Stabilitas.id – Eskalasi ketegangan di Timur Tengah semakin menyudutkan stabilitas energi global setelah Rusia dan China menggunakan hak veto mereka untuk menggagalkan resolusi Dewan Keamanan PBB (DK PBB) pada Selasa (7/4/2026).
Resolusi yang diajukan oleh Bahrain tersebut bertujuan untuk melindungi pelayaran komersial di Selat Hormuz, jalur air strategis yang menjadi urat nadi pengiriman seperlima minyak dan gas dunia. Meskipun didukung oleh 11 dari 15 anggota DK PBB, langkah ini kandas karena Moskow dan Beijing menilai rancangan teks tersebut terlalu memojokkan Iran.
Navigasi di Selat Hormuz praktis terhenti sejak Teheran mengancam akan menyerang kapal-kapal komersial sebagai respons atas perang yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel sejak akhir Februari lalu.
BERITA TERKAIT
Dampak dari blokade ini telah dirasakan secara instan oleh ekonomi global:
- Lonjakan Harga BBM: Harga bahan bakar melonjak tajam di pasar internasional.
- Pembatasan Konsumsi: Sejumlah negara, terutama di kawasan Asia, mulai memberlakukan penjatahan pasokan energi.
- Risiko Logistik: Arus pengiriman komoditas energi dari Teluk Arab menuju pasar global mengalami stagnasi.
Dinamika Diplomasi: Tuduhan Legitimasi Agresi
Utusan China untuk PBB, Fu Cong, menegaskan bahwa mengadopsi resolusi tersebut di tengah ancaman militer AS terhadap Iran akan mengirimkan sinyal yang salah secara geopolitik. Senada, Duta Besar Rusia Vasily Nebenzya mengusulkan adanya resolusi alternatif yang lebih komprehensif mengenai keamanan maritim di Timur Tengah.
Di sisi lain, Duta Besar Iran untuk PBB, Amir Saeid Iravani, memuji langkah veto tersebut. Menurutnya, tindakan Rusia dan China telah mencegah penyalahgunaan Dewan Keamanan untuk melegitimasi agresi militer pihak luar.
Sebelum pemungutan suara, Bahrain dilaporkan telah melakukan negosiasi di balik layar untuk memperlunak draf tersebut guna menghindari veto. Versi final yang diajukan telah menghilangkan referensi pada Bab 7 Piagam PBB—yang mencakup otorisasi penggunaan kekuatan militer—dan menggantinya dengan koordinasi upaya bersifat defensif. Namun, revisi tersebut tetap tidak cukup bagi Rusia dan China.
Gagalnya resolusi ini diprediksi akan memperpanjang ketidakpastian di pasar komoditas. Investor kini menantikan langkah diplomasi berikutnya, mengingat Selat Hormuz merupakan titik krusial yang dapat memicu resesi ekonomi global jika blokade terus berlanjut hingga kuartal II/2026. ***















