• Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
Selasa, Oktober 27, 2026
  • Login
Stabilitas
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
Stabilitas
No Result
View All Result
 
Home Manajemen Risiko

Pesimisme Yang Berlanjut

by Sandy Romualdus
6 Agustus 2015 - 00:00
14
VIEWS
Pesimisme Yang Berlanjut
0
SHARES
14
VIEWS

BERITA TERKAIT

Tindak 330 Entitas Ilegal, Satgas PASTI dan IASC Blokir Rekening Penipuan Rp825,2 Miliar

CASA Tembus Rp733,7 Triliun, BNI Bukukan Laba Operasional Kuartal III Terbesar Sepanjang Sejarah

Alokasikan Rp1 Triliun di Tahap II, BRI Lanjutkan Aksi Korporasi Buyback Saham

IHSG Bangkit 4,9 Persen, OJK Perpanjang Relaksasi Buyback Saham dan Perketat Deteksi Transaksi

Sejak pertumbuhan ekonomi tiga bulan pertama tahun ini diumumkan, kekhawatiran mulai berhembus. Bahkan hingga kini, pertumbuhan sebesar 4,7 persen membawa pesimisme kepada target perekonomian sepanjang tahun ini. Pertumbuhan triwulanan itu menjadi lonceng penanda bahwa target tahun ini akan meleset.
Betul saja, pada Mei pemerintah merevisi pertumbuhan yang tadinya ditetapkan sebesar 5,7 persen pada APBN-P 2015, menjadi 5,4 persen. Di hadapan DPR, Menteri Keuangan Bambang PS Brodjonegoro mengatakan bahwa pemerintah mencoba realistis setelah melihat realisasi pertumbuhan di kuartal pertama.
Perekonomian global yang masih melemah dan kondisi negara mitra dagang Indonesia seperti Tiongkok, Jepang dan Eropa yang masih melesu menjadi alasan Menteri Keuangan mengubah target itu.
Akan tetapi belum genap dua bulan setelahnya Menteri Bambang lagi-lagi merevisi target tersebut dan menetapkan angka pertumbuhan di level 5,2 persen. Menurutnya revisi kali kedua ini adalah hal biasa. Sebab, International Monetary Fund (IMF) bahkan juga cukup sering merevisi pertumbuhan ekonomi global pada tahun ini. “Wajar kalau kami revisi lagi. Kami cari yang paling realistis,” kata Bambang.
Dijelaskan Bambang, pertumbuhan ekonomi harus direvisi lagi karena kemungkinan besar serapan belanja modal pemerintah hingga akhir tahun di kisaran 87-90 persen. Itu sudah dengan berbagai upaya percepatan yang dilakukan. “Dari sisi pemerintah, belanja modal yang paling berpengaruh mendorong pertumbuhan ekonomi,” kata Bambang.
Daya serap APBN tidak bisa maksimal, lanjut dia, karena ini adalah tahun pertama pemerintahan Joko Widodo sehingga membutuhan perubahan APBN yang telah ditetapkan oleh pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono.
Banyak perubahan program dan membutuhkan waktu menyiapkan daftar isian pelaksanaan anggaran. “Kemudian juga karena adanya perubahan nomenklatur di kementerian teknis seperti Pekerjaan Umum,” kata Bambang.
Selain itu, belum membaiknya harga komoditas juga menjadi alasan penting lain mengapa pemerintah merevisi pertumbuhan ekonomi. Sebab, anjloknya harga komoditas membuat Indonesia tidak bisa mengandalkan ekspor untuk menggenjot pertumbuhan.
Menurut kalangan pengamat pertumbuhan ekonomi dalam negeri memang akan melemah. Bahkan
Ekonom Senior Standard Chartered Eric Sugandi bahkan memprediksi pertumbuhan ekonomi hingga akhir tahun hanya mencapai 4,9 persen. “Awalnya kita sudah mulai dari 4,7 persen. Jadi berat kalau mau di atas lima persen,” jelas Eric.
