• Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
Minggu, Oktober 18, 2026
  • Login
Stabilitas
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
Stabilitas
No Result
View All Result
 
Home Manajemen Risiko

Mengikis Kekhawatiran Krisis Eropa

by Sandy Romualdus
16 Desember 2011 - 00:00
13
VIEWS
Mengikis Kekhawatiran Krisis Eropa
0
SHARES
13
VIEWS

Selama 2011, risiko pasar nyaris tak terdengar menyentuh industri perbankan di Indonesia. Irama risiko pasar mulai terdengar sejak krisis AS dan Eropa belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir. Namun demikian kondisi perbankan nasional dinilai masih kuat menangkal dampak krisis itu.

Oleh : Yudi Rachman

  • Baca juga: Operasi Senyap di Gedung BNPB: KPK Amankan Sejumlah Pihak dan Gelar Perkara Kilat

Tahun 2011 yang sebulan lagi kita lewati, telah memberi kejutan yang teramat dahsyat ketika lembaga pemeringkat Standard & Poor’s (S&P) mengumumkan penurunan peringkat surat berharga yang diterbitkan Pemerintah AS. Dengan kalimat lain, utang pemerintah AS kini memiliki risiko yang lebih besar dari sebelumnya.

BERITA TERKAIT

Tak Serta-merta Otomatis, LPS Siapkan Syarat Kesehatan bagi Peserta Penjaminan Polis

BNI Sabet Peringkat 4 BUMN Layanan Terbaik di Danantara Indonesia CX100 Award 2026

Laba Tembus Rp1 Triliun: Bank BPD Bali Pacu Kredit UMKM Rp14,43 Triliun hingga Kuartal III/2026

Minta Pasar Tak Panik Sikapi Wacana MSCI, Peluang Bursa RI Turun Kelas Sangat Mustahil

Kondisi tersebut tentu saja memberi guncangan yang tak kalah hebat kepada perekonomian global yang masih sempoyongan sejak krisis keuangan 2008. Padahal awan gelap yang menaungi langit Eropa belum juga menunjukkan tandatanda akan berakhir, bahkan terlihat makin gelap.

Keadaan di AS dan Eropa memang belum cukup untuk membuat pemangku kebijakan sektor keuangan khawatir hal itu akan berimbas ke perekonomian nasional. Terlihat sejak awal tahun belum ada perubahan kebijakan maupun kondisi yang memaksa otoritas untuk bergerak segera mengendalikan pasar.

Suku bunga moneter sepanjang paro pertama tahun ini masih kukuh berada di tempatnya 6,75 persen. Nilai tukar rupiah atas dollar AS meski agak melemah, secara keseluruhan berada dalam posisi stabil dan tak pernah lewat dari selang Rp8.600-8.700 per dollar AS.

Bahkan nilai tukar rupiah sempat menikmati posisi terkuatnya di kisaran Rp8.500 per dollar AS hingga akhir Agustus.

Melihat kenyataan itu, tidak berlebihan jika disimpulkan bahwa perbankan pada enam bulan pertama tahun ini tidak terlalu direpotkan dengan yang namanya risiko pasar. Risiko ini muncul jika ada perubahan-perubahan yang cukup mendadak atau peningkatan yang drastis pada suku bunga dan nilai tukar sehingga memunculkan risiko kerugian pada portofolio yang dimiliki bank. Risiko pasar antara lain terdapat pada aktivitas treasury serta investasi, kegiatan pembiayaan dan pendanaan, serta kegiatan pembiayaan perdagangan.

Namun demikian ketika memasuki September, nilai tukar mulai sedikit bergolak meninggalkan kisaran Rp8.500 per dollar AS. Bahkan keadaan mulai membuat was-was ketika rupiah menembus kisaran Rp8.600 per dollar AS, bahkan Rp8.700-an per dollar AS pada pertengahan September.

Bank Indonesia awalnya masih tenangtenang saja menghadapi pelemahan yang diyakini disebabkan oleh krisis Eropa yang makin tidak menentu. Akan tetapi sesuatu yang mengagetkan pasar terjadi. BI memutuskan untuk menurunkan suku bunga acuan 25 basis poin menjadi 6,5 persen. Sebelumnya selama 18 bulan berturut-turut BI Rate terus bertahan di level 6,75 persen.

