Stabilitas.id — Perusahaan asuransi umum, PT Sompo Insurance Indonesia membukukan kinerja positif sepanjang tahun buku 2025. Emiten asuransi ini mencatatkan laba bersih senilai Rp135,3 miliar, tumbuh 10% jika dibandingkan dengan perolehan pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Akselerasi laba bersih tersebut ditopang oleh realisasi pertumbuhan premi bersih yang menanjak 12% secara tahunan (year-on-year/yoy) menjadi Rp1,87 triliun. Adapun dari sisi pendapatan premi bruto (gross written premium/GWP), Sompo Indonesia berhasil menembus angka Rp2,7 triliun.
President Director & CEO Sompo Indonesia Eric Nemitz mengemukakan, lini bisnis asuransi kendaraan bermotor, properti, dan asuransi kesehatan masih menjadi motor penggerak utama pertumbuhan dengan kontribusi dominan mencapai 79% dari total portofolio premi.
BERITA TERKAIT
“Tahun 2025 menjadi tahun yang positif bagi perusahaan di tengah tantangan industri. Perseroan tetap fokus memenuhi kebutuhan perlindungan aset dan kesehatan nasabah melalui strategi bisnis yang adaptif, penguatan permodalan, dan manajemen risiko,” ujar Eric dalam keterangan resminya, dikutip Senin (18/5/2026).
Seiring dengan kenaikan volume bisnis, Sompo Indonesia mencatat realisasi pembayaran klaim bruto senilai Rp853 miliar, atau mengalami peningkatan sebesar 25% dibandingkan tahun sebelumnya. Pembengkakan klaim ini salah satunya dipicu oleh tren lonjakan inflasi medis global.
Meski demikian, indikator kesehatan keuangan perseroan tetap berada dalam kondisi prima. Tingkat solvabilitas atau Risk Based Capital (RBC) untuk asuransi konvensional bertengger di level 240%, jauh melampaui batas minimum yang dipersyaratkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebesar 120%. Sementara itu, total aset perusahaan terkerek naik 13% yoy menjadi Rp4 triliun.
Spin-Off
Kinerja moncer juga diperlihatkan oleh Unit Usaha Syariah (UUS) Sompo Indonesia. Lini bisnis ini sukses mencatatkan surplus underwriting dana tabarru’ sebesar Rp31,9 miliar.
Kekuatan modal kerja syariah perseroan tercatat sangat tebal, di mana RBC dana tabarru’ menyentuh level 572% dan RBC dana ujrah melesat hingga 10.768%, berada jauh di atas ketentuan minimum regulator.
Berbekal modalitas keuangan yang kuat, manajemen mengonfirmasi tengah merampungkan proses pemisahan unit usaha syariah (spin-off) guna memenuhi regulasi mutakhir dari OJK. Langkah ini diambil sebagai strategi jangka panjang untuk mempertegas diferensiasi produk di tengah ketatnya kompetisi industri asuransi umum nasional.
“Inisiatif spin-off merupakan bagian dari upaya strategis perseroan untuk memperkuat diferensiasi di tengah kompetisi yang semakin ketat di industri asuransi umum,” pungkas Eric. ***
















