• Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
Senin, Oktober 19, 2026
  • Login
Stabilitas
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
Stabilitas
No Result
View All Result
 
Home Laporan Utama

Bank Emas yang Tak Berkilau

by Sandy Romualdus
13 Februari 2012 - 00:00
11
VIEWS
Bank Emas yang Tak Berkilau
0
SHARES
11
VIEWS

Bank yang sudah memasuki usia emas belum tentu berkinerja mengkilap. Beberapa bank bahkan terlihat kalah mentereng dengan bank yang usianya relatif lebih muda. Persoalan kultur perusahaan dan kemampuan modal dinilai menjadi sumber penyebabnya.

Oleh : Romualdus San Udika

  • Baca juga: Bank BSN Perkuat Ekosistem UMKM Halal, Dorong Pertumbuhan Ekonomi Kerakyatan yang Inklusif

 

BERITA TERKAIT

Tak Serta-merta Otomatis, LPS Siapkan Syarat Kesehatan bagi Peserta Penjaminan Polis

BNI Sabet Peringkat 4 BUMN Layanan Terbaik di Danantara Indonesia CX100 Award 2026

Laba Tembus Rp1 Triliun: Bank BPD Bali Pacu Kredit UMKM Rp14,43 Triliun hingga Kuartal III/2026

Minta Pasar Tak Panik Sikapi Wacana MSCI, Peluang Bursa RI Turun Kelas Sangat Mustahil

Hampir semua perusahaan menginginkan berumur panjang. Dalam sebuah bukunya, Arie de Geus, seorang pakar organisasi yang paling banyak dicari di dunia, mengatakan bahwa sebuah perusahaan akan berumur panjang jika perhatian yang diberikan kepada karyawan tidak kalah dengan yang diberikan kepada para manajernya.

Mantan Direktur Perencanaan Strategis Royal Shell-Belanda itu menegaskan bahwa kegagalan sebuah perusahaan disebabkan perusahaan terlampau fokus pada manajer dan bottom line, sementara komunitas pegawai yang membentuk organisasi tersebut disepelekan.

Lalu apakah sebuah perusahaan hanya berhenti pada cita-cita untuk bertahan tanpa berkeinginan menjadi perusahaan yang berpengaruh? Saya kira hampir semua perusahaan akan menjawabnya tidak. Meski demikian tidak semua perusahaan bisa mencapai cita-cita itu karena banyak perusahaan yang sekedar bisa bertahan tetapi performance yang dimilikinya begitu-begitu saja.

Kenyataan itu pun bisa dijumpai pada perusahaan jasa keuangan seperti bank. Banyak bank yang sudah dikatakan ‘uzur’ tetapi prestasi dan kedudukannya di industri seperti tidak diperhitungkan. Contoh yang ada di depan mata adalah Bank Tabungan Negara (BTN). Bank yang sudah berumur 115 tahun ini, memang terdepan dalam penyaluran kredit perumahan, tetapi soal indikator keuangan bank ini masih tergolong bank medioker. Bahkan di antara bank-bank milik negara, bank ini berada di posisi juru kunci dilihat dari size, aset maupun sumbangan dividen.

Bank yang lahir di tahun 1897 ini, hingga triwulan ketiga tahun lalu baru memiliki aset sebesar Rp78 triliun dan kantor cabang berjumlah 182 unit. Dibandingkan dengan Bank Negara Indonesia (BNI) yang baru hadir pada 5 Juli 1946 saja, BTN masih kalah telak karena BNI telah memiliki aset sebesar Rp267 triliun dan 4.447 kantor cabang. Apalagi jika harus dibandingkan dengan Bank Rakyat Indonesia (BRI) yang asetnya Rp 466 triliun dengan puluhan ribu unit kantor layanan. Malahan Bank Mandiri yang baru berusia belasan sudah bisa menjadi bank dengan kinerja kinclong dan aset mentereng.

