• Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
Rabu, Oktober 28, 2026
  • Login
Stabilitas
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
Stabilitas
No Result
View All Result
 
Home Manajemen Risiko

Mencemaskan Pinjaman Bermasalah

by Sandy Romualdus
9 Juli 2015 - 00:00
15
VIEWS
Mencemaskan Pinjaman Bermasalah
0
SHARES
15
VIEWS

Perlambatan ekonomi memang selalu membawa konsekuensi terutama soal ekspektasi. Pertumbuhan kuartal pertama tahun ini yang melambat pun demikian. Bagi perbankan, ekonomi yang bergerak melambat membawa kekhawatiran yang meningkat pada penyaluran kredit, tidak saja bahwa ekspektasi kredit di waktu mendatang akan lebih rendah namun juga kredit yang sudah tersalurkan akan macet.
Dalam sebuah survei yang digelar auditor global ternama, Price Waterhouse Cooper, disebutkan bahwa sekitar separo dari responden yang terdiri dari bankir-bankir di Indonesia mengatakan bahwa mereka mempersiapkan diri untuk menghadapi meningkatnya non performing loan (NPL) sepanjang 2015.
Kondisi itu tentu membawa konsekuensi tersendiri bagi industri perbankan yaitu bank akan makin hati-hati menyalurkan dana dan sekaligus menyiapkan dana cadangan lebih banyak untuk mempersiapkan meningkatnya NPL. Di sisi lain, bank juga tentu akan meningkatkan perhatiannya pada layanan jasa yang berbasis komisi untuk menggantikan pendapatan dan dana yang tersedot pada kredit yang berkinerja buruk.
Kepala Ekonom Global Market Permata Bank Josua Pardede mengatakan perlambatan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal pertama tahun Kambing Kayu ini membuat penyaluran kredit perbankan turut melambat. Hal itu lebih banyak diakibatkan dari lambannya pemerintah menyerap maksimal anggaran dan memulai program proyek infrastruktur pada tahun ini.
“Hampir semua ini melemah, enggak hanya penjualan mobil, properti saja yang melemah, semen pun ikut melemah karena konsumsinya turun. Para pengusaha atau debitur ini masih menunda ekspansi besar mereka, wait and see sehingga berpengaruh pada kredit bank,” ujar Josua.
Dia memprediksi penyaluran kredit industri perbankan pada semester 1 tahun ini berada di bawah 15 persen, meski di akhir tahun angkanya dapat berada di atas 15 persen atau sekitar 16 persen, naik dibandingkan 2014 yang hanya tumbuh 11,4 persen.
Salah satu faktornya adalah rencana Bank Indonesia yang akan memperluas cakupan definisi simpanan dengan memasukkan surat-surat berharga yang diterbitkan bank dalam perhitungan rasio kredit dan simpanan (LDR). Hal tersebut diprediksi akan berdampak positif terhadap membaiknya kondisi likuiditas yang selanjutnya mendorong penyaluran kredit perbankan.
“Adanya kebijakan GWM (giro wajib minimun) yang dikaitkan dengan LDR, penyerapan anggaran kuartal kedua yang meningkat bisa menciptakan likuiditas perbankan sehingga permintaan kredit bisa meningkat di semester kedua,” kata Josua.
Data yang dilansir Otoritas Jasa Keuangan memperkuat pernyataan Josua. Pertumbuhan kredit pada kuartal pertama 2015 lebih rendah dibandingkan pertumbuhan kredit pada periode sebelumnya, sementara sepanjang tiga bulan pertama 2015 kredit hanya tumbuh sekitar 1 persen.
Meski demikian, siklus itu memang biasa terjadi di awal tahun. “Biasanya pertumbuhan kredit di kuartal I lebih lambat dibandingkan kuartal II, III, dan IV pada tahun yang sama,” kata Deputi Komisioner Pengawas Perbankan Otoritas Jasa Keuangan Irwan Lubis
Dia berharap pemerintah dapat segera merealisasikan dan meningkatkan belanja infrastruktur yang akan menggerakkan sektor riil sehingga akan memacu kredit perbankan yang ditargetkan mencapai 16 persen. “Kalau kuartal I baru 1 persen, year to date, atau 12 persen secara tahunan, maka untuk mencapai 16 persen butuh kerja keras,” tambah Irwan. “Jika kuartal kedua belanja pemerintah mulai naik, belanja swasta naik, dan konsumsi rumah tangga membaik, kami optimistis dapat mencapai target pertumbuhan kredit.
Berdasarkan Statistik Perbankan Indonesia yang diterbitkan OJK, hingga Februari 2015 bank-bank menyalurkan kredit senilai Rp3.698 triliun atau tumbuh 0,84 persen dibandingkan Januari 2015 yang mencapai Rp3.667 triliun. Sedangkan apabila dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya, pertumbuhan kredit mencapai 12,29 persen.
Awal Mei lalu, Badan Pusat Statistik (BPS) baru saja merilis pertumbuhan ekonomi kuartal I-2015 sebesar 4,71 persen, melambat dibanding pertumbuhan ekonomi pada periode sama tahun lalu yang mencapai 5,14 persen.

