Stabilitas.id – Eskalasi ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran menjadi determinan utama pergerakan pasar modal global dan domestik pada pengujung Maret 2026. Laporan Investment Weekly Highlights Manulife Investment Management, dikutip Selasa (31/3/2026), mencatat adanya fluktuasi tajam yang dipicu oleh dinamika negosiasi gencatan senjata yang masih menemui jalan buntu.
Sentimen Global: Antara Harapan De-eskalasi dan Risiko Invasi
Pasar sempat memberikan respons positif di awal pekan menyusul pengajuan 15 poin syarat gencatan senjata oleh Gedung Putih. Namun, optimisme tersebut terkikis menjelang akhir pekan setelah kabar peningkatan konsentrasi pasukan AS di Timur Tengah mencuat, memicu kekhawatiran pasar terhadap potensi invasi darat.
BERITA TERKAIT
Dampaknya terasa signifikan pada instrumen aset berisiko dan safe haven:
-
Indeks S&P 500: Melemah -2,12% dalam sepekan.
-
Yield UST 10Y: Mengalami tekanan jual, melonjak dari 4,38% ke level 4,43%.
Tekanan pada Pasar Asia dan Sektor Teknologi
Di kawasan regional, indeks MSCI Asia Pacific terkoreksi –1,52%, menandai pelemahan selama empat pekan berturut-turut. Selain faktor geopolitik, sektor teknologi Asia tertekan akibat disrupsi inovasi dari Google. Pengembangan algoritma kompresi data baru untuk AI oleh raksasa teknologi tersebut diprediksi akan memangkas permintaan memori secara global, yang secara langsung memukul emiten produsen memori di Asia.
Menghadapi ancaman krisis energi akibat ketergantungan pada pasokan minyak Timur Tengah, sejumlah negara mulai mengambil langkah proteksi:
-
Tiongkok: Membatasi kenaikan harga BBM maksimal 10%.
-
Filipina: Resmi mengumumkan status darurat energi.
-
India: Melakukan pemotongan pajak BBM guna menjaga daya beli masyarakat.
Respons Domestik: BI Perketat Sabuk Stabilitas
Menyikapi volatilitas global, Bank Indonesia (BI) dalam rapat 17 Maret lalu memutuskan untuk mempertahankan BI Rate di level 4,75%. Langkah ini merupakan sinyal eksplisit bahwa fokus kebijakan moneter saat ini sepenuhnya diarahkan pada stabilitas nilai tukar Rupiah.
Poin krusial dalam pernyataan BI kali ini adalah penghapusan narasi mengenai potensi penurunan suku bunga di masa depan. Hal ini mengindikasikan bahwa ruang pelonggaran moneter kini menjadi sangat terbatas (hawkish tilt).
Dari sisi fiskal, Menteri Keuangan menegaskan komitmen menjaga defisit di bawah 3% terhadap PDB, didukung oleh langkah efisiensi anggaran mencapai IDR81 triliun. Meski IHSG terkoreksi tipis -0,14%, pasar obligasi Indonesia menunjukkan resiliensi dengan indeks BINDO yang masih mampu menguat +0,08%. ***
















