• Redaksi
  • Iklan
  • Majalah Digital
  • Kontak Kami
Kamis, Agustus 20, 2026
  • Login
Stabilitas
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
Stabilitas
No Result
View All Result
 
Home Info Otoritas

Lampaui Target RPJMN 2029 Lebih Cepat, OJK Beberkan 5 Strategi Tutup Gap Literasi-Inklusi

oleh Sandy Romualdus
11 Agustus 2026 - 10:18
15
Dilihat
Lampaui Target RPJMN 2029 Lebih Cepat, OJK Beberkan 5 Strategi Tutup Gap Literasi-Inklusi
0
Bagikan
15
Dilihat

SNLIK 2026 catat literasi 69,57% dan inklusi 93,61%, lampaui target RPJMN 2029. OJK luncurkan 5 strategi tutup gap inklusi dan atasi ketimpangan sektor.

Stabilitas.id – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatatkan lompatan strategis dalam percepatan inklusi dan literasi keuangan nasional. Berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) Tahun 2026, indeks literasi keuangan Indonesia berhasil menyentuh level 69,57%, sedangkan indeks inklusi keuangan menembus 93,61%.

  • Baca juga: Jalankan Mandat UU P2SK, OJK Tunjuk Henry Rialdi Pimpin Pengaturan dan Pengawasan BMKS

Realisasi ini meningkat dibandingkan hasil SNLIK 2025 yang mencatatkan indeks literasi 66,64% dan inklusi 92,74%. Capaian tahun 2026 ini secara resmi berhasil melampaui target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029 lebih cepat dari jadwal, di mana target literasi 2029 ditetapkan sebesar 69,35% dan inklusi sebesar 93,00%.

Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi menggarisbawahi bahwa keberhasilan melampaui target RPJMN ini menjadi pijakan penting untuk mengejar visi Indonesia Emas 2045 dengan target inklusi 98%.

BERITA TERKAIT

Jalankan Mandat UU P2SK, OJK Tunjuk Henry Rialdi Pimpin Pengaturan dan Pengawasan BMKS

Perkuat Inklusi dan Integritas Pasar, OJK Pacu Pembentukan Bursa Komoditas Strategis dan Pasar Karbon

Kesenjangan Tembus 24,04 Poin: Phi Institute Peringatkan Risiko Inklusi Keuangan Semu

Implementasi POJK 19/2025, OJK dan Pemerintah Perluas Akses Kredit UMKM Tanpa Agunan Tambahan

“Keberhasilan ini membuktikan program edukasi dan perluasan akses pasar keuangan nasional kian terarah. Namun, fokus utama OJK kini adalah memperkecil celah (gap) antara pemanfaatan produk keuangan yang tinggi dan pemahaman risikonya,” ujar Friderica dalam konferensi pers daring hasil SNLIK 2026 di Jakarta, Senin (10/8/2026).

Geliat Perdesaan dan Dinamika Gender

Menelisik rincian demografi, Friderica —yang akrab disapa Kiki, menyoroti salah satu poin krusial dari SNLIK 2026 adalah lompatan signifikan literasi keuangan di kawasan perdesaan. Tingkat pemahaman finansial masyarakat desa melonjak sebesar 4,55 persen poin—dari 59,87% pada 2025 menjadi 64,42% pada 2026. Laju ini melampaui pertumbuhan wilayah perkotaan yang naik 1,54 persen poin ke level 72,54%. Sementara dari sisi akses (inklusi), wilayah perkotaan mencatatkan indeks 95,47% dan perdesaan berada di angka 90,39%.

Kiki juga mengungkapkan peta kesetaraan gender juga menunjukkan tren progresif. Indeks literasi perempuan melesat 3,88 persen poin menjadi 69,61%, melampaui indeks laki-laki yang berada pada level 69,54% (naik 2,01 persen poin). Unggulnya angka literasi perempuan diikuti oleh tingkat inklusi yang juga sedikit memimpin di level 93,73%, berbanding 93,49% pada kelompok laki-laki.