Dia menambahkan, sebenarnya bisa saja mencapai lima persen tapi berat bila sampai 5,4 persen atau di atasnya. Ia mengakui, pada kuartal kedua ini pertumbuhan memang agak membaik, tapi masih berat untuk sampai ke lima persen. “Anggap kuartal kedua kita tumbuh 4,9 atau 4,8 persen, agar sampai ke lima persen kan kita perlu tingkatkan di kuartal berikutnya. Nah bisa nggak?” kata dia.
Eric menyebutkan, pertumbuhan ekonomi Indonesia terus menurun. Pada 2010 mencapai 6,4 persen, 2011 turun menjadi 6,2 persen, lalu 2012 menjadi 6 persen. Selanjutnya 2013 tumbuh 5,6 persen, kemudian turun menjadi 5 persen pada 2014.
Menurutnya, ada empat faktor penyebab turunnya pertumbuhan ekonomi. Pertama lemahnya harga komoditas, kedua pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar, ketiga stabilitas politik, dan terakhir lambatnya belanja modal.
Akan tetapi menunjuk kondisi global sebagai biang keladi melemahnya perekonomian tidak benar seratus persen.
Direktur Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Enny Sri Hartati, mengatakan buruknya kualitas perekonomian bangsa tidak serta merta dapat kesalahan dari ekonomi global. Menurut dia, pemerintah seharusnya sudah mengetahui hal ini dan dapat mengantisipasinya.
“Pertumbuhan ekonomi kita semakin merosot. oke keadaan global wajar penurunan ekonomi tetapi kualitas pertumbuhan menurun ini juga yang sangat mengecewakan dan harus menjadi perhatian khusus,” tutur Enny.
Menurutnya, banyak indikator yang menujukan kualitas perekonomian nasional memburuk. Seperti tidak sesuainya target pemerintah dan realisasinya. Presiden Joko Widodo sejak awal ingin berfokus untuk menumbuhkan sektor produksi, namun kenyataannya, sambung dia, justru sektor jasa yang semakin tinggi. Padahal, sektor produksilah yang jauh lebih banyak menyerap tenaga kerja.
“Padahal sektor-sektor tersebut relatif kedap dalam menyerap tenaga kerja, khususnya tenaga kerja formal. Struktur kontribusi lebih ke jasa, Jokowi lebih kepada penciptaan barang. Tapi justru sektor riil makin drop, yang tumbuh sektor jasa,” ujar Enny.
Menurutnya buruknya kualitas pertumbuhan ekonomi itu merupakan salah satu dari 10 indikator perekonomian yang berada dalam lampu kuning. Oleh karena itu Jokowi diminta untuk cepat-cepat mengevaluasi menteri-menteri di bidang ekonomi.
“Publik ingin evaluasi, apakah evaluasi berujung reshuffle itu kewenangan presiden. Dalam kinerja ekonomi sampai triwulan I bukan sekedar penurunan ekonomi. Kabinet ini evaluasi tidak bisa per menteri karena hasil kerja ekonomi tidak semata-mata tim ekonomi,” kata Enny lagi.
Pada tahun 2009, perekonomian nasional masih tumbuh baik meski sempat terkena imbas resesi global. Di saat puncak resesi dunia pada 2009, Indonesia tercatat menjadi salah satu negara yang membukukan pertumbuhan ekonomi positif, hanya kalah dari China dan India. Ekonomi Indonesia tumbuh 4,50 persen pada tahun itu. Dalam lima tahun terakhir, perekonomian nasional rata-rata tumbuh 5,97 persen per tahun. Jika tidak memperhitungan input dari minyak dan gas, rata-rata pertumbuhan ekonomi mencapai 6,42 persen pertahun.

