Stabilitas.id – Pasar saham global kompak menguat sementara harga minyak mentah mengalami koreksi tajam pada perdagangan Rabu (25/3/2026). Sentimen positif ini dipicu oleh laporan bahwa Amerika Serikat tengah mendorong rencana gencatan senjata selama satu bulan dalam konfliknya dengan Iran, yang memberikan harapan bagi pemulihan pasokan energi global.
Di pasar komoditas, harga minyak mentah jenis Brent merosot sekitar 6% ke level US$98,30 per barel. Meskipun turun, harga ini masih mencatatkan kenaikan sekitar 35% sejak konflik pecah pada akhir Februari lalu, level yang tetap menjadi beban inflasi bagi negara-negara konsumen di Asia.
Respons Bursa Saham dan Mata Uang
BERITA TERKAIT
Optimisme diplomasi di Timur Tengah langsung direspons positif oleh lantai bursa. Kontrak berjangka S&P 500 naik 0,9%, sementara bursa di Jepang (Nikkei), Korea Selatan (KOSPI), dan Australia (ASX) masing-masing melonjak sekitar 2%.
Di pasar valuta asing, dolar AS terpantau sedikit melemah terhadap mata uang utama, diperdagangkan di kisaran 158,8 yen dan US$1,1620 per euro. Sebaliknya, harga emas justru menguat 1,6% sebagai bentuk antisipasi investor terhadap ketidakpastian jangka panjang.
Diplomasi 15 Poin dan Tantangan di Lapangan
Presiden AS Donald Trump mengklaim adanya kemajuan signifikan dalam negosiasi, termasuk konsesi dari Teheran terkait keamanan maritim. Namun, analis pasar global Kerry Craig mengingatkan bahwa pergerakan pasar saat ini masih sangat reaktif terhadap berita utama (headline-driven).
“Pasar cenderung bergerak positif, tetapi masih banyak ketidakpastian terkait kapan Selat Hormuz dapat dibuka sepenuhnya untuk pengiriman minyak,” ujar Craig, dikutip Rabu (25/3/2026).
Tekanan Pasar Obligasi dan Kredit
Di pasar surat utang, imbal hasil (yield) Treasury AS tenor 10 tahun turun menjadi 4,34% seiring naiknya harga obligasi. Meski ada harapan damai, pasar memperkirakan bank sentral di Eropa, Inggris, dan Jepang tetap akan menaikkan suku bunga untuk meredam inflasi, sementara peluang pemangkasan suku bunga di AS dinilai sangat kecil.
Di sisi lain, kekhawatiran baru muncul dari sektor pembiayaan swasta. Ares Management baru-baru ini membatasi penarikan dana pada salah satu produk utangnya, yang memicu kepanikan investor. Saham Ares tercatat telah melemah 36% sejak awal tahun, menjadi sinyal adanya tekanan pada pasar kredit global.
Secara keseluruhan, pelaku pasar masih mengambil posisi waspada. Marc Velan, Kepala Investasi di Lucerne Asset Management, menilai pasar saat ini masih rentan berbalik arah jika eskalasi militer di lapangan kembali memanas atau jika diplomasi 15 poin tersebut gagal menemui titik temu. ***















