Stabilitas.id – Krisis energi dunia memasuki fase krusial seiring dengan terganggunya jalur distribusi minyak mentah Rusia. Serangan intensif Ukraina terhadap infrastruktur energi strategis di wilayah Rusia dilaporkan telah melumpuhkan sekitar 40% kapasitas ekspor minyak negara tersebut, atau setara dengan kehilangan pasokan 2 juta barel per hari (bph).
Laporan Reuters menyebutkan bahwa sepanjang Maret 2026, Ukraina menyasar fasilitas vital di tiga pelabuhan ekspor utama: Novorossiysk di Laut Hitam, serta Primorsk dan Ust-Luga di Laut Baltik. Serangan drone tersebut memicu kebakaran hebat yang menghentikan aktivitas di terminal-terminal strategis.
Kondisi ini diperparah dengan lumpuhnya pipa Druzhba—urat nadi pasokan energi Eropa sejak era Soviet—yang biasanya mampu mengalirkan 1 juta bph. Kerusakan infrastruktur di wilayah Ukraina menyebabkan distribusi melalui jalur darat ini terhenti total sejak awal tahun.
BERITA TERKAIT
Pendapatan Melonjak di Tengah Kelangkaan
Meski volume ekspor tergerus, Rusia justru mencatatkan lonjakan pendapatan harian akibat meroketnya harga minyak global. Mengutip Kyiv24, rata-rata pendapatan harian Rusia dari minyak melambung dua kali lipat pada Maret 2026, dari US$135 juta menjadi **US$270 juta** (sekitar Rp4,2 triliun).
Kenaikan pendapatan yang anomali ini dipicu oleh dua faktor utama:
-
Blokade Selat Hormuz: Konflik di Timur Tengah yang menutup jalur navigasi utama minyak dunia.
-
Pelonggaran Sanksi AS: Kebijakan Washington yang melonggarkan tekanan terhadap minyak Rusia guna menjaga stabilitas pasokan global.
Saat ini, harga minyak mentah jenis Brent masih bertengger di kisaran US$100 per barel, level tertinggi yang pernah dicapai saat awal invasi Rusia ke Ukraina pada 2022 lalu.
Asia Sulit Jadi Penyelamat Jangka Pendek
Upaya Moskow untuk mengalihkan pasokan dari Eropa ke pasar Asia menemui kendala besar pada keterbatasan infrastruktur. Jalur pipa dan armada tanker yang tersedia belum mampu menyerap volume besar yang tertahan di wilayah Barat. Akibatnya, tumpukan kapal tanker dilaporkan mulai terjadi di sejumlah pelabuhan Rusia.
Secara domestik, posisi Rusia kian terjepit oleh agresivitas teknologi drone Ukraina. Sekretaris Dewan Keamanan Rusia, Sergei Shoigu, mengakui bahwa perkembangan sistem persenjataan lawan membuat hampir tidak ada wilayah di Rusia yang kini benar-benar aman dari serangan terhadap fasilitas ekonomi.
Situasi ini menempatkan pasar energi global dalam ketidakpastian tinggi. Selama Selat Hormuz tetap terkunci dan infrastruktur Rusia terus dihantam serangan, tekanan inflasi energi di negara-negara konsumen, termasuk di Asia, diprediksi akan terus memanas. ***

















