Perlambatan ekonomi memang selalu membawa konsekuensi terutama soal ekspektasi. Pertumbuhan kuartal pertama tahun ini yang melambat pun demikian. Bagi perbankan, ekonomi yang bergerak melambat membawa kekhawatiran yang meningkat pada penyaluran kredit, tidak saja bahwa ekspektasi kredit di waktu mendatang akan lebih rendah namun juga kredit yang sudah tersalurkan akan macet.
Dalam sebuah survei yang digelar auditor global ternama, Price Waterhouse Cooper, disebutkan bahwa sekitar separo dari responden yang terdiri dari bankir-bankir di Indonesia mengatakan bahwa mereka mempersiapkan diri untuk menghadapi meningkatnya non performing loan (NPL) sepanjang 2015.
Kondisi itu tentu membawa konsekuensi tersendiri bagi industri perbankan yaitu bank akan makin hati-hati menyalurkan dana dan sekaligus menyiapkan dana cadangan lebih banyak untuk mempersiapkan meningkatnya NPL. Di sisi lain, bank juga tentu akan meningkatkan perhatiannya pada layanan jasa yang berbasis komisi untuk menggantikan pendapatan dan dana yang tersedot pada kredit yang berkinerja buruk.
Kepala Ekonom Global Market Permata Bank Josua Pardede mengatakan perlambatan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal pertama tahun Kambing Kayu ini membuat penyaluran kredit perbankan turut melambat. Hal itu lebih banyak diakibatkan dari lambannya pemerintah menyerap maksimal anggaran dan memulai program proyek infrastruktur pada tahun ini.
“Hampir semua ini melemah, enggak hanya penjualan mobil, properti saja yang melemah, semen pun ikut melemah karena konsumsinya turun. Para pengusaha atau debitur ini masih menunda ekspansi besar mereka, wait and see sehingga berpengaruh pada kredit bank,” ujar Josua.
Dia memprediksi penyaluran kredit industri perbankan pada semester 1 tahun ini berada di bawah 15 persen, meski di akhir tahun angkanya dapat berada di atas 15 persen atau sekitar 16 persen, naik dibandingkan 2014 yang hanya tumbuh 11,4 persen.
Salah satu faktornya adalah rencana Bank Indonesia yang akan memperluas cakupan definisi simpanan dengan memasukkan surat-surat berharga yang diterbitkan bank dalam perhitungan rasio kredit dan simpanan (LDR). Hal tersebut diprediksi akan berdampak positif terhadap membaiknya kondisi likuiditas yang selanjutnya mendorong penyaluran kredit perbankan.
“Adanya kebijakan GWM (giro wajib minimun) yang dikaitkan dengan LDR, penyerapan anggaran kuartal kedua yang meningkat bisa menciptakan likuiditas perbankan sehingga permintaan kredit bisa meningkat di semester kedua,” kata Josua.
Data yang dilansir Otoritas Jasa Keuangan memperkuat pernyataan Josua. Pertumbuhan kredit pada kuartal pertama 2015 lebih rendah dibandingkan pertumbuhan kredit pada periode sebelumnya, sementara sepanjang tiga bulan pertama 2015 kredit hanya tumbuh sekitar 1 persen.
Meski demikian, siklus itu memang biasa terjadi di awal tahun. “Biasanya pertumbuhan kredit di kuartal I lebih lambat dibandingkan kuartal II, III, dan IV pada tahun yang sama,” kata Deputi Komisioner Pengawas Perbankan Otoritas Jasa Keuangan Irwan Lubis
Dia berharap pemerintah dapat segera merealisasikan dan meningkatkan belanja infrastruktur yang akan menggerakkan sektor riil sehingga akan memacu kredit perbankan yang ditargetkan mencapai 16 persen. “Kalau kuartal I baru 1 persen, year to date, atau 12 persen secara tahunan, maka untuk mencapai 16 persen butuh kerja keras,” tambah Irwan. “Jika kuartal kedua belanja pemerintah mulai naik, belanja swasta naik, dan konsumsi rumah tangga membaik, kami optimistis dapat mencapai target pertumbuhan kredit.
Berdasarkan Statistik Perbankan Indonesia yang diterbitkan OJK, hingga Februari 2015 bank-bank menyalurkan kredit senilai Rp3.698 triliun atau tumbuh 0,84 persen dibandingkan Januari 2015 yang mencapai Rp3.667 triliun. Sedangkan apabila dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya, pertumbuhan kredit mencapai 12,29 persen.
Awal Mei lalu, Badan Pusat Statistik (BPS) baru saja merilis pertumbuhan ekonomi kuartal I-2015 sebesar 4,71 persen, melambat dibanding pertumbuhan ekonomi pada periode sama tahun lalu yang mencapai 5,14 persen.