Sontak saja banyak kalangan yang terhenyak melihat ini apalagi kebanyakan analis memprediksi BI baru akan menurunkan bunga acuan paling cepat sebulan sebelum akhir tahun 2011.

Tentu saja perubahan ini membuat semua analis, ekonom dan pengamat mengubah prediksinya terutama soal suku bunga pada 2012. Apalagi pada November kemarin, angka inflasi nasional mencapai nilai minus alias terjadi deflasi. Hal itu bisa jadi memberi sinyal bahwa inflasi memang sudah bisa dikendalikan dan akan berada dalam kisaran target yang ditetapkan BI.

Darsono, peneliti ekonomi utama Direktorat Kebijakan Moneter dan Riset Ekonomi BI berpendapat, angka inflasi pada 2012 diperkiraka tidak akan lebih tinggi dari angka 4,5 persen plus minus satu persen. ”Itu sudah dihitung oleh BI,” katanya. Menurut dia juga, angka perkiraan inflasi tersebut masih dalam batas asumsi inflasi yang ditetapkan dalam APBN 2012 sebesar 5,3 persen.

  • Baca juga: Bedah RUU Perampasan Aset: Urgensi, Titik Kritis, dan Syarat Mutlak Enam Pagar Pelindung

Tentu saja hal itu membuat pengamat memprediksi bahwa penurunan BI Rate Oktober lalu bukanlah pemangkasan yang terakhir. Seperti yang diungkapkan oleh ekonom senior Standard Chartered Bank Fauzi Ichsan.

Dia mengatakan bahwa tingkat inflasi 2012 akan relatif bisa dikendalikan oleh otoritas fiskal dan moneter. ”Dengan adanya deflasi (pada Oktober 2011) serta ekpektasi inflasi tahun depan yang juga relatif rendah, maka ada ruang bagi BI untuk menurunkan BI Rate turun 2011 ini atau awal tahun depan,” kata Fauzi. Dia mengatakan tidak menutup kemungkinan BI Rate akan diturunkan lagi oleh otoritas moneter.

Lalu bagaimana dengan nilai tukar? BI memang mulai direpotkan dengan pergerakan nilai tukar jelang akhir tahun ini, meski demikian rupiah tetap akan diarahkan di kisaran Rp8.700 hingga Rp8.800 per dollar AS.

Untuk tahun depan, karena aliran modal asing diperkirakan mulai berkurang terkait tingkat keparahan krisis Eropa dan AS maka BI mengatakan bahwa nilai tukar akan sedikit melemah. “Untuk tahun 2012, BI memperkirakan rupiah akan mengalami pelemahan sehubungan dengan berkurangnya arus capital inflow dan neraca pembayaran yang kian menurun,” kata Gubernur BI, Darmin Nasution.

Selain itu, susutnya surplus Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) juga mempengaruhi nilai tukar rupiah ke arah pelemahan. Berkurangnya NPI disebabkan oleh tipisnya neraca modal dan keuangan yang disebabkan minimnya atau bahkan tidak adanya transaksi uang berjalan. ”Dari situ maka rata-rata 2012 nilai tukar rupiah itu akan bergerak di Rp8.600-9.100 per dollar AS. Jadi kecenderungannya agak melemah dari tahun ini Rp8.700, tahun depan sedikit melemah,” kata Darmin.

RESPONS DAN PENGARUH

Makin lebarnya peluang penurunan suku bunga acuan tentu menjadi angin segar bagi kalangan perbankan. Dengan begitu risiko terkait kerugian dalam penyaluran kredit dan penempatan investasi di beragam instrumen bisa ditekan. Direktur Utama PT Bank Central Asia Tbk (BCA) Jahja Setiadmadja mengatakan, penurunan suku bunga rata-rata Bank Indonesia (BI) menjadi 6,00 persen berdampak baik pada perbankan. Jadi kalau suku bunga kemungkinan akan turun lagi tentu dampak tersebut akan lebih besar terlihat. “Bagus untuk pertumbuhan kredit dan kestabilan ekonomi,” ungkap Jahja.

