JAKARTA, Stabilitas – PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk mematok pertumbuhan bisnis melampau angka 10 persen di tahun 2018. Perseroan optimisme akan target tersebut oleh karena didorong oleh kenaikan permintaan kredit dari dunia usaha seiring prospek ekonomi lebih baik.
Menurut Direktur Keuangan Bank BRI, Haru Koesmahargyo untuk mencapai target tersebut, manajemen BRI tetap mengedepankan prinsip kehatihatian dengan tetap menjaga kualitas aktiva produktif tetap sehat.
“Pengelolaan rasio kredit bermasalah tetap prudent di level 2,3 persen gross atau di bawah industri,” kata Haru saat membuka kejuaraan futsal SahabatPers BRI dalam rangka Hari Ulang Tahun (HUT) ke- 122 Bank BRI di Jakarta, Sabtu (25/11) akhir pekan lalu.
Selain itu, lanjut Haru, belum lama ini BRI melakukan aksi korporasi berupa pemecahan nilai saham dengan rasio 1:5 bertapatan dengan 14 tahun melantai di bursa setelah penawaran saha, perdana ke publik atau initial public offering (IPO) pada 10 November 2003.
Hingga kini, BRI terus mencatatkan kinerja cemerlang setiap tahunnya, yang berimbas positif pada kenaikan harga saham dengan kode perdagangan BBRI itu. Pada waktu pertama kali diperdagangkan, saham BBRI seharga 875 rupiah per lembar dengan kapitalisasi pasar (market cap) sebesar 11,47 triliun rupiah.
Untuk diketahui, sebelum dipecah nilai saham emiten BUMN berkode BBRI ini, nilai nominal sahamnya sudah melonjak menjadi 16.450 rupiah per lembar saham dengan kapitalisasi pasar menembus di atas 405 triliun rupiah. Hal itu menjadikan BRI bank BUMN dengan kapitalisasi pasar terbesar di Indonesia dan masuk dalam empat besar bank dengan market cap terbesar di Asia Tenggara.
BRI pernah melakukan stock split dengan rasio 1:2 pada 2011 yang lalu. Dengan stock split, harga saham BBRI akan lebih terjangkau oleh masyarakat sehingga diharapkan likuiditas perdagangan akan semakin meningkat. “Pemecahan nominal saham juga merupakan sinyal kuat yang mencerminkan optimisme perseroan terhadap pertumbuhan bisnis Bank BRI ke depan,” katanya.
Dengan semakin banyaknya investor lokal yang memiliki saham perusahaan, maka masyarakat akan merasa semakin memiliki keterlibatan secara tidak langsung dalam membangun perekonomian nasional.





.jpg)