  • Baca juga: Dua Tahun Beruntun, BNI Pertahankan Predikat Tertinggi GCG di IICD Award 2026

Revisi Ramai-Ramai

Perubahan target pertumbuhan tidak hanya dilakukan pemerintah, malah lembaga-lembaga lain sudah banyak yang menyarankan kepada pemerintah agar merevisi targetnya. Awal Juni Bank Dunia mengumumkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini hanya akan mencapai 4,7 persen, sama seperti pencapaian di kuartal pertama.
Pertumbuhan, menurut prediksi lembaga donor tersebut, baru akan mencapai level 5 persen mu lai akhir tahun depan. “Pertumbuhan ekonomi RI akan mulai naik menjadi 5,5 persen pada 2016-2017. Pertumbuhan ekonomi ini didukung oleh pemulihan investasi dan ekspor yang kuat,” demikian Laporan Bank Dunia.
Dalam laporan Prospek Ekonomi Global, Bank Dunia menyatakan pertumbuhan ekonomi global akan mengalami perlambatan, dengan pertumbuhan ekonomi global hanya 2,8 persen di 2015.
Bank Dunia menyatakan, negara-negara berkembang menghadapi serangkaian tantangan berat di 2015. Termasuk, adanya prospek biaya pinjaman yang lebih tinggi dan harus beradaptasi dengan era baru minyak dan komoditas penting lainnya yang lebih rendah. “Semenjak krisis keuangan, negara berkembang adalah mesin pertumbuhan dunia. Tetapi sekarang mereka menghadapi kondisi ekonomi yang lebih sulit,” kata Presiden Bank Dunia Jim Yong Kim.
Ekonom senior Bank Dunia, Franziska Ohnsorge, mengatakan perlambatan yang berlarut-larut berlangsung di banyak negara berkembang. Disebabkan lemahnya bidang pertanian, listrik, transportasi, infrastruktur, dan layanan ekonomi penting lainnya. “Reformasi struktural di semua bidang semakin mendesak,” dalam pengumuman yang sama.
Sebelumnya Bank Indonesia juga sudah menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi hanya akan mencapai 5,4 persen, merevisi pernyataan sebelumnya yang mengatakan 5,1 persen. Agus DW Martowardojo, Gubernur BI mengatakan, meskipun lebih rendah namun pertumbuhan tersebut lebih tinggi dibanding tahun lalu. Pertumbuhan terutama di kuartal berikutnya, kata dia, akan didorong oleh konsumsi pemerintah dan investasi bangunan sejalan dengan pembangunan proyek infrastruktur. Selain itu pertumbuhan ekspor juga diperkirakan akan tumbuh positif, meski memang akan tertahan karena lemahnya harga komoditas masih berlanjut.
Untuk kuartal III dan IV, lanjut Agus juga akan didukung oleh keberlanjutan konsumsi dan investasi, realisasi fiskal pemerintah, dan juga relalisasi kredit perbankan. “Peningkatan penyaluran kredit masyarakat diharapkan mampu mendorong konsumsi rumah tangga,” kata Agus.
Bulan lalu, BI merevisi aturan persyaratan penyaluran kredit konsumer di sektor perumahan dan kendaraan bermotor. Uang muka yang sebelumnya dipersyaratkan sebesar 30 persen setiap pembelian rumah tertentu, kini angkanya diturunkan lebih rendah.

  • Baca juga: Operasi Senyap di Gedung BNPB: KPK Amankan Sejumlah Pihak dan Gelar Perkara Kilat
 
 
 
 
 
Previous Post

Kembalinya Dilema Itu

Next Post

Korban Ekspetasi Tinggi

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BACA JUGA

Related Posts

Dua Tahun Beruntun, BNI Pertahankan Predikat Tertinggi GCG di IICD Award 2026

Dua Tahun Beruntun, BNI Pertahankan Predikat Tertinggi GCG di IICD Award 2026

by Sandy Romualdus
20 Oktober 2026 - 05:21

BNI mempertahankan predikat tertinggi Leadership in Corporate Governance di ajang The 17th IICD Award 2026 dan meraih posisi GCG terbaik...

Operasi Senyap di Gedung BNPB: KPK Amankan Sejumlah Pihak dan Gelar Perkara Kilat

Operasi Senyap di Gedung BNPB: KPK Amankan Sejumlah Pihak dan Gelar Perkara Kilat

by Stella Gracia
14 Oktober 2026 - 09:08

KPK menggelar OTT terhadap pejabat BNPB dengan pendampingan Puspom TNI di Jakarta, status hukum pihak terperiksa diumumkan dalam 1x24 jam....

Bedah RUU Perampasan Aset: Urgensi, Titik Kritis, dan Syarat Mutlak Enam Pagar Pelindung

Bedah RUU Perampasan Aset: Urgensi, Titik Kritis, dan Syarat Mutlak Enam Pagar Pelindung

by Sandy Romualdus
12 Oktober 2026 - 11:39

Pakar hukum merumuskan enam pagar pelindung RUU Perampasan Aset guna mencegah penyalahgunaan kekuasaan aparat dalam skema sita tanpa pidana (NCBAF)....

