Stabilitas.id – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memastikan ketahanan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 tetap terjaga meski nilai tukar rupiah mengalami tekanan hebat hingga menyentuh level Rp17.489 per dolar AS pada perdagangan Selasa (12/5/2026).
Menkeu Purbaya mengungkapkan bahwa pemerintah telah mengantisipasi volatilitas pasar dengan menyusun asumsi nilai tukar yang lebih tinggi dibandingkan angka dasar dalam dokumen APBN. Dengan simulasi tersebut, pelemahan rupiah yang terjadi saat ini diklaim masih dalam batas perhitungan fiskal pemerintah.
“Pada waktu kita hitung, asumsi kita sebenarnya sudah di atas APBN rupiahnya. Jadi kondisi APBN-nya masih relatif aman karena angka (kurs) sekarang tidak jauh dari hitungan kami,” tutur Purbaya dalam keterangannya di Jakarta, dikutip Selasa (12/5/2026).
BERITA TERKAIT
Faktor Geopolitik dan Sentimen MSCI
Pelemahan rupiah hingga 75 poin (0,43%) pada sesi perdagangan pagi ini didorong oleh memanasnya tensi geopolitik antara AS dan Iran. Kondisi tersebut memicu kenaikan harga minyak mentah dunia, yang menjadi sentimen negatif bagi mata uang negara berkembang pengimpor energi seperti Indonesia.
Selain faktor eksternal, analis pasar keuangan Lukman Leong menyebut pasar tengah mencermati hasil rebalancing indeks MSCI. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebelumnya telah memberi sinyal bahwa kemungkinan adanya emiten Indonesia yang keluar dari indeks acuan tersebut dapat memicu tekanan jual tambahan.
“Sentimen dari pengumuman MSCI hari ini diperkirakan akan ikut menekan posisi rupiah dan IHSG. Investor kini bersikap lebih konservatif sambil menantikan data penjualan ritel domestik,” ujar Lukman.
Strategi ‘Safe Mode’ dan Saldo Rp420 Triliun
Guna menjaga stabilitas fiskal, Menkeu Purbaya menegaskan pemerintah tetap dalam posisi “safe mode” dengan mengoptimalkan instrumen yang ada. Salah satu bantalan utama adalah Saldo Anggaran Lebih (SAL) yang tercatat masih utuh sebesar Rp420 triliun.
Pemerintah juga terus berkoordinasi dengan Bank Indonesia (BI) melalui kebijakan refocusing anggaran dan pembentukan Bond Stabilizer Fund. Langkah ini diambil untuk memastikan kebutuhan pembiayaan negara tetap terkendali dan biaya dana (cost of fund) tidak membengkak di tengah ketidakpastian global.
Menkeu optimistis, dengan fundamental ekonomi kuartal I/2026 yang tumbuh 5,6% serta surplus neraca perdagangan yang konsisten, APBN tetap mampu menjadi peredam kejut (shock absorber) atas dinamika ekonomi global yang dinamis. ***
Indikator Fiskal & Moneter Terkini (Mei 2026):
| Parameter | Posisi / Status | Keterangan |
| Menteri Keuangan | Purbaya Yudhi Sadewa | Memastikan APBN Aman |
| Nilai Tukar Rupiah | Rp17.489 / USD | Tekanan Geopolitik & MSCI |
| Saldo Anggaran (SAL) | Rp420 Triliun | Tersimpan di Perbankan Himbara |
| Pertumbuhan Ekonomi | 5,6% (Q1-2026) | Disokong Belanja Pemerintah |
| Defisit Fiskal | 0,93% PDB (Q1) | Target Akhir Tahun 2,56% |

















