Di masa lalu, ketika saya menjadi fasilitator dan berbicara di depan peserta sebuah acara pelatihan SDM, salah satu modul favorit saya yaitu The 7 Habits of Highly Effective People. Ketika membawakan modul itu, saya seperti menemukan satu bagian yang sangat menggugah hati saya sehingga ketika membawakan bagian itu saya merasakan gairah yang luar biasa.
Dalam melaksanakan tugas itu, beberapa kali saya ditugaskan untuk tandem atau berduet dengan rekan fasilitator lain. Dan ketika itu pula saya selalu minta agar diizinkan untuk membawakan bagian Habit 2 : Begin with the End in Mind (Mulailah dengan Tujuan Akhir), khususnya di sesi membuat Misi Pribadi (Mission Statement). Perumusan Misi Pribadi, harus dipusatkan pada nilai-nilai benar dan penting dalam hidup Anda agar tercipta fondasi yang kokoh. Contohnya, kesehatan, kebahagiaan, kebenaran, keluarga, cinta, kasih, dan lain-lain.
Dalam bagian itu pula ada satu video clip, yang membuat saya sangat berkesan ketika membawakannya: yaitu 80th birthday. Ringkasannya begini. Dalam materi itu saya meminta para peserta untuk membayangkan apabila diberi karunia umur hingga 80 tahun dan akan mengadakan perayaan tersebut dengan penuh khidmat, siapakah yang akan hadir di pesta tersebut ?
Apakah teman-teman Anda? Kalaupun toh masih ada, mungkin hanya tinggal segelintir, itupun belum tentu masih cukup sehat untuk memenuhi undangan dari Anda. Mantan anak buah ? besar kemungkinan mereka sudah memiliki kehidupan sendiri yang merupakan prioritas utama mereka. Malahan apabila mereka memiliki pengalaman buruk selama menjadi anak buah Anda, jangan pernah berpikir mereka akan hadir memenuhi undangan Anda. Lalu bagaimana dengan mantan bos, mantan klien, mantan mitra kerja, mantan sejawat? Sangat mungkin mereka sudah lupa kepada Anda. Kemungkinan besar, satu-satunya
harapan yang bisa hadir akan Anda letakkan pada keluarga inti.
Lalu siapakah mereka? Anak-anak Anda? Besar kemungkinan mereka sedang sibuk mempersiapkan kehidupan setelah pensiun, mungkin mereka sendiri tengah berada dalam kebingungan dengan kecukupan modal (baca : tabungan) untuk melanjutkan hidup setelah tidak ada yang menggaji lagi. Sebagian dari mereka mungkin mengalami post power syndrome ditambah lagi kondisi financial disaster.
Cucu-cucu Anda? Mereka sedang berada di usia emas dalam karier dan pekerjaannya, lagi sibuk-sibuknya dengan pekerjaan. Masih bagus kalau mereka mau mengirim kue ulang tahun dan makanan lezat via transportasi online, atau via supir pribadi mereka. Di satu sisi, Anda memang patut bersyukur karena diberi bonus umur yang sangat panjang. Di sisi lain, Anda berpotensi mengalami kesepian di tengah keramaian. Anda punya banyak anak cucu, tapi mereka sulit sekali meluangkan waktu hanya sekadar menemani Anda di hari lahir Anda.
- Baca juga: Toxic Productivity
Ibu Saya
Saya kemudian teringat dengan pengalaman saya sendiri, ketika ibu tercinta saya, Indrawati Soedomo merayakan ulang tahunnya yang ke-85. Syukur Alhamdulillah, anak dan cucucucu ibu saya itu masih bisa menghadiri dan berada di sekitarnya. Dan ketika saatnya anak dan cucu diminta untuk memberikan sambutan tentang kesankesan tentang sosok wanita yang selalu ada untuk saya selama lebih dari 50 tahun, yang keluar adalah kesan serta pengalaman mendalam yang terlontar dalam sebuah kalimat panjang. Kebetulan ibu saya hanya punya anak tunggal, yaitu saya sendiri. Saya pun menyampaikan sambutan pertama karena saya yang memiliki pengalaman paling lama (56 tahun) bersamanya. Saya mengatakan pada acara itu, “Mama memperlihatkan 2 hal yang sangat konsisten dari dulu hingga hari ini dalam hal disiplin dan menghargai waktu. Ia selalu bangun dan tidur di jam yang sama dan sama sekali tidak pernah terlambat sedikitpun. Selalu on-time dalam segala hal : meeting, menyelesaikan setiap pekerjaan, ritual ibadah, dan lain-lain”.
Kemudian datang giliran sang cucu untuk menyampaikan testimoni dengan penuh rasa : “Walaupun disiplin keras, eyang sangat memperhatikan setiap anggota keluarga secara detil. Seringkali hari sudah larut malam, ia sudah sangat ngantuk hingga tertidur di kursi ruang tamu, tapi eyang tidak akan masuk ke kamar tidur sebelum memastikan semua anggota keluarganya sudah pulang dengan aman”.
Dari dua testimoni itu saya menggarisbawahi bahwa ibu saya ini memiliki misi pribadi yang kuat. Misi pribadi yang meski tidak pernah ia tulis tetapi tertancap di dalam sanubarinya itu, sangat mempengaruhi semua tindakannya selama mengisi hidup: saat membesarkan anak, mengasuh menantu dan cucu. Setiap tindakannya terfokus menyuburkan pertumbuhan kasih sayang di hati setiap anggota keluarga yang ia cintai. Sehingga tanpa diminta, di usianya yang ke-85, secara spontan satu per satu meluangkan waktu untuk membahagiakannya secara tulus.
Membuat misi pribadi untuk meraih kebahagiaan dunia hingga usia ke- 85 seperti yang dialami oleh ibu saya memang bagus untuk memotivasi diri. Ultimate question, apakah pencapaian misi pribadi ini cukup bisa menjamin kebahagiaan kelak di dunia lain yang abadi ? Jangan sampai di hari akhir kita baru tersadar bahwa misi pribadi yang kita buat ternyata bukan yang kita butuhkan dalam masa keabadian itu.
















