Stabilitas.id – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) membidik peluncuran produk Exchange Traded Fund (ETF) berbasis emas dapat terealisasi pada kuartal II/2026. Instrumen investasi anyar ini diharapkan menjadi terobosan dalam upaya pendalaman pasar modal domestik sekaligus mendukung ekosistem bullion bank (bank emas) di Indonesia.
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi, mengungkapkan bahwa saat ini terdapat tiga calon penerbit yang telah menyatakan ketertarikan dan tengah melakukan persiapan intensif.
“Dengan mempertimbangkan progress yang ada, target kami peluncuran dapat dilakukan di semester I/2026 atau kuartal II ini,” ujar Hasan dalam konferensi pers daring, Senin (6/4/2026).
BERITA TERKAIT
Payung Hukum dan Akselerasi Pasar
Langkah strategis ini diperkuat dengan penerbitan Peraturan OJK (POJK) Nomor 2 Tahun 2026 tentang Reksa Dana Berbentuk Kontrak Investasi Kolektif yang Unit Penyertaannya Diperdagangkan di Bursa Efek dengan Aset yang Mendasari Berupa Emas.
Regulasi ini dirancang untuk memberikan kepastian hukum bagi manajer investasi dalam mengelola aset emas sebagai underlying produk yang dapat ditransaksikan secara real-time di bursa, layaknya saham.
Hasan menekankan bahwa regulator dan para pemangku kepentingan sedang memfinalisasi tiga aspek krusial sebelum peluncuran resmi:
- Sistem Perdagangan: Mekanisme pencatatan dan likuiditas di bursa.
- Penyimpanan & Kustodian: Memastikan keamanan fisik emas sesuai standar global.
- Perlakuan Perpajakan: Sinkronisasi aturan pajak atas underlying emas agar produk tetap kompetitif secara struktural.
“Kesiapan ini penting untuk memastikan ETF emas memiliki standar operasional yang setara dengan praktik terbaik global, terutama dari aspek transparansi harga dan perlindungan investor,” tambah Hasan.
Daya Tarik bagi Investor
Kehadiran ETF emas diprediksi akan menarik minat investor ritel maupun institusi yang mencari aset aman (safe haven) dengan fleksibilitas tinggi. Berbeda dengan investasi emas fisik konvensional, ETF emas menawarkan efisiensi dalam hal penyimpanan dan biaya transaksi, serta kemudahan likuidasi melalui lantai bursa.
Masuknya instrumen ini di tengah fluktuasi geopolitik global kuartal II/2026 dipandang sebagai momentum tepat, mengingat harga emas cenderung menguat saat ketidakpastian pasar meningkat. ***
