Meski demikian, keputusan BI menurunkan BI Rate tidak serta merta membuat pihaknya menurunkan suku bunga kredit, meski mengakui penurunan itu memacu masyarakat untuk mengambil kredit dari perbankan. ”Tingkat suku bunga bank kan tergantung kualitas dari funding masing-masing bank. Kalau deposit banyak, itu bisa diturunkan,” lanjutnya.

Respons perbankan yang tidak otomatis menurunkan bunga kredit saat BI Rate dipangkas bisa jadi adalah strategi bank untuk mempertahankan pendanaan. Hal itu penting untuk berjaga-jaga dari kemungkinan buruk dampak krisis internasional.

Malahan bank terbesar dalam aset, Bank Mandiri sudah jauh-jauh hari mengantisipasi krisis tersebut dengan menyiapkan dana yang tak sedikit untuk mencegah kemungkinan terburuk penarikan secara besar-besar (rush) oleh nasabah.

“Bank Mandiri menyiapkan dana likuiditas untuk uang rupiah Rp 22 triliun dan satu miliar dolar untuk mata uang dolar,” kata Direktur Utama Bank Mandiri, Zulkifli Zaini.

Meskipun demikian, diyakini bahwa krisis Eropa belum akan membuat perbankan Indonesia goyang. Hal itu didasari oleh uji coba ketahanan (stress test) yang dilakukan BI kepada industri perbankan. Stress test mencakup dua hal, yakni sisi risiko kredit dan risiko pasar. Dari sisi risiko pasar, terkait dengan nilai surat berharga yang berpotensi gagal bayar (default), sementara dari sisi risiko kredit mengacu pada penurunan angka produk domestik bruto (PDB).

  • Baca juga: Perkuat Budaya '4 No's': KRQA-SQC Audit Sistem Anti Penyuapan di Bandara Adi Soemarmo

Minimnya instrumen keuangan yang dimiliki perbankan di lembaga-lembaga keuangan Eropa membuat risiko default masih bisa diatasi. Sedangkan untuk likuiditas sendiri, bank sentral menilai ekspansi kredit valuta asing (valas) masih jauh di bawah kredit rupiah, sehingga suplai valas masih memadai. Apalagi rasio permodalan (CAR) industri perbankan per September 2011 tercatat sebesar 17,29 persen, di atas level aman 8 persen. SP

 

 
 
 
 
 
Previous Post

Menunggu Komitmen Otoritas dan Pelaku

Next Post

Dari Kejahatan hingga Pengetatan

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BACA JUGA

Related Posts

Operasi Senyap di Gedung BNPB: KPK Amankan Sejumlah Pihak dan Gelar Perkara Kilat

Operasi Senyap di Gedung BNPB: KPK Amankan Sejumlah Pihak dan Gelar Perkara Kilat

by Stella Gracia
14 Oktober 2026 - 09:08

KPK menggelar OTT terhadap pejabat BNPB dengan pendampingan Puspom TNI di Jakarta, status hukum pihak terperiksa diumumkan dalam 1x24 jam....

Bedah RUU Perampasan Aset: Urgensi, Titik Kritis, dan Syarat Mutlak Enam Pagar Pelindung

Bedah RUU Perampasan Aset: Urgensi, Titik Kritis, dan Syarat Mutlak Enam Pagar Pelindung

by Sandy Romualdus
12 Oktober 2026 - 11:39

Pakar hukum merumuskan enam pagar pelindung RUU Perampasan Aset guna mencegah penyalahgunaan kekuasaan aparat dalam skema sita tanpa pidana (NCBAF)....

Perkuat Budaya ‘4 No’s’: KRQA-SQC Audit Sistem Anti Penyuapan di Bandara Adi Soemarmo

Perkuat Budaya ‘4 No’s’: KRQA-SQC Audit Sistem Anti Penyuapan di Bandara Adi Soemarmo

by Sandy Romualdus
4 Oktober 2026 - 14:49

KRQA-SQC menggelar audit surveilans ISO 37001:2025 di Bandara Adi Soemarmo Solo guna memastikan penerapan prinsip anti penyuapan 4 No's. Stabilitas.id...

Tempatkan 700 Awak Kapal Pesiar: PT Ships Crew Indo Jalani Audit ISO dan Sertifikasi MLC 2006

Tempatkan 700 Awak Kapal Pesiar: PT Ships Crew Indo Jalani Audit ISO dan Sertifikasi MLC 2006

by Sandy Romualdus
30 September 2026 - 14:42

PT Ships Crew Indo Inc. menjalani audit ISO 9001:2015 dan MLC 2006 usai menyalurkan lebih dari 700 pelaut Indonesia ke...

