tim Pengendalian Inflasi (TPIP dan TPID).
Inflasi Inti dan Volatile Food Terkendali
BERITA TERKAIT
Meskipun terjadi peningkatan permintaan selama periode Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Idulfitri, kelompok inflasi inti dan pangan bergejolak menunjukkan tren yang stabil:
-
Inflasi Inti: Tercatat sebesar 0,13% (mtm) atau 2,52% (yoy). Penurunan ini dipicu oleh koreksi harga emas global serta ekspektasi inflasi yang tetap jangkar (anchored).
-
Volatile Food: Kelompok ini mengalami inflasi 1,58% (mtm), lebih rendah dari bulan sebelumnya (2,50% mtm). Komoditas seperti daging ayam ras, beras, dan telur ayam menjadi penyumbang utama di tengah momentum lebaran. Secara tahunan, inflasi pangan melandai ke 4,24% (yoy).
Tekanan pada Administered Prices
Di sisi lain, kelompok harga yang diatur pemerintah (administered prices) mencatatkan inflasi sebesar 0,31% (mtm), berbalik dari kondisi deflasi pada bulan sebelumnya. Kenaikan ini didorong oleh penyesuaian harga Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi, dan kenaikan tarif angkutan antarkota akibat peningkatan mobilitas masyarakat saat mudik Idulfitri.
Namun secara tahunan, inflasi administered prices turun drastis menjadi 6,08% (yoy) dibandingkan realisasi bulan sebelumnya yang sempat menyentuh 12,66% (yoy).
Bank Indonesia meyakini bahwa dengan penguatan implementasi Program Ketahanan Pangan Nasional serta Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS), inflasi akan tetap berada dalam jalur sasaran untuk sisa tahun 2026 hingga 2027.
Sinergi antara kebijakan moneter BI dan kebijakan fiskal pemerintah diharapkan terus menjadi bantalan kuat dalam menghadapi dinamika harga komoditas global maupun tekanan domestik. ***
















