Selama 2011, risiko pasar nyaris tak terdengar menyentuh industri perbankan di Indonesia. Irama risiko pasar mulai terdengar sejak krisis AS dan Eropa belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir. Namun demikian kondisi perbankan nasional dinilai masih kuat menangkal dampak krisis itu.
Oleh : Yudi Rachman
Tahun 2011 yang sebulan lagi kita lewati, telah memberi kejutan yang teramat dahsyat ketika lembaga pemeringkat Standard & Poor’s (S&P) mengumumkan penurunan peringkat surat berharga yang diterbitkan Pemerintah AS. Dengan kalimat lain, utang pemerintah AS kini memiliki risiko yang lebih besar dari sebelumnya.
BERITA TERKAIT
Kondisi tersebut tentu saja memberi guncangan yang tak kalah hebat kepada perekonomian global yang masih sempoyongan sejak krisis keuangan 2008. Padahal awan gelap yang menaungi langit Eropa belum juga menunjukkan tandatanda akan berakhir, bahkan terlihat makin gelap.
Keadaan di AS dan Eropa memang belum cukup untuk membuat pemangku kebijakan sektor keuangan khawatir hal itu akan berimbas ke perekonomian nasional. Terlihat sejak awal tahun belum ada perubahan kebijakan maupun kondisi yang memaksa otoritas untuk bergerak segera mengendalikan pasar.
Suku bunga moneter sepanjang paro pertama tahun ini masih kukuh berada di tempatnya 6,75 persen. Nilai tukar rupiah atas dollar AS meski agak melemah, secara keseluruhan berada dalam posisi stabil dan tak pernah lewat dari selang Rp8.600-8.700 per dollar AS.
Bahkan nilai tukar rupiah sempat menikmati posisi terkuatnya di kisaran Rp8.500 per dollar AS hingga akhir Agustus.
Melihat kenyataan itu, tidak berlebihan jika disimpulkan bahwa perbankan pada enam bulan pertama tahun ini tidak terlalu direpotkan dengan yang namanya risiko pasar. Risiko ini muncul jika ada perubahan-perubahan yang cukup mendadak atau peningkatan yang drastis pada suku bunga dan nilai tukar sehingga memunculkan risiko kerugian pada portofolio yang dimiliki bank. Risiko pasar antara lain terdapat pada aktivitas treasury serta investasi, kegiatan pembiayaan dan pendanaan, serta kegiatan pembiayaan perdagangan.
Namun demikian ketika memasuki September, nilai tukar mulai sedikit bergolak meninggalkan kisaran Rp8.500 per dollar AS. Bahkan keadaan mulai membuat was-was ketika rupiah menembus kisaran Rp8.600 per dollar AS, bahkan Rp8.700-an per dollar AS pada pertengahan September.
Bank Indonesia awalnya masih tenangtenang saja menghadapi pelemahan yang diyakini disebabkan oleh krisis Eropa yang makin tidak menentu. Akan tetapi sesuatu yang mengagetkan pasar terjadi. BI memutuskan untuk menurunkan suku bunga acuan 25 basis poin menjadi 6,5 persen. Sebelumnya selama 18 bulan berturut-turut BI Rate terus bertahan di level 6,75 persen.
Sontak saja banyak kalangan yang terhenyak melihat ini apalagi kebanyakan analis memprediksi BI baru akan menurunkan bunga acuan paling cepat sebulan sebelum akhir tahun 2011.
Tentu saja perubahan ini membuat semua analis, ekonom dan pengamat mengubah prediksinya terutama soal suku bunga pada 2012. Apalagi pada November kemarin, angka inflasi nasional mencapai nilai minus alias terjadi deflasi. Hal itu bisa jadi memberi sinyal bahwa inflasi memang sudah bisa dikendalikan dan akan berada dalam kisaran target yang ditetapkan BI.
Darsono, peneliti ekonomi utama Direktorat Kebijakan Moneter dan Riset Ekonomi BI berpendapat, angka inflasi pada 2012 diperkiraka tidak akan lebih tinggi dari angka 4,5 persen plus minus satu persen. ”Itu sudah dihitung oleh BI,” katanya. Menurut dia juga, angka perkiraan inflasi tersebut masih dalam batas asumsi inflasi yang ditetapkan dalam APBN 2012 sebesar 5,3 persen.
Tentu saja hal itu membuat pengamat memprediksi bahwa penurunan BI Rate Oktober lalu bukanlah pemangkasan yang terakhir. Seperti yang diungkapkan oleh ekonom senior Standard Chartered Bank Fauzi Ichsan.