Meski demikian, SNLIK 2026 mencatat adanya ketimpangan sektoral antara kinerja produk konvensional dan syariah. Indeks literasi dan inklusi konvensional tumbuh solid masing-masing di level 69,57% dan 93,53%. Sebaliknya, sektor keuangan syariah mengalami sedikit penyesuaian (koreksi), di mana indeks literasi berada di level 43,07% (turun dari 43,42%) dan indeks inklusi syariah mencatatkan angka 13,24% (turun dari 13,41%).

  • Baca juga: Perkuat Inklusi dan Integritas Pasar, OJK Pacu Pembentukan Bursa Komoditas Strategis dan Pasar Karbon

Paradoks Akses: Ketika Inklusi Mendahului Pemahaman

Di balik optimisme capaian angka nasional, OJK memberikan catatan kritis mengenai dinamika pemanfaatan layanan keuangan di lapangan. Kiki menyoroti fenomena masih tingginya celah (gap) antara tingkat akses dan tingkat pemahaman risiko.

Secara umum, distribusi pemahaman finansial menurut kelompok umur masih membentuk kurva normal. Puncak tertinggi literasi dan inklusi dicapai oleh kelompok usia produktif 26–35 tahun (literasi 78,70%; inklusi 96,27%). Angka ini melandai pada kelompok usia 36–50 tahun (73,81%), lalu menurun pada kelompok pra-lansia/lansia 51–79 tahun (60,01%), dan berada di titik terendah pada remaja 15–17 tahun (56,04%).

Namun, tantangan sesungguhnya terletak pada ketidakseimbangan antara keterlibatan masyarakat dalam ekosistem keuangan dengan kedalaman pemahaman mereka.

“Di hampir seluruh segmen, nilai indeks inklusi konsisten berada jauh di atas indeks literasi. Sebagai contoh, kelompok ibu rumah tangga mencatatkan tingkat inklusi sangat tinggi sebesar 93,72%, namun indeks literasinya baru menyentuh 62,79%,” papar Kiki.

Kondisi serupa terlihat pada segmen pekerja informal dan masyarakat yang belum bekerja. Kelompok petani, peternak, dan nelayan mencatatkan tingkat inklusi 87,82% dengan literasi 59,32%. Bahkan kelompok masyarakat yang belum/tidak bekerja memiliki akses hingga 89,59%, tetapi literasi keuangannya menjadi yang terendah secara nasional pada angka 49,46%. Sebaliknya, keterhubungan kuat dengan aktivitas ekonomi formal—seperti pada pegawai profesional (literasi 85,80%; inklusi 98,89%) dan pensiunan (literasi 74,11%; inklusi 99,54%)—secara alami mendorong angka literasi yang jauh lebih matang.

Ketimpangan ini mengindikasikan bahwa sebagian besar masyarakat telah aktif bertransaksi atau menggunakan produk jasa keuangan digital, namun belum sepenuhnya dibekali mitigasi risiko, pemahaman hak-kewajiban, serta perencanaan keuangan jangka panjang.

Peta Strategi OJK Menuju Indonesia Emas 2045

  • Baca juga: Kesenjangan Tembus 24,04 Poin: Phi Institute Peringatkan Risiko Inklusi Keuangan Semu

Untuk menutup celah rentan tersebut dan memastikan keterbukaan akses berbanding lurus dengan kesejahteraan (financial well-being), OJK merumuskan Lima Arah Strategi Utama yang berfokus pada kualitas dan pelindungan konsumen, guna menopang Visi Indonesia Emas 2045 dengan target inklusi 98%:

