• Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
Selasa, Oktober 20, 2026
  • Login
Stabilitas
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
Stabilitas
No Result
View All Result
 
Home Asuransi

Inovasi, Lokalisasi, dan Transformasi Digital Dorong Pertumbuhan Struktural Asia di Semester II-2025

by Stella Gracia
11 Juli 2025 - 19:01
21
VIEWS
Inovasi, Lokalisasi, dan Transformasi Digital Dorong Pertumbuhan Struktural Asia di Semester II-2025
0
SHARES
21
VIEWS

JAKARTA, Stabilitas.id – Manulife Investment Management hari ini merilis market outlook untuk paruh kedua 2025, menyediakan perspektif mendalam terkait kondisi makroekonomi dan investasi di Asia maupun global.

Di tengah ketidakpastian kebijakan, pertumbuhan yang tidak merata, dan pola perdagangan yang masih terus berubah, peluang struktural Asia dalam hal inovasi, lokalisasi, dan transformasi digital masih tetap memberikan peluang jangka panjang yang menarik bagi para investor.

  • Baca juga: Banjir Modal Asing dan Benteng Fiskal di Tengah Gejolak Global

Seiring meredanya tekanan inflasi global, kondisi makroekonomi masih dibayangi oleh peningkatan ketidakpastian kebijakan dan arah pertumbuhan yang tidak merata. Di AS, meningkatnya perselisihan perdagangan dan pergeseran prioritas fiskal telah membebani sektor industri, pasar tenaga kerja, dan konsumsi, sehingga mendorong bank sentral AS untuk mempertahankan bias dovish dan pasar memperkirakan suku bunga dapat turun ke level 3,5% pada pertengahan tahun 2026.

BERITA TERKAIT

Banjir Modal Asing dan Benteng Fiskal di Tengah Gejolak Global

Satu Tahun Kemudi Fiskal Purbaya: Taruhan Ratusan Triliun Mendobrak Stagnasi

Perkuat Resiliensi Makro, Kemenkeu Dorong Sinergi Kebijakan KSSK dan Konsolidasi BUMN Danantara

S&P Afirmasi Rating Indonesia BBB, Menkeu Purbaya: Arah Kebijakan Kita Kredibel

Luke Browne, Global Head of Multi-Asset Solutions, Senior Portfolio Manager, Head of Multi-Asset Solutions, Asia, mengatakan: “Kondisi makro di tahun 2025 telah berkembang secara dramatis hanya dalam tempo enam bulan. Apa yang dimulai sebagai langkah pelonggaran yang tersinkronisasi kini terfragmentasi karena keputusan pemerintah, terutama di AS, memicu efek berantai di perdagangan global dan pasar modal. Dalam pandangan kami, pembelokan arah kebijakan The Fed masih tetap utuh, namun kecepatan dan skala penurunan suku bunga akan bergantung pada daya tahan pertumbuhan AS, tren pertumbuhan lapangan kerja, dan perkembangan kondisi perdagangan.”

Browne menambahkan: “Di belahan dunia lain, pelemahan sektor manufaktur Eropa terlihat sudah mencapai level terendahnya, namun pertumbuhannya masih tersendat, dan Bank Sentral Eropa sudah menuju fase akhir siklus pelonggaran. Sebaliknya, Jepang memasuki siklus investasi baru didorong oleh inflasi upah dan reformasi struktural, meskipun memasuki paruh kedua siklus tersebut terlihat mulai melambat. Pasar negara/kawasan berkembang mengalami divergensi – perekonomian yang fundamental domestiknya kuat dan eksposur perdagangan AS terbatas tetap tangguh, sementara perekonomian yang memiliki ketergantungan ekspor tinggi tetap rentan terhadap siklus tarif dan volatilitas arus dana. Selain itu, perdebatan seputar plafon utang AS, dampaknya terhadap imbal hasil obligasi pemerintah AS serta pergeseran yang berkembang ke hard assets menambah peluang lebih lanjut.”

