Stabilitas.id – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengklaim ketahanan ekonomi Indonesia dalam menghadapi potensi krisis global saat ini berada di jajaran teratas dunia. Merujuk pada hasil analisis JP Morgan, posisi Indonesia dinilai lebih tangguh dibandingkan sejumlah negara maju seperti Amerika Serikat (AS), China, hingga Australia.
“Walau krisis global, kita nomor dua paling kuat dibanding negara-negara lain. Bahkan di atas Amerika, China, Australia dan lain-lain. Ini dari JP Morgan,” ujar Purbaya dalam acara APBN KiTA di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, dikutip Senin (11/5/2026).
Purbaya menjelaskan bahwa indikator ekonomi saat ini menunjukkan Indonesia masih berada dalam fase ekspansi dan akselerasi, sehingga sangat jauh dari kondisi menjelang krisis hebat 1998 sebagaimana dikhawatirkan beberapa pihak.
BERITA TERKAIT
Penilaian Senada dari ADB
Selain JP Morgan, Asian Development Bank (ADB) disebut memiliki penilaian serupa terkait resiliensi ekonomi domestik. Purbaya mengaku telah menerima informasi langsung dari pejabat ADB yang menempatkan Indonesia di jajaran top two dalam hal ketahanan ekonomi.
Namun, menurut Menkeu, ADB memilih untuk tidak memublikasikan data tersebut secara resmi guna menjaga stabilitas di negara-negara lain yang memiliki posisi ketahanan lebih rendah.
“Cuma mereka nggak bisa publish, karena kalau mereka publish nanti negara-negara yang di bawah goncang. Tapi official ADB bilang sama saya kita di atas,” imbuhnya.
Tumbuh 5,61%, Tertinggi dalam 13 Tahun
Optimisme pemerintah didukung oleh realisasi pertumbuhan ekonomi kuartal I/2026 yang mencapai 5,61% secara tahunan (yoy). Capaian ini tercatat sebagai pertumbuhan kuartal pertama tertinggi dalam 13 tahun terakhir, melampaui pertumbuhan kuartal IV/2025 (5,39%) dan kuartal I/2025 (4,87%).
Nilai Produk Domestik Bruto (PDB) atas dasar harga berlaku pada periode Januari-Maret 2026 pun telah menyentuh angka Rp6.187,2 triliun. Purbaya menegaskan bahwa akselerasi belanja negara sejak awal tahun menjadi motor utama penggerak pertumbuhan ini.
Purbaya membantah keras anggapan yang menyamakan situasi saat ini dengan tahun 1998. Ia menekankan bahwa pada tahun 1998, Indonesia mengalami resesi berkepanjangan selama setahun penuh sebelum terjadi krisis politik dan ekonomi.
“Anda perhatikan, ’98 jatuh pemerintahan setelah ekonomi resesi selama satu tahun penuh. Kita sekarang boro-boro resesi, masih ekspansi, masih akselerasi,” tegasnya. Dengan fundamental yang terjaga, pemerintah optimistis pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap bergerak menuju kisaran 6% di masa mendatang. ***
Perbandingan Pertumbuhan Ekonomi Kuartal I (yoy):
| Tahun | Pertumbuhan (%) | Status Ekonomi |
| 1Q 2026 | 5,61% | Ekspansi & Akselerasi |
| 4Q 2025 | 5,39% | Stabil |
| 1Q 2025 | 4,87% | Pemulihan |
| Analisis Global | JP Morgan & ADB | Top 2 Ketahanan Krisi |






.jpg)