  • Baca juga: Dua Tahun Beruntun, BNI Pertahankan Predikat Tertinggi GCG di IICD Award 2026

Tingkatkan Kehati-hatian

Akan tetapi, menurut survei dari PwC, perbankan akan tetap mengalami pertumbuhan positif, namun dengan catatan untuk tetap harus berhati-hati. Para pemimpin sektor perbankan di Indonesia dalam survei itu, melihat gambaran yang positif ketika mereka ditanya tantang daya tarik iklim usaha dengan memperhatikan beberapa tantangan yang harus diatasi.
Menurut para responden, di antara tantangan-tantangan yang utama adalah perlunya mengurangi cost of funds, perlunya mengembangkan sumber pendapatan baru seiring melambatnya permintaan produk pinjaman, dan perlunya mengatur perngolahan manajemen risiko dan kerangka kerja kepatuhan terhadap peraturan-peraturan yang makin kompleks.
Survei kali ini berfokus pada ekspektasi terkait iklim ekonomi makro, kerangka kerja peraturan perundang-undangan yang berlaku, agenda kebijakan pemerintah dan tren persaingan untuk simpanan nasabah. Dengan diikuti 64 eksekutif perbankan senior di Indonesia, survei yang telah dijalankan enam tahun berturut-turut, kali ini adalah yang paling strategis dalam hal cakupan dan partisipasi responden.
Hanya saja, kekhawatiran utama para responden mencakup pertumbuhan penyaluran kredit yang relatif melambat disertai dengan semakin meningkatnya kekhawatiran akan kualitas aset pinjaman bank. Hal utama lain yang muncul dari hasil survei adalah fakta bahwa bank lokal, bank BUMN, dan bank syariah memiliki pandangan yang sangat berbeda dengan bank asing mengenai tantangan utama yang harus ditangani pada tahun 2015.
Kelompok bank pertama tersebut memandang tekanan margin sebagai tantangan nomor satu, sementara bagi bank asing kekhawatiran utama mereka adalah peraturan yang semakin kompleks dan semakin menuntut baik nasional maupun international.
Di kalangan bank asing, juga terdapat kekhawatiran seputar ketidakpastian iklim operasional terkait ketentuan data IT onshoring dan ketentuan perbankan dan bagaimana kewajiban dan peraturan tersebut akan berdampak pada kemampuan bank memanfaatkan model operasional global. Namun, kedua kelompok tersebut mengisyaratkan mereka mengharapkan panduan lebih lanjut dari regulator mengenai pelaksanaan Basel III.

  • Baca juga: Operasi Senyap di Gedung BNPB: KPK Amankan Sejumlah Pihak dan Gelar Perkara Kilat