Pendapatan tetap Asia: Investor global dan Asia menunjukkan minat yang meningkat terhadap pasar pendapatan tetap Asia

Murray Collis, Head of Asia ex-Japan Fixed Income, mengungkapkan bahwa momentum positif pendapatan tetap Asia terus berlanjut sepanjang tahun ini, dengan obligasi lokal Asia yang berkinerja lebih baik karena pelemahan dolar AS, sementara instrumen utang Asia lainnya juga tetap menunjukkan ketahanan.

  • Baca juga: Satu Tahun Kemudi Fiskal Purbaya: Taruhan Ratusan Triliun Mendobrak Stagnasi

Collis mengatakan: “Bank sentral AS memutuskan untuk mempertahankan suku bunga Fed Funds Rate di 4,5% pada paruh pertama tahun 2025. The Fed akan terus bersandar pada data dalam mengambil keputusan di masa depan dan tidak bereaksi secara impulsif terhadap kebijakan perdagangan yang masih dalam tahap negosiasi, dan cenderung mengamati dampaknya terhadap pertumbuhan dan inflasi saat kebijakan tersebut mulai berlaku. Pasar memperkirakan The Fed akan melanjutkan pemotongan suku bunga di semester kedua dan hal ini akan menopang pasar pendapatan tetap secara keseluruhan. Di pasar domestik Asia, secara selektif kami melihat adanya ruang penurunan suku bunga untuk memberikan dorongan pertumbuhan ekonomi akibat dampak tarif, seperti Malaysia, Thailand, Indonesia, dan Filipina, dan penurunan ini akan mendorong kinerja obligasi domestik di negara-negara tersebut. Sementara itu, instrumen utang Asia dalam mata uang USD akan terus menarik bagi investor karena imbal hasil yang atraktif dan durasi yang lebih rendah dibandingkan dengan negara-negara lain.”

Collis melanjutkan: “Pendapatan tetap Asia siap meraih momentum positif di paruh pertama 2025 untuk membukukan kinerja tahunan yang menarik bagi para investor. Dengan ketidakpastian seputar posisi fiskal AS dan dolar AS yang kalah unggul sepanjang tahun ini, kami melihat minat yang lebih besar dari investor global dan investor Asia untuk kembali ke kawasan ini demi peluang investasi dan diversifikasi.”

Saham Asia: Kekuatan Struktural di Tengah Gejolak Kebijakan

Terlepas dari volatilitas global saat ini, Charlie Dutton, Head of Emerging Market Equities, Co-Head, Senior Portfolio Manager, Emerging Markets Equity, tetap optimis terhadap prospek jangka panjang Asia, seraya menyebutkan adanya pendorong struktural yang kuat dan juga peluang-peluang dengan tingkat keyakinan tinggi di seluruh kawasan. Ia melihat adanya dorongan kuat tematik terkait AI, konsumsi, dan layanan kesehatan, di samping tren makro seperti disinflasi kawasan, sikap dovish bank sentral, dan mesin pertumbuhan yang terdiversifikasi di China, India, dan ASEAN.

Dutton mengatakan: “Di daratan utama China, fokus telah bergeser ke arah transformasi struktural. Ini mencakup percepatan AI lokal, peningkatan belanja fiskal hingga 4% dari PDB, dan perluasan hubungan perdagangan dengan ASEAN. Meskipun fokus judul berita lebih sering menyoroti ketegangan perdagangan, cerita sebenarnya terletak pada upaya China untuk mencapai swasembada teknologi, inovasi layanan kesehatan, dan konsumsi domestik. Sedangkan untuk wilayah Taiwan, peluangnya berkisar dari rantai pasokan server AI, peningkatan lanjutan telepon pintar generasi baru, hingga infrastruktur jaringan 800G. Meskipun risiko ekspor tetap menjadi perhatian, pasar ini terus menarik dana global, terutama dalam desain chip dan co-packaged optics (integrasi komponen optik dan elektronik).”