  • Pemetaan Sasaran Prioritas yang Presisi:
    OJK mengarahkan fokus edukasi kepada segmen yang memiliki indeks di bawah rata-rata nasional, meliputi masyarakat perdesaan, lulusan pendidikan SMP ke bawah, kelompok berpenghasilan di bawah Rp1,5 juta/bulan, pekerja informal, serta kelompok umur rentan (15–17 tahun dan lansia).
  • Penguatan Literasi Jangka Panjang via Kurikulum Formal:
    Mengintegrasikan materi literasi keuangan ke dalam kurikulum pendidikan nasional untuk menanamkan pemahaman, sikap, dan perilaku finansial yang bijak sejak usia sekolah.
  • Pemerataan Literasi dan Inklusi Sektoral:
    Mendorong peningkatan pemahaman pada sektor-sektor yang tingkat literasi serta pemanfaatannya relatif masih rendah, khususnya pasar modal, perasuransian, dana pensiun, dan industri penjaminan.
  • Inklusi Berkualitas dan Optimalisasi TPAKD:
    Menggeser fokus edukasi dari sekadar hafalan teori menuju edukasi berbasis perilaku praktis (behavioral-based education). Langkah ini diperkuat melalui ekspansi peran Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD) di seluruh pelosok tanah air.
  • Akselerasi Edukasi Digital dan Benteng Pelindungan Konsumen:
    Memperkuat infrastruktur edukasi digital seperti platform LMS Edukasi Keuangan dan kanal SikapiUangmu. Bersamaan dengan itu, OJK memperketat pengawasan dan penindakan hukum melalui penyiapan ekosistem pelindungan konsumen terpadu yang melibatkan Satgas PASTI (Pemberantasan Aktivitas Keuangan Ilegal), Indonesia Anti-Scam Center (IASC), serta Aplikasi Portal Perlindungan Konsumen (APPK).

Akselerasi angka finansial 2026 ini memberikan fondasi yang kuat bagi perekonomian nasional. Namun, efektivitas pilar pelindungan konsumen dan integrasi literasi praktis akan menjadi tolok ukur utama apakah lompatan inklusi ini benar-benar mampu melindungi masyarakat dari risiko keuangan ilegal sekaligus meningkatkan taraf hidup mereka secara berkelanjutan. ***

Tags: Friderica Widyasari DewiGap Literasi dan InklusiIndonesia Anti-Scam CenterInklusi Keuangan OJKLiterasi Keuangan IndonesiaRPJMN 2029Satgas PASTISNLIK 2026Target Indonesia Emas 2045TPAKD
 
 
 
 
 
Sebelumnya

Indeks Literasi dan Inklusi 2026 Naik, Ada Lompatan Pesat di Perdesaan dan Kalangan Perempuan

Selanjutnya

AUM BNI Private Tumbuh 21%, Wealth Management Makin Solid

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BACA JUGA

Related Posts

Lompatan Kemerdekaan dari Genggaman Digital

Lompatan Kemerdekaan dari Genggaman Digital

oleh Stella Gracia
19 Agustus 2026 - 22:57

Sambut HUT Ke-81 RI, Bank Indonesia menghadirkan Kartu Kredit Indonesia dan perluasan MDR QRIS 0% guna mendorong kemandirian serta efisiensi...

Jalankan Mandat UU P2SK, OJK Tunjuk Henry Rialdi Pimpin Pengaturan dan Pengawasan BMKS

Permodalan Negatif dan Gagal Penyehatan, OJK Cabut Izin Usaha BPR Citra Bersada Abadi

oleh Stella Gracia
19 Agustus 2026 - 17:30

OJK resmi mencabut izin usaha PT BPR Citra Bersada Abadi di Bekasi. Akibat permodalan negatif dan gagal penyehatan, LPS eksekusi...

Jalankan Mandat UU P2SK, OJK Tunjuk Henry Rialdi Pimpin Pengaturan dan Pengawasan BMKS

Jalankan Mandat UU P2SK, OJK Tunjuk Henry Rialdi Pimpin Pengaturan dan Pengawasan BMKS

oleh Stella Gracia
19 Agustus 2026 - 17:06

OJK lantik Henry Rialdi sebagai Deputi Komisioner Pengawasan BMKS. Langkah strategis cegah transfer pricing dan bentuk harga acuan komoditas dalam...

Jaga Stabilitas Rupiah dari Gejolak Global, Bank Indonesia Tahan BI-Rate di Level 5,75%

Jaga Stabilitas Rupiah dari Gejolak Global, Bank Indonesia Tahan BI-Rate di Level 5,75%

oleh Stella Gracia
19 Agustus 2026 - 16:58

RDG Bank Indonesia tahan BI-Rate di level 5,75% per Agustus 2026. Suku bunga acuan dijaga guna perkuat stabilitas rupiah dan...