Tingkatkan Kehati-hatian
Akan tetapi, menurut survei dari PwC, perbankan akan tetap mengalami pertumbuhan positif, namun dengan catatan untuk tetap harus berhati-hati. Para pemimpin sektor perbankan di Indonesia dalam survei itu, melihat gambaran yang positif ketika mereka ditanya tantang daya tarik iklim usaha dengan memperhatikan beberapa tantangan yang harus diatasi.
Menurut para responden, di antara tantangan-tantangan yang utama adalah perlunya mengurangi cost of funds, perlunya mengembangkan sumber pendapatan baru seiring melambatnya permintaan produk pinjaman, dan perlunya mengatur perngolahan manajemen risiko dan kerangka kerja kepatuhan terhadap peraturan-peraturan yang makin kompleks.
Survei kali ini berfokus pada ekspektasi terkait iklim ekonomi makro, kerangka kerja peraturan perundang-undangan yang berlaku, agenda kebijakan pemerintah dan tren persaingan untuk simpanan nasabah. Dengan diikuti 64 eksekutif perbankan senior di Indonesia, survei yang telah dijalankan enam tahun berturut-turut, kali ini adalah yang paling strategis dalam hal cakupan dan partisipasi responden.
Hanya saja, kekhawatiran utama para responden mencakup pertumbuhan penyaluran kredit yang relatif melambat disertai dengan semakin meningkatnya kekhawatiran akan kualitas aset pinjaman bank. Hal utama lain yang muncul dari hasil survei adalah fakta bahwa bank lokal, bank BUMN, dan bank syariah memiliki pandangan yang sangat berbeda dengan bank asing mengenai tantangan utama yang harus ditangani pada tahun 2015.
Kelompok bank pertama tersebut memandang tekanan margin sebagai tantangan nomor satu, sementara bagi bank asing kekhawatiran utama mereka adalah peraturan yang semakin kompleks dan semakin menuntut baik nasional maupun international.
Di kalangan bank asing, juga terdapat kekhawatiran seputar ketidakpastian iklim operasional terkait ketentuan data IT onshoring dan ketentuan perbankan dan bagaimana kewajiban dan peraturan tersebut akan berdampak pada kemampuan bank memanfaatkan model operasional global. Namun, kedua kelompok tersebut mengisyaratkan mereka mengharapkan panduan lebih lanjut dari regulator mengenai pelaksanaan Basel III.
Perlu Dukungan Bank
Sementara itu, berbeda dengan pendapat bankir dalam survey, Anggito Abimanyu, Kepala Ekonom PT Bank Rakyat Indonesia menilai industri perbankan kurang ekspansif dalam menyalurkan kredit untuk menstimulus perekonomian.
“Kredit perbankan sebenarnya kontribusinya sama dengan pembiayaan pemerintah (APBN). Please do lend. Per Mei mungkin pertumbuhan kreditnya malah 10 persen,” kata Anggito dalam Kongres Asosiasi Bankir untuk Pengelola Risiko (BARA) di Jakarta, belum lama ini.
Saat ini industri perbankan masih memperketat penyaluran kredit untuk beberapa sektor usaha dan mulai memperketat beberapa sektor lain. Padahal menurut dia, perbankan seharusnya mampu melihat potensi besar di sektor perikanan, pertanian dan sektor infrastruktur, tanpa mengabaikan manajemen mitigasi risiko. Apalagi, sektor-sektor tersebut juga sejalan dengan prioritas pembangunan pemerintah. “Perbankan, jangan semua sektor dikasih lampu merah,” kata Mantan Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan ini.
Menurut dia, fungsi intermediasi perbankan juga belum optimal, terlihat dari rasio pinjaman terhadap simpanan (LDR) yang sebesar 88,3 persen per Maret 2015. Adapun, rasio NPL sebenarnya masih terkendali di 2,4 persen, meskipun kredit untuk pelaku usaha kecil dan menengah (UKM) tercatat di 4,14 persen.
Lebih lanjut, Anggito menekankan kalangan perbankan juga harus memahami bahwa kondisi perekonomian selama triwulan I sangat tertekan, terlihat dari pertumbuhan ekonomi yang hanya 4,71 persen dan realisasi defisit fiskal yang meleset dari target.
Oleh karena itu, ujar dia perbankan harus menjadi motor untuk memulihkan pertumbuhan ekonomi yang melambat. “Swasta memiliki kemampuan seperti dengan kemampuan analisis dan kreativitas yang tinggi. Hal tersebut sulit terlihat dari pemerintah,” kata Anggito.
Menurut dia, kredit perbankan pada 2015 seharusnya tumbuh 13-15 persen untuk menopang pertumbuhan ekonomi di atas 5 persen. Pasalnya, target pertumbuhan ekonomi di APBN-Perubahan 2015 sebesar 5,7 persen sulit tercapai. Dia menyebutkan konsensus para kepala ekonom bank-bank di Indonesia memperkitakan pertumbuhan ekonomi hanya tumbuh 5-5,2 persen.

