Dari kelompok bank swasta, bisa dilihat pada Bank OCBC NISP. Bank yang semula bernama NISP sebelum diakuisisi oleh kelompok usaha dari Singapura baru memiliki aset sekitar Rp55 triliun hingga tahun lalu. Padahal NISP sudah berumur lebih dari 50 tahun, tepatnya 71 tahun. Bank UOB, yang sudah berdiri di tahun 1956, baru mempunyai aset sebesar Rp 43 triliun dan Bank Tabungan Pensiun Nasional yang berdiri sejak 1959, baru memiliki aset Rp 39 triliun.

Kelompok bank swasta itu belum bisa berbicara banyak jika dibandingkan dengan Bank Central Asia. Kendati relatif berusia sama, bank yang lahir pada 21 Februari 1957 ini memiliki aset Rp 371 triliun hanya kalah dari BRI.

Dalam pandangan Kepala Divisi Pusat Kajian dan Pengembangan Manajemen Risiko Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Subardiah, kurang berkembangnya bank di umur yang cukup tua, karena kultur atau budaya kerja yang diterapkan tidak mendukung pertumbuhan bank. “Karena di industri perbankan itu standar GCG (good corporate governance) sama, hanya kultur yang berbeda,” tutur Subardiah.

Adapun kultur yang dimaksud adalah menyangkut loyalitas sumber daya manusia (SDM) dalam mengakomodir modernisasi, perkembangan teknologi, dan kebutuhan nasabah. Jika beberapa poin perkembangan tersebut tidak dijadikan sebagai standar operasional prosedur (SOP) oleh sebuah bank dalam menjalankan bisnisnya, maka bisa dipastikan bahwa bank tersebut tidak akan mengalami pertumbuhan yang cemerlang, kendati umurnya memasuki masa keemasan.

  • Baca juga: Suku Bunga Tinggi dan Rupiah Loyo, OJK Evaluasi Revisi Rencana Bisnis 105 Bank

Industri perbankan nasional dalam satu dekade terakhir telah mengalami perubahan terutama dalam tingkat persaingan dan pelayanan yang belum pernah terjadi dalam sejarah perbankan Indonesia. Bank-bank menjadi kian agresif sekaligus kian meningkatkan pelayanannya.

Hal itu, menurut Subardiah didorong oleh makin banyaknya bank yang beroperasi di Tanah Air menjadi bank komersial. Dengan menjadi bank komersial, sebuah bank seperti diharuskan untuk menghadirkan lebih banyak produk-produk baru, tidak semata berkutat pada kredit atau jasa saja. “Sebagai bank komersial tentu banyak hal yang harus dikerjakan, seperti marketing yang aktif dan inovatif, karena dihadapkan pada persaingan luar biasa,” kata dia.

Nah, bank-bank yang prestasinya tidak begitu mengkilap meski usianya sudah melewati usia emas, kata Subardiah adalah bank-bank yang hanya berkutat pada kredit dan layanan yang umum saja. Selain itu tingkat kompetensi SDM yang dimilikinya juga kurang memadai untuk bersaing di jagat perbankan.

Persoalan Modal

Pendapat yang sedikit berbeda diutarakan oleh salah satu pejabat Bank Indonesia. Kepala Biro Hubungan Masyarakat BI Difi A Johansyah menilai, ada beberapa hal yang menyebabkan bank kurang berkembang, kendati telah berumur di atas 50 tahun.

Penyebab yang paling umum ditemukan adalah bank memaksakan diri untuk masuk ke bisnis komersial meski modalnya tak cukup kuat. Saat ini memang hampir semua bank umum masuk ke segmen komersial yang bisa melayani segala hal yang berkaitan dengan jasa perbankan. “Padahal modalnya belum tentu mampu, demikian juga sumber pendanaannya,” tukas Difi.

