Stabilitas.id – Sektor industri pengolahan nasional menunjukkan resiliensi dan optimisme yang solid di awal tahun 2026. Bank Indonesia (BI) melaporkan bahwa kinerja lapangan usaha industri pengolahan pada triwulan I/2026 berada dalam fase ekspansi yang semakin menguat.
Berdasarkan laporan Prompt Manufacturing Index (PMI-BI) yang dirilis, indeks manufaktur Indonesia tercatat berada di level 52,03%. Angka ini mencatatkan kenaikan tipis dibandingkan kinerja pada triwulan sebelumnya (IV/2025) yang berada di level 51,86%.
Sebagai catatan, dalam standar pengukuran ekonomi, angka PMI di atas 50% mengindikasikan fase ekspansi atau pertumbuhan, sementara angka di bawah 50% menandakan kontraksi.
BERITA TERKAIT
Direktur Departemen Komunikasi Bank Indonesia Anton Pitono dalam keterangan resmi, dikutip Senin (20/4/2026) menjelaskan, ekspansi ini didorong oleh solidnya tiga komponen utama pembentuk indeks manufaktur. “Kinerja industri pengolahan yang berada pada fase ekspansi tecermin dari penguatan pada volume persediaan barang jadi, volume produksi, dan volume total pesanan,” tulis laporan tersebut.
Data ini menjadi sinyal positif bahwa permintaan pasar, baik domestik maupun potensi ekspor, masih terjaga dengan baik. Hal ini sekaligus menunjukkan bahwa rantai pasok industri di dalam negeri mampu merespons dinamika permintaan dengan kapasitas yang memadai.
Sektor Unggulan
Secara sektoral, pertumbuhan tidak merata, namun terdapat beberapa sub-lapangan usaha (Sub-LU) yang menjadi motor penggerak utama pertumbuhan manufaktur nasional pada periode Januari–Maret 2026.
Beberapa sub-sektor yang mencatatkan indeks ekspansi tertinggi di antaranya:
-
Industri Kertas dan Barang dari Kertas, Percetakan, dan Reproduksi Media Rekaman.
-
Industri Kulit, Barang dari Kulit, dan Alas Kaki.
-
Industri Makanan dan Minuman.
Dominasi sektor makanan dan minuman, serta industri alas kaki, menegaskan bahwa konsumsi rumah tangga tetap menjadi tulang punggung pertumbuhan ekonomi Indonesia di tengah tantangan global.
Proyeksi Triwulan II/2026: Masih Ekspansif
Optimisme para pelaku usaha diperkirakan berlanjut hingga triwulan II/2026. Berdasarkan survei Bank Indonesia, kinerja industri pengolahan diprakirakan tetap berada pada fase ekspansi dan bahkan sedikit meningkat ke level 52,26%.
Pertumbuhan di triwulan berikutnya diprediksi akan kembali ditopang oleh tiga pilar yang sama: volume produksi, volume persediaan barang jadi, dan total pesanan.
Adapun dari sisi sektoral, pelaku usaha optimistis bahwa sub-sektor Industri Furnitur akan bergabung dengan jajaran sektor dengan kinerja terbaik, bersanding dengan Industri Kulit/Alas Kaki dan Industri Makanan & Minuman yang diprediksi tetap stabil di zona ekspansi.
Dengan tren yang terjaga di atas level 50% ini, sektor manufaktur diharapkan dapat terus memberikan kontribusi positif bagi pertumbuhan ekonomi nasional, sekaligus menjadi bantalan di tengah ketidakpastian ekonomi global yang masih membayangi.
*** Catatan Redaksi: PMI-BI merupakan indikator awal (leading indicator) yang digunakan untuk memantau kinerja sektor industri pengolahan secara cepat dan akurat.
















