Stabilitas.id – Eskalasi konflik di Timur Tengah memasuki fase kritis setelah Iran mengeluarkan ancaman keras untuk menutup total Selat Hormuz. Langkah ekstrem ini dipicu oleh gertakan Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, yang mengancam akan menghancurkan pembangkit listrik Iran jika Teheran tidak segera membuka akses penuh di jalur air strategis tersebut.
Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menegaskan bahwa serangan apa pun terhadap infrastruktur vital negaranya akan dibalas dengan penghancuran permanen terhadap fasilitas energi dan minyak di seluruh kawasan regional.
“Segera setelah pembangkit listrik kami menjadi sasaran, infrastruktur vital serta fasilitas energi di seluruh wilayah akan dianggap sebagai target sah dan akan dihancurkan secara permanen,” tegas Ghalibaf melalui akun resminya di platform X, dikutip Senin (23/3/2026).
BERITA TERKAIT
Selat Hormuz merupakan urat nadi energi dunia yang menjadi jalur lintasan bagi sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) global. Penutupan atau gangguan di jalur ini telah memicu kekhawatiran akan terjadinya krisis minyak terburuk sejak dekade 1970-an.
Ghalibaf memperingatkan bahwa aksi pembalasan dari Teheran tidak hanya akan merusak fisik infrastruktur, tetapi juga akan membuat harga minyak mentah dunia bergejolak dalam jangka waktu yang sangat lama.
Saling Tuding AS-Iran
Ketegangan ini memanas setelah Donald Trump memberikan tenggat waktu 48 jam bagi Iran untuk membuka Selat Hormuz pada Sabtu (21/3/2026). Jika diabaikan, AS mengancam akan melumpuhkan sektor kelistrikan Iran.
Di sisi lain, Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengklarifikasi bahwa Selat Hormuz secara teknis tetap terbuka untuk aktivitas pelayaran umum, kecuali bagi kapal-kapal yang berafiliasi dengan pihak yang dianggap musuh.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, justru menuding AS dan Israel sebagai biang kerok gangguan logistik saat ini. Menurutnya, keraguan kapal-kapal untuk melintas lebih disebabkan oleh kekhawatiran perusahaan asuransi terhadap “perang pilihan” yang dipicu oleh pihak Barat.
“Kapal-kapal ragu karena perusahaan asuransi takut akan perang yang Anda picu, bukan karena Iran. Tidak ada ancaman yang akan menggoyahkan kami,” cetus Araghchi.
Hingga saat ini, pasar energi global terus memantau setiap detik perkembangan di Selat Hormuz. Analis menilai, gangguan sekecil apa pun di jalur ini akan langsung mengerek inflasi energi di berbagai negara, termasuk memaksa negara-negara importir minyak untuk segera melakukan penyesuaian harga domestik. ***
















