JAKARTA, IndonesiaSatu.co — Setelah menurunkan suku bunga Bank Indonesia (BI) atau BI Rate, Bank Indonesia (BI) kembali memberikan sinyal pelonggaran kebijakan moneter.
Dalam forum yang diadakan Ikatan Alumni Fakultas Ekonomi dan Bisnis (Iluni) UI, seorang mahasiswa menanyakan mengenai peluang turunnya suku bunga acuan BI atau BI rate ke level 7 persen.
Atas pertanyaan tersebut, Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara membenarkan, sejak Oktober 2015 BI mengakui adanya ruang untuk melonggarkan kebijakan moneter. Namun, pelonggaran itu tidak hanya soal BI rate, bisa juga dengan menurunkan Giro Wajib Minimum (GWM) primer.
“BI pada waktu Rapat Dewan Gubernur 14 Januari menurunkan BI Rate dan di pers rilis BI, BI katakan masih ada ruang pelonggaran kebijakan moneter subject to situasi global, pasar keuangan,” paparnya di Graha Niaga, Jumat (29/1).
Dia mengatakan, selama situasi ekonomi global dan dalam negeri stabil, ruang pelonggaran moneter selalu terbuka. Tapi sebelum melakukan pelonggaran, pihaknya mengaku terus memantau kondisi ekonomi global. Indonesia yang memiliki utang luar negeri (ULN) yang besar, mau tidak mau bergantung pada ekonomi global.
“The Fed, China, dua faktor dominan dari ekonomi global, kenapa kita mengacu ekonomi global? Karna funding negara ini banyak sekali dari luar, APBN, korporasi, jadi kita enggak bisa tutup mata dengan apa yang terjadi di global,” tukasnya
Sebelumnya Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus DW Martowardojo mengatakan, masih ada ruang untuk melakukan pelonggaran kebijakan moneter. Pelonggaran bisa dilakukan dalam beberapa kebijakan, misalnya penurunan suku bunga acuan (BI Rate) maupun Giro Wajib Minimum (GWM) primer.
Selain menurunkan suku bunga 25 basis point dari 7,5 persen menjadi 7,25 persen, BI juga sudah menurunkan besaran GWM primer menjadi 7,5 persen.
“Bisa dalam bentuk berbagai instrumen, baik GWM atau policy rate. Ini bisa kami lakukan setelah kami lakukan kajian indikator ekonomi pada saat nanti RDG pada 18 Februari 2016, kami lihat ada ruang pelonggaran,” paparnya di sela Mandiri Investor Forum 2016.
Meskipun begitu, untuk memutuskan pelonggaran kebijakan, BI perlu melakukan banyak pertimbangan. Untuk itu, BI bakal terus memantau pergerakan ekonomi global maupun kondisi ekonomi dalam negeri.
“Kondisi global perlu kami perhatikan. Banyak yang katakan tekanan harga minyak menekan harga komoditas. Ekonomi China masih akan ada koreksi,” tandasnya.

