Perkuat Budaya ‘4 No’s’: KRQA-SQC Audit Sistem Anti Penyuapan di Bandara Adi Soemarmo

Perkuat Budaya ‘4 No’s’: KRQA-SQC Audit Sistem Anti Penyuapan di Bandara Adi Soemarmo

by Sandy Romualdus
4 Oktober 2026 - 14:49

KRQA-SQC menggelar audit surveilans ISO 37001:2025 di Bandara Adi Soemarmo Solo guna memastikan penerapan prinsip anti penyuapan 4 No's. Stabilitas.id...

Tempatkan 700 Awak Kapal Pesiar: PT Ships Crew Indo Jalani Audit ISO dan Sertifikasi MLC 2006

Tempatkan 700 Awak Kapal Pesiar: PT Ships Crew Indo Jalani Audit ISO dan Sertifikasi MLC 2006

by Sandy Romualdus
30 September 2026 - 14:42

PT Ships Crew Indo Inc. menjalani audit ISO 9001:2015 dan MLC 2006 usai menyalurkan lebih dari 700 pelaut Indonesia ke...

Kendalikan Risiko ‘Black Box’ dan Deepfake, OJK Rilis Kerangka Tata Kelola AI Berbasis Prinsip

Kendalikan Risiko ‘Black Box’ dan Deepfake, OJK Rilis Kerangka Tata Kelola AI Berbasis Prinsip

by Sandy Romualdus
25 September 2026 - 15:29

Deputi Komisioner OJK Deden Firman Hendarsyah menegaskan prinsip human-in-the-loop dan tata kelola AI perbankan berbasis risiko pada Seminar LPPI #109....

E-MAGAZINE

TERPOPULER

  • Transaksi Repo Tembus Rp17,5 Triliun per Hari, BI Luncurkan Tri-Party Agent Repo

    Transaksi Repo Tembus Rp17,5 Triliun per Hari, BI Luncurkan Tri-Party Agent Repo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • OJK dan Bappebti Perkuat Sinergi dalam Pengawasan Derivatif Keuangan Berbasis Efek

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • LinkUMKM Tembus 14 Juta User, BRI Dorong Kerajinan Ramah Lingkungan Go International

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menyiapkan Talenta Hijau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Keras Dan Menghantam

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pacu Belanja Turis Asing ke Daerah, Garuda Indonesia Luncurkan Skema Multi-Destinasi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Nakhoda Baru Askrindo: Mahelan Prabantarikso Gantikan M. Fankar Umran

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
 

Terbaru

Tindak 330 Entitas Ilegal, Satgas PASTI dan IASC Blokir Rekening Penipuan Rp825,2 Miliar

CASA Tembus Rp733,7 Triliun, BNI Bukukan Laba Operasional Kuartal III Terbesar Sepanjang Sejarah

Alokasikan Rp1 Triliun di Tahap II, BRI Lanjutkan Aksi Korporasi Buyback Saham

IHSG Bangkit 4,9 Persen, OJK Perpanjang Relaksasi Buyback Saham dan Perketat Deteksi Transaksi

CBI Luncurkan Empat Solusi Credit Intelligence, Perluas Akses Kredit bagi 137 Juta Calon Debitur

Salurkan KUR Rp144,59 Triliun hingga Agustus 2026, BRI Fokus Biayai Sektor Produksi

Pendaftar Haji Tumbuh 64 Persen, CIMB Niaga Syariah Perkuat Layanan Nasabah di Surabaya

Hampir 30 Tahun Terjebak Middle Income Trap, Kepala Bappenas Dorong Inovasi dan Industri Semikonduktor

Studi Sun Life: 82 Persen Perempuan Generasi Sandwich Terhambat Bangun Ketahanan Finansial

STABILITAS CHANNEL

 
 
Next Post
BUMN Bersihkan dan Hijaukan Kawasan Muara Angke

BUMN Bersihkan dan Hijaukan Kawasan Muara Angke

  • Advertorial
  • Berita Foto
  • BUMN
  • Bursa
  • Ekonomi
  • Eksmud
  • Figur
  • Info Otoritas
  • Internasional
  • Interview
  • Keuangan
  • Kolom
  • Laporan Utama
  • Liputan Khusus
  • Manajemen Resiko
  • Perbankan
  • Portofolio
  • Resensi Buku
  • Riset
  • Sektor Riil
  • Seremonial
  • Syariah
  • Teknologi
  • Travel & Resto
  • UKM
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pesan Majalah
  • Kontak Kami
logo-footer

Copyright © 2021 – Stabilitas

Find and Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata

Copyright © 2021 Stabilitas - Governance, Risk Management & Compliance