  • Baca juga: Perkuat Resiliensi Makro, Kemenkeu Dorong Sinergi Kebijakan KSSK dan Konsolidasi BUMN Danantara

India terlihat menonjol karena demografinya yang mendukung dan eksekusi kebijakan yang efektif. “Pemotongan pajak individu meningkatkan konsumsi, dan dengan eksposur perdagangan yang terbatas – di mana ekspor ke AS hanya berkontribusi terhadap 2% PDB – India relatif terisolasi dari guncangan tarif,” jelas Dutton.

Dirinya juga menyoroti daya tarik ASEAN yang terus meningkat: “Negara-negara seperti Indonesia, Thailand, dan Malaysia diuntungkan oleh inflasi yang lebih rendah, penurunan suku bunga, dan penataan ulang rantai pasokan. Dengan populasi yang muda, infrastruktur yang membaik, dan momentum reformasi, ASEAN menarik investasi asing dan mendorong permintaan domestik. Kami melihat potensi yang kuat pada perusahaan-perusahaan yang sejalan dengan peningkatan konsumsi, inklusi digital, dan integrasi regional.”***

Tags: #Pertumbuhan EkonomiinovasiInvestasManulife Management
 
 
 
 
 
Previous Post

Perkuat Struktur Pendanaan Jangka Panjang, BRI Fokus Himpun Dana Murah

Next Post

Jadi Mata Pencaharian Warga Sekitar, Ini Kisah Klaster Usaha Tanaman Hias Binaan BRI

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BACA JUGA

Related Posts

Bantu Pemulihan Gempa NTT, AAJI Kucurkan Donasi Rp315 Juta dan 60 Polis Asuransi Mikro

Bantu Pemulihan Gempa NTT, AAJI Kucurkan Donasi Rp315 Juta dan 60 Polis Asuransi Mikro

by Sandy Romualdus
19 Oktober 2026 - 21:55

AAJI bersama 19 perusahaan anggota dan Yayasan Benih Baik menyalurkan donasi Rp315 juta serta 60 polis asuransi mikro bagi warga...

Tak Serta-merta Otomatis, LPS Siapkan Syarat Kesehatan bagi Peserta Penjaminan Polis

Tak Serta-merta Otomatis, LPS Siapkan Syarat Kesehatan bagi Peserta Penjaminan Polis

by Sandy Romualdus
17 Oktober 2026 - 00:22

LPS menargetkan aktivasi Program Penjaminan Polis asuransi berlaku mulai Juli 2027 dengan menerapkan skema pendaftaran bertahap dan seleksi kesehatan modal....

Pilar Inklusi dari Binjai Utara: Kisah Shifa Celluler Perluas Akses dan Literasi Keuangan Lansia

Indonesia Peringkat Pertama Modest Fashion Dunia, BI dan Kemendag Pacu Ekspor Wastra Nusantara

by Stella Gracia
15 Oktober 2026 - 12:00

Indonesia peringkat 1 dunia sektor modest fashion SGIE 2025/2026. Deputi Gubernur Senior BI Aida S. Budiman buka IN2MOTIONFEST x JMFW...

Perkuat Lini Bancassurance, IFG Life Bidik Basis Nasabah Bank Sulselbar

Perkuat Lini Bancassurance, IFG Life Bidik Basis Nasabah Bank Sulselbar

by Stella Gracia
8 Oktober 2026 - 11:50

IFG Life gandeng Bank Sulselbar perkuat bisnis bancassurance. Sinergi hadirkan proteksi asuransi jiwa terpadu bagi debitur di Sulsel dan Sulbar....

Apresiasi Inovasi Digital dan Kepatuhan PSAK 117: Media Asuransi Ganjar 82 Korporasi dan 31 CFO Terbaik

Apresiasi Inovasi Digital dan Kepatuhan PSAK 117: Media Asuransi Ganjar 82 Korporasi dan 31 CFO Terbaik

by Sandy Romualdus
6 Oktober 2026 - 23:47

Media Asuransi menggelar Top Digital Financial Award dan CFO Award 2026 bagi 82 perusahaan keuangan dan 31 direktur keuangan berprestasi....