Dengan modal yang minim, sebuah bank akan sulit berinvestasi dalam memperluas layanan, terutama dalam pembangunan infrastruktur seperti pembukaan cabang baru dan anjungan tunai mandiri (ATM). Dengan kondisi yang demikian, tentunya nasabah akan lebih memilih bank-bank yang memiliki kemampuan permodalan lebih mumpuni. Alhasil, bank yang modalnya kuat akan memperoleh limpahan dana pihak ketiga (DPK).

Meski begitu, bukan berarti bank yang banyak menyedot DPK bisa otomatis lebih unggul dari bank lain. Jika DPK menjadi salah satu bagian yang dominan dalam mendanai kredit, bank dinilai akan berkecenderungan untuk berlaku tidak efisien. Sebabnya, untuk meraih DPK dalam jumlah besar, bank berspekulasi dengan penawaran bunga tinggi sehingga menempatkan cost of fund yang tinggi. Untuk menutupi hal itu, sudah memaksa bank untuk menetapkan bunga yang tinggi pula pada kredit yang ditawarkan ke nasabah. “Jika kredit berbunga tinggi ini tidak diminati nasabah, bank akan merugi,” tegas Difi.

Kalau situasinya demikian maka bank-bank yang modalnya besar pun lambat laun akan mengalami hambatan dalam operasional. Dan Difi menyarankan –seperti juga dorongan bank sentral, agar bank-bank yang kinerjanya masih biasa-biasa saja agar segera menggabungkan diri dengan bank lainnya alias merger.

  • Baca juga: Respons Aturan KUR 5% Presiden Prabowo, OJK Minta Himbara Pertebal Pencadangan

Usulan tersebut tampaknya sangat logis mengingat konsekuensi lain yang dihadapi bank-bank tersebut adalah kalah bersaing dan akhirnya tutup. Tentu tidak ada bank yang menginginkan hal itu terjadi, bukan? SP

 

 
 
 
 
 
Previous Post

Memaknai Angka 50 Tahun

Next Post

Menjadi Long-Lasting Learning Bank

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BACA JUGA

Related Posts

Bank BSN Perkuat Ekosistem UMKM Halal, Dorong Pertumbuhan Ekonomi Kerakyatan yang Inklusif

Bank BSN Perkuat Ekosistem UMKM Halal, Dorong Pertumbuhan Ekonomi Kerakyatan yang Inklusif

by Sandy Romualdus
21 Juli 2026 - 07:47

Bank BSN mendorong penguatan ekonomi kerakyatan, pengembangan kewirausahaan, serta pertumbuhan ekonomi yang inklusif, berkeadilan, dan berkelanjutan Stabilitas.id - Direktur Network...

Berantas Judi Online, OJK Perintahkan Bank Blokir 33.000 Rekening Penampung

Suku Bunga Tinggi dan Rupiah Loyo, OJK Evaluasi Revisi Rencana Bisnis 105 Bank

by Sandy Romualdus
10 Juli 2026 - 12:52

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tengah mengevaluasi revisi Rencana Bisnis Bank (RBB) 2026 yang diajukan oleh sekitar 105 bank akibat penyesuaian...

Respons Aturan KUR 5% Presiden Prabowo, OJK Minta Himbara Pertebal Pencadangan

by Sandy Romualdus
21 Mei 2026 - 14:50

Stabilitas.id — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyambut positif arahan Presiden RI Prabowo Subianto yang meminta perbankan pelat merah (Himbara) untuk...

Virsem LPPI #107: Bukan Sekadar Religi, Hijrah Finansial Jadi Tren Baru Ekonomi Berkelanjutan

Virsem LPPI #107: Bukan Sekadar Religi, Hijrah Finansial Jadi Tren Baru Ekonomi Berkelanjutan

by Sandy Romualdus
13 April 2026 - 14:54

Stabilitas.id — Industri perbankan syariah nasional terus menunjukkan tren pertumbuhan positif meski masih menghadapi tantangan penetrasi pasar yang belum optimal....

