Jakrata – Kementrian Keuangan mengingatkan semua pihak agar tidak terlalu puas melihat perbaikan pada neraca perdagangan. Meski sudah membukukan surplus di kuartal terakhir tahun lalu, neraca perdagangan Januari masih berpotensi defisit atau surplus tipis karena ekspor masih lesu.
"Yang saya lihat tahun-tahun lalu itu di Januari ekspornya biasanya relatif lebih kecil karena kita baru mulai. Kita belum tahu forecast angkanya, tapi ini harus dijaga," ujar Menteri Keuangan Chatib Basri di Jakarta, Selasa (25/2).
Proyeksi itu disampaikan Chatib agar pasar tidak terlalu reaktif jika perbaikan pada neraca perdagangan yang sudah terjadi dalam beberapa bulan terakhir tiba-tiba kembali mengendur. Ia meminta pasar melihat data historis pergerakan ekspor impor.
BERITA TERKAIT
Ia sekaligus juga mengingatkan bahwa meskipun defisit transaksi berjalan sudah dalam kondisi menurun, pemerintah dan Bank Indonesia tetap waspada. Belum saatnya kebijakan pengetatan diendurkan. "Yang penting buat kita jangan complacent. Jangan anggap situasi sudah beres," ungkapnya seraya menyebutkan pemerintah dan BI ingin mengawal defisit transaksi berjalan turun hingga kisaran 2,5% dari PDB. Defisit transaksi berjalan 2013 besarnya 3,5% dari PDB.
Kebijakan pengetatan ialah cara pemerintah dan BI dengan sengaja menekan pertumbuhan ekonomi sehingga kemudian laju impor ikut tertekan. Tahun depan harapannya defisit transaksi berjalan bisa dibuat 2% dari PDB, tapi dengan mulai memacu pertumbuhan. Perkiraan sementara pertumbuhan ekonomi 2015, kata Chatib, ialah 6,1%.
"Kalau kita sudah konsolidasi, defisit transaksi berjalan 2%, ekspansi suplai sudah ada. Defisit transaksi berjalan kan terjadi karena demand lebih besar dari produksi sehingga impornya naik. Kalau 2013 dan 2014 sudah di-expand, infrastruktur sudah jadi, sisi supply kan bisa bertambah. Kalau supply bertambah, demand di-expand kan tidak akan ada impor," paparnya.

