Kendalikan Risiko ‘Black Box’ dan Deepfake, OJK Rilis Kerangka Tata Kelola AI Berbasis Prinsip

Kendalikan Risiko ‘Black Box’ dan Deepfake, OJK Rilis Kerangka Tata Kelola AI Berbasis Prinsip

by Sandy Romualdus
25 September 2026 - 15:29

Deputi Komisioner OJK Deden Firman Hendarsyah menegaskan prinsip human-in-the-loop dan tata kelola AI perbankan berbasis risiko pada Seminar LPPI #109....

Preseden Buruk Iklim Investasi: Aset Rp200 Miliar Diobral Rp16 Miliar Lewat Celah Hukum Kepailitan

Preseden Buruk Iklim Investasi: Aset Rp200 Miliar Diobral Rp16 Miliar Lewat Celah Hukum Kepailitan

by Sandy Romualdus
24 September 2026 - 20:59

Tim hukum PT Kedap Sayaaq membongkar dugaan mafia legal formal di PN Niaga Surabaya. Tiga oknum hakim dilaporkan terkait obral...

E-MAGAZINE

TERPOPULER

  • Transaksi Repo Tembus Rp17,5 Triliun per Hari, BI Luncurkan Tri-Party Agent Repo

    Transaksi Repo Tembus Rp17,5 Triliun per Hari, BI Luncurkan Tri-Party Agent Repo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • OJK dan Bappebti Perkuat Sinergi dalam Pengawasan Derivatif Keuangan Berbasis Efek

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • LinkUMKM Tembus 14 Juta User, BRI Dorong Kerajinan Ramah Lingkungan Go International

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menyiapkan Talenta Hijau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Keras Dan Menghantam

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Nakhoda Baru Askrindo: Mahelan Prabantarikso Gantikan M. Fankar Umran

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pacu Belanja Turis Asing ke Daerah, Garuda Indonesia Luncurkan Skema Multi-Destinasi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
 

Terbaru

Tak Serta-merta Otomatis, LPS Siapkan Syarat Kesehatan bagi Peserta Penjaminan Polis

BNI Sabet Peringkat 4 BUMN Layanan Terbaik di Danantara Indonesia CX100 Award 2026

Laba Tembus Rp1 Triliun: Bank BPD Bali Pacu Kredit UMKM Rp14,43 Triliun hingga Kuartal III/2026

Minta Pasar Tak Panik Sikapi Wacana MSCI, Peluang Bursa RI Turun Kelas Sangat Mustahil

Bongkar Manipulasi Saham dan Penjatahan Semu: OJK Denda DSSA, BREN, dan CUAN Total Rp2,1 Triliun

Filosofi Bahtera di Atas Laut, Pemprov DKI Resmikan Masjid Apung An-Nur di Pantai Ancol

Ancaman Eksodus Dana Asing: Simak Pemicu Usulan Reklasifikasi Standalone Market oleh MSCI

Tekanan Ganda Pasar Finansial: BI Gelontorkan Intervensi Hadapi Sentimen Risk-Off dan Isu MSCI

Tersengat Wacana MSCI dan Inflasi AS: IHSG Kena Trading Halt di Awal Sesi I

STABILITAS CHANNEL

 
 
Next Post
Mengembalikan Pengaruh BI Rate

Mengembalikan Pengaruh BI Rate

  • Advertorial
  • Berita Foto
  • BUMN
  • Bursa
  • Ekonomi
  • Eksmud
  • Figur
  • Info Otoritas
  • Internasional
  • Interview
  • Keuangan
  • Kolom
  • Laporan Utama
  • Liputan Khusus
  • Manajemen Resiko
  • Perbankan
  • Portofolio
  • Resensi Buku
  • Riset
  • Sektor Riil
  • Seremonial
  • Syariah
  • Teknologi
  • Travel & Resto
  • UKM
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pesan Majalah
  • Kontak Kami
logo-footer

Copyright © 2021 – Stabilitas

Find and Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata

Copyright © 2021 Stabilitas - Governance, Risk Management & Compliance