Stabilitas.id – Volatilitas pasar energi global mencapai titik ekstrem setelah Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, secara mengejutkan mengumumkan penundaan serangan terhadap infrastruktur energi Iran selama lima hari. Langkah ini diklaim Trump sebagai bagian dari dimulainya proses negosiasi untuk mengakhiri konflik di Timur Tengah.
Melalui media sosialnya pada Senin (23/3/2026), Trump menyatakan bahwa kedua belah pihak telah terlibat dalam pembicaraan yang “sangat baik dan produktif”. Namun, pernyataan tersebut segera memicu kebingungan setelah media resmi Iran, Tasnim, membantah adanya pertemuan atau negosiasi apa pun dengan pihak Washington sejauh ini.
Reaksi Instan Pasar Komoditas
BERITA TERKAIT
Meskipun kebenaran negosiasi tersebut masih simpang siur, pasar merespons cepat klaim de-eskalasi ini. Harga minyak mentah dunia dilaporkan anjlok lebih dari 11% sesaat setelah unggahan Trump muncul.
“Trump jelas mencoba menurunkan harga,” ujar Bjarne Schieldrop, Kepala Analis Komoditas di SEB AB. Menurutnya, stabilitas pasar saat ini sangat bergantung pada pembukaan kembali Selat Hormuz yang hampir lumpuh total sejak Februari lalu.
Tenggat Waktu dan Ancaman Balasan
Sebelumnya, Trump memberikan tenggat waktu hingga Senin malam waktu New York bagi Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz. Jika tidak, AS dan Israel mengancam akan membom pembangkit listrik Iran. Teheran sendiri telah bersiap melakukan serangan balasan terhadap fasilitas teknologi informasi dan infrastruktur air di seluruh kawasan jika ancaman tersebut terealisasi.
Badan Energi Internasional (IEA) menggambarkan situasi ini sebagai gangguan pasokan minyak terbesar sepanjang sejarah. Arus logistik global terhenti bukan hanya karena blokade fisik, tetapi juga karena ketakutan pemilik kapal (shipowners) terhadap risiko keselamatan pelaut di wilayah konflik.
Revisi Proyeksi Wall Street
Di tengah ketidakpastian ini, bank-bank besar di Wall Street mulai mengalkulasi ulang dampak inflasi. Goldman Sachs Group Inc. secara resmi menaikkan proyeksi harga minyak mentah rata-rata tahun ini menjadi US$85 per barel, naik dari perkiraan sebelumnya yang sebesar US$77 per barel.
Meskipun potensi penghentian permusuhan dapat meringankan tekanan inflasi, para analis memperingatkan bahwa pemulihan pasokan energi tidak akan terjadi dalam semalam. Pemilik kapal memerlukan jaminan keamanan absolut sebelum berani melintasi kembali urat nadi energi dunia di Selat Hormuz. ***
















