BI resmi memperluas insentif instrumen PUVA, Swap Lindung Nilai, DNDF, serta LCT untuk menarik modal asing dan menjaga stabilitas rupiah.
Stabilitas.id – Bank Indonesia (BI) merilis perluasan kebijakan insentif guna menggenjot aliran masuk (inflow) investasi portofolio asing sekaligus menopang stabilitas nilai tukar rupiah. Langkah strategis ini juga ditujukan untuk mempercepat pendalaman pasar uang dan pasar valuta asing (PUVA) di dalam negeri.
- Baca juga: Lompatan Kemerdekaan dari Genggaman Digital
Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, mengungkapkan bahwa penyesuaian insentif ini mencakup peningkatan diskon premi instrumen lindung nilai (hedging) serta dukungan terhadap penggunaan mata uang lokal (Local Currency Transaction/LCT).
“Bank Indonesia memperluas kebijakan insentif untuk meningkatkan aliran masuk investasi portofolio asing dan memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah, sekaligus mempercepat pendalaman pasar uang dan pasar valas,” kata Perry dalam konferensi pers usai Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI, Rabu (22/7).
BERITA TERKAIT
Rincian Perluasan Skema Insentif Moneter BI
Perry membeberkan dua poin utama dalam paket perluasan insentif moneter ini:
-
Insentif Investasi Portofolio Asing:
-
Kenaikan Insentif Swap: BI menaikkan insentif pengurangan premi untuk Swap Jual Lindung Nilai (Swap Beli Lindung Nilai kepada BI) dari sebelumnya 10% menjadi 12,5%.
-
Perluasan Insentif DNDF: BI memperluas insentif untuk instrumen Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) Jual Lindung Nilai sebesar 15%.
-
-
Insentif Transaksi Mata Uang Lokal (LCT):
Guna mendorong diversifikasi transaksi valas dengan negara-negara mitra, BI memberikan pendorong berupa:
-
Penambahan premi Swap Beli Lindung Nilai (Swap Jual Lindung Nilai kepada BI) sebesar 10%.
-
Pengurangan premi DNDF Jual Lindung Nilai sebesar 10%.
-
Optimisme Stabilitas Nilai Tukar Rupiah
Ke depan, bank sentral menegaskan komitmennya untuk terus memantau dinamika pasar dan siap memperluas insentif tambahan jika diperlukan guna menjaga ketahanan eksternal ekonomi nasional.
Di tengah gejolak pasar keuangan global, Perry optimistis pergerakan nilai tukar rupiah akan tetap terjaga dengan baik.
“Bank Indonesia meyakini nilai tukar rupiah akan stabil dan cenderung menguat, didukung oleh komitmen Bank Indonesia melalui berbagai penguatan stabilisasi nilai tukar rupiah, imbal hasil yang menarik, serta prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tetap baik,” tegas Perry. ***

