Menaker Terbitkan SE WFH 1 Hari Sepekan, Dorong Ketahanan Energi Nasional

Menaker Terbitkan SE WFH 1 Hari Sepekan, Dorong Ketahanan Energi Nasional

by Stella Gracia
1 April 2026 - 21:53

Stabilitas.id – Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli resmi mengimbau perusahaan swasta, Badan Usaha Milik Negara (BUMN), dan Badan Usaha Milik Daerah...

Bank Neo Commerce

OJK Cabut Izin Mitra Pemasaran Efek Bank Neo Commerce (BBYB), Ini Alasannya

by Sandy Romualdus
27 Maret 2026 - 15:53

Stabilitas.id – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menjatuhkan sanksi administratif berupa pembatalan surat tanda terdaftar kepada PT Bank Neo Commerce Tbk. (BBYB)....

E-MAGAZINE

TERPOPULER

  • Transaksi Repo Tembus Rp17,5 Triliun per Hari, BI Luncurkan Tri-Party Agent Repo

    Transaksi Repo Tembus Rp17,5 Triliun per Hari, BI Luncurkan Tri-Party Agent Repo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • OJK dan Bappebti Perkuat Sinergi dalam Pengawasan Derivatif Keuangan Berbasis Efek

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • LinkUMKM Tembus 14 Juta User, BRI Dorong Kerajinan Ramah Lingkungan Go International

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menyiapkan Talenta Hijau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Keras Dan Menghantam

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Nakhoda Baru Askrindo: Mahelan Prabantarikso Gantikan M. Fankar Umran

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pacu Belanja Turis Asing ke Daerah, Garuda Indonesia Luncurkan Skema Multi-Destinasi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
 

Terbaru

Tak Serta-merta Otomatis, LPS Siapkan Syarat Kesehatan bagi Peserta Penjaminan Polis

BNI Sabet Peringkat 4 BUMN Layanan Terbaik di Danantara Indonesia CX100 Award 2026

Laba Tembus Rp1 Triliun: Bank BPD Bali Pacu Kredit UMKM Rp14,43 Triliun hingga Kuartal III/2026

Minta Pasar Tak Panik Sikapi Wacana MSCI, Peluang Bursa RI Turun Kelas Sangat Mustahil

Bongkar Manipulasi Saham dan Penjatahan Semu: OJK Denda DSSA, BREN, dan CUAN Total Rp2,1 Triliun

Filosofi Bahtera di Atas Laut, Pemprov DKI Resmikan Masjid Apung An-Nur di Pantai Ancol

Ancaman Eksodus Dana Asing: Simak Pemicu Usulan Reklasifikasi Standalone Market oleh MSCI

Tekanan Ganda Pasar Finansial: BI Gelontorkan Intervensi Hadapi Sentimen Risk-Off dan Isu MSCI

Tersengat Wacana MSCI dan Inflasi AS: IHSG Kena Trading Halt di Awal Sesi I

STABILITAS CHANNEL

 
 
Next Post
Untuk Bertahan Butuh Core Value Kuat

Untuk Bertahan Butuh Core Value Kuat

  • Advertorial
  • Berita Foto
  • BUMN
  • Bursa
  • Ekonomi
  • Eksmud
  • Figur
  • Info Otoritas
  • Internasional
  • Interview
  • Keuangan
  • Kolom
  • Laporan Utama
  • Liputan Khusus
  • Manajemen Resiko
  • Perbankan
  • Portofolio
  • Resensi Buku
  • Riset
  • Sektor Riil
  • Seremonial
  • Syariah
  • Teknologi
  • Travel & Resto
  • UKM
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pesan Majalah
  • Kontak Kami
logo-footer

Copyright © 2021 – Stabilitas

Find and Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata

Copyright © 2021 Stabilitas - Governance, Risk Management & Compliance