Perlu Dukungan Bank

Sementara itu, berbeda dengan pendapat bankir dalam survey, Anggito Abimanyu, Kepala Ekonom PT Bank Rakyat Indonesia menilai industri perbankan kurang ekspansif dalam menyalurkan kredit untuk menstimulus perekonomian.
“Kredit perbankan sebenarnya kontribusinya sama dengan pembiayaan pemerintah (APBN). Please do lend. Per Mei mungkin pertumbuhan kreditnya malah 10 persen,” kata Anggito dalam Kongres Asosiasi Bankir untuk Pengelola Risiko (BARA) di Jakarta, belum lama ini.
Saat ini industri perbankan masih memperketat penyaluran kredit untuk beberapa sektor usaha dan mulai memperketat beberapa sektor lain. Padahal menurut dia, perbankan seharusnya mampu melihat potensi besar di sektor perikanan, pertanian dan sektor infrastruktur, tanpa mengabaikan manajemen mitigasi risiko. Apalagi, sektor-sektor tersebut juga sejalan dengan prioritas pembangunan pemerintah. “Perbankan, jangan semua sektor dikasih lampu merah,” kata Mantan Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan ini.
Menurut dia, fungsi intermediasi perbankan juga belum optimal, terlihat dari rasio pinjaman terhadap simpanan (LDR) yang sebesar 88,3 persen per Maret 2015. Adapun, rasio NPL sebenarnya masih terkendali di 2,4 persen, meskipun kredit untuk pelaku usaha kecil dan menengah (UKM) tercatat di 4,14 persen.
Lebih lanjut, Anggito menekankan kalangan perbankan juga harus memahami bahwa kondisi perekonomian selama triwulan I sangat tertekan, terlihat dari pertumbuhan ekonomi yang hanya 4,71 persen dan realisasi defisit fiskal yang meleset dari target.
Oleh karena itu, ujar dia perbankan harus menjadi motor untuk memulihkan pertumbuhan ekonomi yang melambat. “Swasta memiliki kemampuan seperti dengan kemampuan analisis dan kreativitas yang tinggi. Hal tersebut sulit terlihat dari pemerintah,” kata Anggito.
Menurut dia, kredit perbankan pada 2015 seharusnya tumbuh 13-15 persen untuk menopang pertumbuhan ekonomi di atas 5 persen. Pasalnya, target pertumbuhan ekonomi di APBN-Perubahan 2015 sebesar 5,7 persen sulit tercapai. Dia menyebutkan konsensus para kepala ekonom bank-bank di Indonesia memperkitakan pertumbuhan ekonomi hanya tumbuh 5-5,2 persen.

BERITA TERKAIT

Penyaluran Kredit BCA Tembus Rp1.063 Triliun, Laba Bersih Tumbuh Jadi Rp45,2 Triliun

Lindungi Likuiditas Investor, BEI Rombak Aturan Suspensi dan UMA Saham Mulai November 2026

Edukasi Pasar Modal Ritel, Ajaib Hadirkan Live Trading Sepekan Bareng Komunitas Saham

Rebalancing Indeks Acuan BEI: PGEO dan UNVR Terdepak dari IDX30, AALI Masuk IDX80

 
 
 
 
 
Previous Post

Jalur Alternatif Dorong Ekonomi

Next Post

Petani, “KO”

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BACA JUGA

Related Posts

Dua Tahun Beruntun, BNI Pertahankan Predikat Tertinggi GCG di IICD Award 2026

Dua Tahun Beruntun, BNI Pertahankan Predikat Tertinggi GCG di IICD Award 2026

by Sandy Romualdus
20 Oktober 2026 - 05:21

BNI mempertahankan predikat tertinggi Leadership in Corporate Governance di ajang The 17th IICD Award 2026 dan meraih posisi GCG terbaik...

Operasi Senyap di Gedung BNPB: KPK Amankan Sejumlah Pihak dan Gelar Perkara Kilat

Operasi Senyap di Gedung BNPB: KPK Amankan Sejumlah Pihak dan Gelar Perkara Kilat

by Stella Gracia
14 Oktober 2026 - 09:08

KPK menggelar OTT terhadap pejabat BNPB dengan pendampingan Puspom TNI di Jakarta, status hukum pihak terperiksa diumumkan dalam 1x24 jam....

Bedah RUU Perampasan Aset: Urgensi, Titik Kritis, dan Syarat Mutlak Enam Pagar Pelindung

Bedah RUU Perampasan Aset: Urgensi, Titik Kritis, dan Syarat Mutlak Enam Pagar Pelindung

by Sandy Romualdus
12 Oktober 2026 - 11:39

Pakar hukum merumuskan enam pagar pelindung RUU Perampasan Aset guna mencegah penyalahgunaan kekuasaan aparat dalam skema sita tanpa pidana (NCBAF)....

Perkuat Budaya ‘4 No’s’: KRQA-SQC Audit Sistem Anti Penyuapan di Bandara Adi Soemarmo

Perkuat Budaya ‘4 No’s’: KRQA-SQC Audit Sistem Anti Penyuapan di Bandara Adi Soemarmo

by Sandy Romualdus
4 Oktober 2026 - 14:49

KRQA-SQC menggelar audit surveilans ISO 37001:2025 di Bandara Adi Soemarmo Solo guna memastikan penerapan prinsip anti penyuapan 4 No's. Stabilitas.id...