Dia mengatakan bahwa tingkat inflasi 2012 akan relatif bisa dikendalikan oleh otoritas fiskal dan moneter. ”Dengan adanya deflasi (pada Oktober 2011) serta ekpektasi inflasi tahun depan yang juga relatif rendah, maka ada ruang bagi BI untuk menurunkan BI Rate turun 2011 ini atau awal tahun depan,” kata Fauzi. Dia mengatakan tidak menutup kemungkinan BI Rate akan diturunkan lagi oleh otoritas moneter.
Lalu bagaimana dengan nilai tukar? BI memang mulai direpotkan dengan pergerakan nilai tukar jelang akhir tahun ini, meski demikian rupiah tetap akan diarahkan di kisaran Rp8.700 hingga Rp8.800 per dollar AS.
Untuk tahun depan, karena aliran modal asing diperkirakan mulai berkurang terkait tingkat keparahan krisis Eropa dan AS maka BI mengatakan bahwa nilai tukar akan sedikit melemah. “Untuk tahun 2012, BI memperkirakan rupiah akan mengalami pelemahan sehubungan dengan berkurangnya arus capital inflow dan neraca pembayaran yang kian menurun,” kata Gubernur BI, Darmin Nasution.
Selain itu, susutnya surplus Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) juga mempengaruhi nilai tukar rupiah ke arah pelemahan. Berkurangnya NPI disebabkan oleh tipisnya neraca modal dan keuangan yang disebabkan minimnya atau bahkan tidak adanya transaksi uang berjalan. ”Dari situ maka rata-rata 2012 nilai tukar rupiah itu akan bergerak di Rp8.600-9.100 per dollar AS. Jadi kecenderungannya agak melemah dari tahun ini Rp8.700, tahun depan sedikit melemah,” kata Darmin.
RESPONS DAN PENGARUH
Makin lebarnya peluang penurunan suku bunga acuan tentu menjadi angin segar bagi kalangan perbankan. Dengan begitu risiko terkait kerugian dalam penyaluran kredit dan penempatan investasi di beragam instrumen bisa ditekan. Direktur Utama PT Bank Central Asia Tbk (BCA) Jahja Setiadmadja mengatakan, penurunan suku bunga rata-rata Bank Indonesia (BI) menjadi 6,00 persen berdampak baik pada perbankan. Jadi kalau suku bunga kemungkinan akan turun lagi tentu dampak tersebut akan lebih besar terlihat. “Bagus untuk pertumbuhan kredit dan kestabilan ekonomi,” ungkap Jahja.
Meski demikian, keputusan BI menurunkan BI Rate tidak serta merta membuat pihaknya menurunkan suku bunga kredit, meski mengakui penurunan itu memacu masyarakat untuk mengambil kredit dari perbankan. ”Tingkat suku bunga bank kan tergantung kualitas dari funding masing-masing bank. Kalau deposit banyak, itu bisa diturunkan,” lanjutnya.
Respons perbankan yang tidak otomatis menurunkan bunga kredit saat BI Rate dipangkas bisa jadi adalah strategi bank untuk mempertahankan pendanaan. Hal itu penting untuk berjaga-jaga dari kemungkinan buruk dampak krisis internasional.
Malahan bank terbesar dalam aset, Bank Mandiri sudah jauh-jauh hari mengantisipasi krisis tersebut dengan menyiapkan dana yang tak sedikit untuk mencegah kemungkinan terburuk penarikan secara besar-besar (rush) oleh nasabah.
“Bank Mandiri menyiapkan dana likuiditas untuk uang rupiah Rp 22 triliun dan satu miliar dolar untuk mata uang dolar,” kata Direktur Utama Bank Mandiri, Zulkifli Zaini.
Meskipun demikian, diyakini bahwa krisis Eropa belum akan membuat perbankan Indonesia goyang. Hal itu didasari oleh uji coba ketahanan (stress test) yang dilakukan BI kepada industri perbankan. Stress test mencakup dua hal, yakni sisi risiko kredit dan risiko pasar. Dari sisi risiko pasar, terkait dengan nilai surat berharga yang berpotensi gagal bayar (default), sementara dari sisi risiko kredit mengacu pada penurunan angka produk domestik bruto (PDB).
Minimnya instrumen keuangan yang dimiliki perbankan di lembaga-lembaga keuangan Eropa membuat risiko default masih bisa diatasi. Sedangkan untuk likuiditas sendiri, bank sentral menilai ekspansi kredit valuta asing (valas) masih jauh di bawah kredit rupiah, sehingga suplai valas masih memadai. Apalagi rasio permodalan (CAR) industri perbankan per September 2011 tercatat sebesar 17,29 persen, di atas level aman 8 persen. SP

















