Bank Jakarta gelar akad kredit massal untuk 100 pedagang Pasar Induk Kramat Jati. Lewat 243 Sentra Mikro, akses pembiayaan kini makin dekat demi mendorong UMKM naik kelas.
Stabilitas.id – Pagi itu, riuk pikuk Pasar Induk Kramat Jati terasa berbeda. Di antara tumpukan buah dan sayur segar yang siap didistribusikan ke penjuru ibu kota, terselip asa baru bagi para pemilik lapak. Bagi seorang pedagang pasar, membagi waktu antara menjaga dagangan dan mengurus administrasi perbankan kerap menjadi tantangan tersendiri. Namun hari itu, modal usaha tak lagi terasa jauh dari genggaman.
Langkah nyata untuk memangkas jarak tersebut diwujudkan melalui Akad Kredit Massal Pedagang Pasar Induk Kramat Jati yang diikuti oleh 100 pedagang. Momen krusial ini turut disaksikan langsung oleh Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno bersama jajaran Pemprov DKI Jakarta dan pemangku kepentingan setempat.
“Kami tidak ingin pedagang yang sibuk mencari bank. Bank Jakarta yang harus semakin dekat dan hadir di tengah-tengah pedagang,” ujar Direktur Utama Bank Jakarta, Agus H. Widodo.
BERITA TERKAIT
Pernyataan tersebut bukan sekadar slogan. Melalui keberadaan 243 Sentra Mikro yang tersebar di seluruh pelosok DKI Jakarta, Bank Jakarta secara aktif menerapkan strategi jemput bola. Memahami betul denyut nadi dan dinamika pasar rakyat, kehadiran sentra-sentra ini menjadi jembatan bagi para pelaku usaha kecil untuk mengakses pembiayaan formal yang aman, terjangkau, serta bebas dari jerat pembiayaan informal berbiaya tinggi.
Hingga Juni 2026, komitmen ini dibuktikan lewat penyaluran pembiayaan mencapai Rp326 miliar kepada 2.388 debitur pedagang pasar di Jakarta. Khusus di Pasar Induk Kramat Jati—pusat poros pangan yang menampung lebih dari 5.000 tempat usaha—plafon kredit yang tersalurkan telah menembus angka Rp48 miliar untuk 167 pedagang.
Bank Jakarta menyediakan fleksibilitas pembiayaan, mulai dari Kredit Usaha Rakyat (KUR) hingga non-KUR dengan plafon mencapai Rp500 juta. Kendati demikian, besarnya angka penyaluran bukanlah indikator utama keberhasilan.
Bagi Bank Jakarta, indikator keberhasilan sejati terletak pada dampak humanis yang tercipta: saat omzet pedagang meningkat, roda usaha semakin meluas, lapangan kerja baru bagi warga sekitar tercipta, dan rantai pasok ekonomi lokal menguat. Sinergi erat antara Pemprov DKI Jakarta, Perumda Pasar Jaya, dan Bank Jakarta pun terus dipacu untuk merawat ekosistem UMKM yang berkelanjutan.
Di tengah arus modernisasi dan digitalisasi perbankan, Bank Jakarta memilih untuk tidak mencabut akarnya dari masyarakat. Kehadiran di pasar rakyat menjadi bukti bahwa transformasi teknologi berjalan selaras dengan rasa kepedulian.
“Hari ini mungkin nasabah mikro, besok berkembang menjadi usaha kecil, kemudian menjadi usaha menengah. Bank Jakarta harus tetap hadir dan tumbuh bersama mereka,” tutur Agus menaruh harapan. Karena ketika UMKM tumbuh berdaya, ekonomi Jakarta akan berdiri makin kokoh.***

