Perkuat Inklusi dan Integritas Pasar, OJK Pacu Pembentukan Bursa Komoditas Strategis dan Pasar Karbon

Cetak Duta Literasi Keuangan, OJK Integrasikan Kecakapan Finansial ke Dasa Dharma Pramuka

oleh Stella Gracia
18 Agustus 2026 - 15:57

OJK gelar LIKE IT 2026 di Jamnas XII Cibubur. Gandeng Kemendikdasmen & Pramuka, OJK dorong 7.500 anggota Pramuka makin cerdas...

Perkuat Inklusi dan Integritas Pasar, OJK Pacu Pembentukan Bursa Komoditas Strategis dan Pasar Karbon

Perkuat Inklusi dan Integritas Pasar, OJK Pacu Pembentukan Bursa Komoditas Strategis dan Pasar Karbon

oleh Stella Gracia
18 Agustus 2026 - 08:57

OJK perkuat sektor jasa keuangan di HUT ke-81 RI. Ketua DK OJK Friderica Widyasari Dewi paparkan 3 amanah Presiden Prabowo:...

E-MAGAZINE

TERPOPULER

  • Potret Bankir Millenial dan Gen Z

    Menyiapkan Talenta Hijau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Keras Dan Menghantam

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tekanan Geopolitik Membayangi, Sinergi Fiskal-Moneter Jadi Kunci Stabilitas Sektor Keuangan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bidik US$ 1 Miliar, Pemerintah Terbitkan Panda Bonds Berperingkat AAA di Pasar China Hari Ini

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Transaksi Repo Tembus Rp17,5 Triliun per Hari, BI Luncurkan Tri-Party Agent Repo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • OJK dan Bappebti Perkuat Sinergi dalam Pengawasan Derivatif Keuangan Berbasis Efek

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • LinkUMKM Tembus 14 Juta User, BRI Dorong Kerajinan Ramah Lingkungan Go International

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
 

Terbaru

Fantastis! Kado Milad Ke-1 Laba BSN Meroket 40%, Aset Tembus Rp 81,1 Triliun

BNI Hadirkan Layanan Kesehatan dan Trauma Healing bagi Masyarakat Terdampak Bencana NTT

Gandeng Dompet Dhuafa dan Pemdes, Manulife Indonesia Perkuat Kemandirian Komunitas Perdesaan

Kantongi Green Label dan Sertifikat SNI, Semen Gresik Kian Kokoh di Pasar Semen

Lompatan Kemerdekaan dari Genggaman Digital

Gelar Pameran Serentak di 131 Lokasi, BRI KKB National Expo 2026 Sabet Rekor MURI

Permodalan Negatif dan Gagal Penyehatan, OJK Cabut Izin Usaha BPR Citra Bersada Abadi

Jalankan Mandat UU P2SK, OJK Tunjuk Henry Rialdi Pimpin Pengaturan dan Pengawasan BMKS

Jaga Stabilitas Rupiah dari Gejolak Global, Bank Indonesia Tahan BI-Rate di Level 5,75%

STABILITAS CHANNEL

 
 
Selanjutnya
AUM BNI Private Tumbuh 21%, Wealth Management Makin Solid

AUM BNI Private Tumbuh 21%, Wealth Management Makin Solid

  • Advertorial
  • Berita Foto
  • BUMN
  • Bursa
  • Ekonomi
  • Eksmud
  • Figur
  • Info Otoritas
  • Internasional
  • Interview
  • Keuangan
  • Kolom
  • Laporan Utama
  • Liputan Khusus
  • Manajemen Resiko
  • Perbankan
  • Portofolio
  • Resensi Buku
  • Riset
  • Sektor Riil
  • Seremonial
  • Syariah
  • Teknologi
  • Travel & Resto
  • UKM
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pesan Majalah
  • Kontak Kami
logo-footer

Copyright © 2021 – Stabilitas

Find and Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata

Copyright © 2021 Stabilitas - Governance, Risk Management & Compliance