Kawal Disrupsi AI di Asuransi Jiwa: AAJI Gelar Program Eksekutif ‘Future by Design’ bagi Para CEO

Kawal Disrupsi AI di Asuransi Jiwa: AAJI Gelar Program Eksekutif ‘Future by Design’ bagi Para CEO

by Stella Gracia
6 Oktober 2026 - 13:10

AAJI menyelenggarakan program eksekutif Future by Design bagi CEO asuransi jiwa guna mematangkan adopsi AI berprinsip human-in-the-loop. Stabilitas.id - Asosiasi Asuransi...

E-MAGAZINE

TERPOPULER

  • Transaksi Repo Tembus Rp17,5 Triliun per Hari, BI Luncurkan Tri-Party Agent Repo

    Transaksi Repo Tembus Rp17,5 Triliun per Hari, BI Luncurkan Tri-Party Agent Repo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • OJK dan Bappebti Perkuat Sinergi dalam Pengawasan Derivatif Keuangan Berbasis Efek

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • LinkUMKM Tembus 14 Juta User, BRI Dorong Kerajinan Ramah Lingkungan Go International

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menyiapkan Talenta Hijau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Keras Dan Menghantam

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Nakhoda Baru Askrindo: Mahelan Prabantarikso Gantikan M. Fankar Umran

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pacu Belanja Turis Asing ke Daerah, Garuda Indonesia Luncurkan Skema Multi-Destinasi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
 

Terbaru

Suku Bunga Bertahan Tinggi, Citi Soroti Ketatnya Perebutan Modal Pemerintah dan Swasta

Pengguna Aktif Tumbuh 75 Persen, Tokocrypto Perkuat Kepatuhan dan Perlindungan Konsumen

Dorong Ekonomi Komunitas Lewat Strategi 3S, Kopdit Pintu Air Perkuat Jaringan di Jawa Barat

Dukung Transformasi Kota Global, Bank Jakarta Biayai Elektrifikasi Transjakarta dan Pedestrian Deck MRT Dukuh Atas

Dua Tahun Beruntun, BNI Pertahankan Predikat Tertinggi GCG di IICD Award 2026

Bantu Pemulihan Gempa NTT, AAJI Kucurkan Donasi Rp315 Juta dan 60 Polis Asuransi Mikro

Danantara Inisiasi DTIIF 2026, Tarik Modal Global dan Pacu Transformasi 6 Sektor Industri

Sasar Pekerja Muda, Bank BSN Rilis KPR DP 1 Persen dengan Tenor 40 Tahun

Masuk 3 Besar BUMN Layanan Terbaik, BRI Pacu Transformasi BRIVolution Reignite

STABILITAS CHANNEL

 
 
Next Post
Jadi Mata Pencaharian Warga Sekitar, Ini Kisah Klaster Usaha Tanaman Hias Binaan BRI

Jadi Mata Pencaharian Warga Sekitar, Ini Kisah Klaster Usaha Tanaman Hias Binaan BRI

  • Advertorial
  • Berita Foto
  • BUMN
  • Bursa
  • Ekonomi
  • Eksmud
  • Figur
  • Info Otoritas
  • Internasional
  • Interview
  • Keuangan
  • Kolom
  • Laporan Utama
  • Liputan Khusus
  • Manajemen Resiko
  • Perbankan
  • Portofolio
  • Resensi Buku
  • Riset
  • Sektor Riil
  • Seremonial
  • Syariah
  • Teknologi
  • Travel & Resto
  • UKM
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pesan Majalah
  • Kontak Kami
logo-footer

Copyright © 2021 – Stabilitas

Find and Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata

Copyright © 2021 Stabilitas - Governance, Risk Management & Compliance