Tempatkan 700 Awak Kapal Pesiar: PT Ships Crew Indo Jalani Audit ISO dan Sertifikasi MLC 2006

Tempatkan 700 Awak Kapal Pesiar: PT Ships Crew Indo Jalani Audit ISO dan Sertifikasi MLC 2006

by Sandy Romualdus
30 September 2026 - 14:42

PT Ships Crew Indo Inc. menjalani audit ISO 9001:2015 dan MLC 2006 usai menyalurkan lebih dari 700 pelaut Indonesia ke...

Kendalikan Risiko ‘Black Box’ dan Deepfake, OJK Rilis Kerangka Tata Kelola AI Berbasis Prinsip

Kendalikan Risiko ‘Black Box’ dan Deepfake, OJK Rilis Kerangka Tata Kelola AI Berbasis Prinsip

by Sandy Romualdus
25 September 2026 - 15:29

Deputi Komisioner OJK Deden Firman Hendarsyah menegaskan prinsip human-in-the-loop dan tata kelola AI perbankan berbasis risiko pada Seminar LPPI #109....

E-MAGAZINE

TERPOPULER

  • Transaksi Repo Tembus Rp17,5 Triliun per Hari, BI Luncurkan Tri-Party Agent Repo

    Transaksi Repo Tembus Rp17,5 Triliun per Hari, BI Luncurkan Tri-Party Agent Repo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • OJK dan Bappebti Perkuat Sinergi dalam Pengawasan Derivatif Keuangan Berbasis Efek

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • LinkUMKM Tembus 14 Juta User, BRI Dorong Kerajinan Ramah Lingkungan Go International

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menyiapkan Talenta Hijau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Keras Dan Menghantam

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pacu Belanja Turis Asing ke Daerah, Garuda Indonesia Luncurkan Skema Multi-Destinasi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Nakhoda Baru Askrindo: Mahelan Prabantarikso Gantikan M. Fankar Umran

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
 

Terbaru

Penyaluran Kredit BCA Tembus Rp1.063 Triliun, Laba Bersih Tumbuh Jadi Rp45,2 Triliun

Lindungi Likuiditas Investor, BEI Rombak Aturan Suspensi dan UMA Saham Mulai November 2026

Edukasi Pasar Modal Ritel, Ajaib Hadirkan Live Trading Sepekan Bareng Komunitas Saham

Rebalancing Indeks Acuan BEI: PGEO dan UNVR Terdepak dari IDX30, AALI Masuk IDX80

Terpakai Rp17 Triliun, Bank Mandiri Jelaskan Fasilitas Kredit Rp40 Triliun ke Jhonlin Group

Tindak 330 Entitas Ilegal, Satgas PASTI dan IASC Blokir Rekening Penipuan Rp825,2 Miliar

CASA Tembus Rp733,7 Triliun, BNI Bukukan Laba Operasional Kuartal III Terbesar Sepanjang Sejarah

Alokasikan Rp1 Triliun di Tahap II, BRI Lanjutkan Aksi Korporasi Buyback Saham

IHSG Bangkit 4,9 Persen, OJK Perpanjang Relaksasi Buyback Saham dan Perketat Deteksi Transaksi

STABILITAS CHANNEL

 
 
Next Post
Danamon Siapkan Rp 2 Triliun untuk Penarikan Uang Tunai

Danamon Siapkan Rp 2 Triliun untuk Penarikan Uang Tunai

  • Advertorial
  • Berita Foto
  • BUMN
  • Bursa
  • Ekonomi
  • Eksmud
  • Figur
  • Info Otoritas
  • Internasional
  • Interview
  • Keuangan
  • Kolom
  • Laporan Utama
  • Liputan Khusus
  • Manajemen Resiko
  • Perbankan
  • Portofolio
  • Resensi Buku
  • Riset
  • Sektor Riil
  • Seremonial
  • Syariah
  • Teknologi
  • Travel & Resto
  • UKM
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pesan Majalah
  • Kontak Kami
logo-footer

Copyright © 2021 – Stabilitas

Find and Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata

Copyright © 2021 Stabilitas - Governance, Risk Management & Compliance