Stabilitas.id — PT Bank Maspion Indonesia Tbk. (IDX: BMAS) sukses menorehkan rapor hijau sepanjang tahun buku 2025 dengan mengantongi laba bersih setelah pajak sebesar Rp31,8 miliar. Lonjakan profitabilitas ini menjadi sinyal kuat kebangkitan emiten perbankan asal Surabaya tersebut pasca-melewati periode konsolidasi industri yang cukup menantang.
Direktur Utama Bank Maspion Kasemsri Charoensiddhi memaparkan bahwa pencapaian positif ini merupakan buah manis dari eksekusi strategi jangka panjang yang berfokus pada penyaringan kualitas nasabah inti serta penerapan disiplin bisnis yang ketat.
“Hasil ini berasal dari upaya menahun dalam membangun pertumbuhan nasabah yang tepat, menjaga disiplin selama tahun 2024 yang sulit, serta bangkit kembali menjadi lebih kuat,” ujar Kasemsri dalam keterangan resminya, Kamis (21/5/2026).
BERITA TERKAIT
Jika dibedah secara fundamental, fungsi intermediasi Bank Maspion mencatatkan akselerasi yang sangat agresif. Hanya dalam kurun waktu tiga tahun terakhir, volume penyaluran kredit perseroan melesat hampir dua kali lipat, yakni dari posisi Rp8,78 triliun pada 2022 menjadi Rp17,34 triliun per akhir 2025.
Sejalan dengan ekspansi kredit, struktur neraca (balance sheet) perusahaan ikut menebal:
-
Total Aset: Terkerek naik dari Rp14,96 triliun menjadi Rp22,40 triliun.
-
Rasio CAR (Kecukupan Modal): Menguat signifikan dari 31,55% menjadi 45,76%, mencerminkan tebalnya bantalan modal untuk menahan risiko pasar.
-
Rasio BOPO (Efisiensi): Berhasil ditekan masuk ke zona ideal menjadi 97,15% dari posisi sebelumnya yang sempat bengkak di level 120,13%.
-
Kualitas Aset (NPL Gross): Menyusut sehat ke angka 2,26% pada 2025, turun satu persen penuh dibandingkan posisi akhir 2024 yang sebesar 3,26%.
Dari sisi liabilitas, struktur pendanaan BMAS bergerak ke arah yang lebih efisien dan berkelanjutan. Hal ini teermin dari porsi dana murah (Current Account Saving Account/CASA) yang merangkak naik ke level 27,16% dari posisi tahun 2024 yang sebesar 22,58%.
Bidik Korporasi Kakap
Manajemen BMAS menegaskan, di balik kemudi ekspansi yang masif ini, terdapat peran besar dari Kasikornbank PCL (KBank). Raksasa finansial asal Thailand tersebut saat ini resmi menguasai 89,48% saham Bank Maspion.
Melalui integrasi dengan jaringan regional KBank di kawasan Asean+3, Bank Maspion tidak hanya mendapatkan suntikan likuiditas—termasuk pinjaman teranyar senilai Rp4,84 triliun—tetapi juga berhasil mengadopsi sistem manajemen risiko dan kerangka kredit berstandar internasional.
Menatap tahun tata kelola 2026, Bank Maspion telah menyiapkan cetak biru bisnis yang berorientasi pada segmen berskala besar. Perseroan akan fokus memperbesar alokasi kredit korporasi, dengan membidik perusahaan konglomerasi swasta nasional dan Badan Usaha Milik Negara (BUMN).
Guna mengimbangi margin bunga bersih, BMAS dibidik untuk menggenjot pendapatan berbasis komisi (fee-based income) melalui optimalisasi layanan trade finance, transaksi valuta asing (valas), penetrasi QRIS, serta transaction banking. Ekspansi tersebut akan dikawal oleh investasi berkelanjutan pada pembaruan infrastruktur digital internet banking dan mobile banking perseroan.
Kasemsri optimistis Indonesia tetap menjadi episentrum pasar perbankan paling potensial di regional Asia Tenggara yang belum sepenuhnya tergarap (untapped market). Sinergi antara basis pasar lokal Maspion Group dan ekosistem global KBank diyakini mampu melambungkan skala bisnis perseroan ke depan. ***
Rapor Kinerja Keuangan & Target Operasional Bank Maspion (BMAS)
| Parameter Finansial & Rasio | Posisi Tahun 2022 / 2024 | Capaian Aktual Target 2025 | Tren Perubahan Struktural | Fokus Rencana Aksi Bisnis 2026 |
| Laba Bersih Setelah Pajak | Sempat Tekanan Industri | Rp31,80 Miliar | Pembalikan Arah (Turnaround) | Genjot pendapatan fee-based income |
| Penyaluran Kredit | Rp8,78 Triliun (2022) | Rp17,34 Triliun | Melesat Hampir 2x Lipat (3 Tahun) | Ekspansi ke sektor Korporasi & BUMN |
| Total Aset Korporasi | Rp14,96 Triliun | Rp22,40 Triliun | Ekspansif & Kuat | Investasi infrastruktur mobile banking |
| Rasio BOPO (Efisiensi) | 120,13% (Bengkak) | 97,15% | Membaik ke Zona Profit | Menjaga disiplin biaya operasional |
| NPL Gross (Kredit Macet) | 3,26% (2024) | 2,26% | Turun Sehat -1,00% | Adopsi credit framework standar KBank |
| Porsi Dana Murah (CASA) | 22,58% (2024) | 27,16% | Lebih Efisien & Berkelanjutan | Perluas transaksi lewat QRIS & trade finance |

















