Data BPS terbaru dalam dokumen 2590.pdf menunjukkan inflasi Juni 2026 melesat ke 3,34% y-on-y. Kenaikan harga emas perhiasan dan tarif angkutan udara jadi pemicu utama melonjaknya Indeks Harga Konsumen (IHK).
Stabilitas.id – Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan adanya kenaikan tekanan pada Indeks Harga Konsumen nasional. Berdasarkan data BPS terbaru yang dirilis dalam berkas resmi 2590.pdf, terjadi inflasi Juni 2026 sebesar 3,34% secara tahunan (year-on-year/y-on-y), naik signifikan dibanding realisasi inflasi Juni 2025 yang sebesar 1,87%.
Kenaikan ini mengerek angka IHK nasional ke level 111,89 dari sebelumnya sebesar 108,27 pada Juni tahun lalu. Sementara itu, laju inflasi secara bulanan (month-to-month/m-to-m) pada Juni 2026 tercatat sebesar 0,44% dan inflasi tahun kalender (year-to-date/y-to-d) telah menyentuh angka 1,79%.
Merujuk dokumen 2590.pdf, inflasi tahunan ini didorong oleh kenaikan harga yang terjadi di seluruh kelompok pengeluaran konsumen. “Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mencatatkan inflasi tertinggi hingga mencapai 10,10% y-on-y,” tulis BPS dalam Berita Resmi Statistik, dikutip Kamis (3/7/2026).
Jika dibedah, kelompok perawatan pribadi tersebut memberikan andil inflasi tahunan sebesar 0,69%. Faktor utamanya adalah lonjakan harga emas perhiasan yang memberikan andil inflasi y-on-y nasional paling dominan, yakni mencapai 0,61%.
Selain emas, kelompok pengeluaran yang menyumbang andil inflasi terbesar berikutnya adalah komoditas pangan (makanan, minuman, dan tembakau). Kelompok ini mengalami inflasi y-on-y sebesar 4,67% dengan andil mencapai 1,36% terhadap inflasi nasional. Sejumlah harga bahan pangan utama yang menjadi motor penggerak inflasi di antaranya ikan segar (andil 0,23%), beras (andil 0,16%), minyak goreng (andil 0,14%), serta cabai merah (andil 0,11%).
Di sisi lain, sektor transportasi ikut memanaskan IHK dengan mencetak inflasi y-on-y sebesar 4,57% dan memberikan andil 0,55%. Kenaikan harga bensin (andil 0,25%) serta lonjakan tarif angkutan udara (andil 0,15%) menjadi pemicu utama di kelompok ini.
Adapun untuk inflasi komponen inti pada Juni 2026 tercatat melaju sebesar 2,76% secara tahunan (y-on-y).
Inflasi Papua Pegunungan Tertinggi
Berdasarkan laporan pantauan BPS di 150 kabupaten/kota, seluruh wilayah di Indonesia terpantau mengalami inflasi secara tahunan. Namun, terjadi disparitas atau kesenjangan yang cukup lebar antar wilayah geografis.
Secara spasial, Provinsi Papua Pegunungan menempati urutan teratas dengan laju inflasi tahunan tertinggi mencapai 7,84% dengan IHK 122,43. Catatan ini sejalan dengan inflasi di level kabupaten/kota, di mana Kabupaten Jayawijaya mencatatkan inflasi tertinggi nasional sebesar 7,84%.
Sebaliknya, inflasi terendah di tingkat provinsi dipegang oleh Sulawesi Barat sebesar 2,29%. Sementara untuk tingkat kabupaten/kota, Kabupaten Majene mengantongi predikat wilayah dengan inflasi paling jinak, yakni hanya sebesar 1,70%.
Untuk wilayah motor ekonomi nasional seperti Pulau Jawa, seluruh enam provinsi juga mengalami inflasi. Provinsi Jawa Timur memimpin lonjakan IHK sebesar 3,36%, diikuti oleh Jawa Barat (3,08%), Banten (2,93%), Jawa Tengah (2,92%), dan DI Yogyakarta (2,91%). Provinsi DKI Jakarta menjadi wilayah dengan inflasi terendah di Pulau Jawa dengan realisasi sebesar 2,78%.***

















