Klik tombol berikut ini untuk memesan edisi digital Majalah Stabilitas

Edisi 164 Februari 2020

12
VIEWS
0
SHARES
12
VIEWS

Pembaca yang budiman.

Sejak lebih dari lima tahun belakangan, harus diakui, ekonomi kita memang tengah jalan di tempat. Pertumbuhan ekonomi di bawah Presiden Joko Widodo tidak pernah beranjak dari level 5 persen, jauh dari yang dijanjikannya sebelumnya, 7 persen.

Tahun ini, kondisi perekonomian dipastikan bakal tambah berat dan hampir dipastikan level pertumbuhan 5,3 persen seperti yang ditargetkan pemerintah, akan sulit didapat. Tahun ini sesuatu yang tidak disangka-sangka muncul, dan membuat ekonomi hampir seluruh dunia terhuyung-huyung.

BERITA TERKAIT

Virus corona yang muncul pertama kali di kota Wuhan, Cina telah merebak ke Asia, Eropa, Amerika, Afrika bahkan Australia, dan menjadi pandemi global telah meluluhlantakan prakiraan ekonomi. Cina yang saat ini mempengaruhi lebih dari 20 persen perekonomian global, akan mengalami kemerosotan ekonomi. Hal itu tentu akan menggoyahkan ekonomi global.

Indonesia yang dalam satu dekade terakhir makin menunjukkan kebergantungannya kepada Cina, tak bebas dari situasi ini. Malahan dengan penanganan yang dinilai di bawah standar internasional, ekonomi Indonesia di bawah ancaman besar. Pasalnya menurut penelitian dari lembaga-lembaga riset, setiap penurunan 1 persen pada ekonomi Cina, akan membuat penurunan setidaknya 0,3 persen pada pertumbuhan ekonomi RI.

Pemerintah dan otoritas ekonomi maupun keuangan tentu tidak mau prediksi itu menjadi kenyataan dan bertindak mengeluarkan beberapa kebijakan untuk mengurangi dampak buruknya. Apa saja langkah nyata pemerintah dan bagaimana pula pelaku sektor jasa keuangan merespons hal itu?

Nah, Majalah Stabilitas, kali ini akan mengangkat tema tersebut dalam laporan utamanya.

Pada tulisan awal akan diulas beberapa tantangan eksternal atau global yang bisa mengganggu perekonomian Indonesia dalam beberapa tahun lalu dan seberapa besar faktor eksternal berpengaruh pada pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Tulisan berikut akan membahas mengenai wabah virus Corona yang menghantam ekonomi Cina dan dampaknya ke Indonesia. Juga akan dibahas dalam tulisan ini mengenai seberapa besar kebergantungan ekonomi Indonesia kepada Cina dan apa imbasnya wabah itu kepada barang-barang ekspor dan lalu kepada pertumbuhan ekonomi di tahun 2020 ini

Kami juga akan membahas bagaimana pelaku industry keuangan syariah merespons kondisi ini. Selanjutnya juga akan dibahas respons pemerintah terhadap dua tantangan eksternal itu. Lalu apa saja kebijakan yang akan dikeluarkan untuk menangkal dampak buruk dari dua tantangan. Lalu pada tulisan itu juga aka nada pendapat dari pengamat atau ekonom untuk menilai efektifitas dari respons kebijakan itu.

Berikutnya akan kami tampilan tulisan mengenai respons dari pelaku industri keuangan terhadap wabah corona dan juga kebijakan pemerintah serta apa saja strategi pelaku industi untuk menangkal dampak buruknya. Dan bagaimana juga hal itu akan berdampak pada kinerja keuangan industri keuangan pada tahun ini?

Last but least juga akan kami tampilkan tulisan yang membahas kemungkinan Cina akan melakukan turn around lebih cepat dan kembali akan memanfaatkan kondisi ekonomi pasca wabah ini berakhir.

Pembaca yang budiman, bagi Anda yang tetap menantikan tulisan-tulisan regular kami di rubrik-rubrik tetap lainnya, jangan khawatir karena kami tetap menampilkannya. Tentunya dengan selalu membahasnya dari sisi tata kelola, manajemen risiko, dan kepatuhan.

Selamat membaca.

Klik tombol berikut ini untuk memesan edisi digital Majalah Stabilitas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BACA JUGA

Related Posts

TERPOPULER

Terbaru

STABILITAS CHANNEL

TWITTER STABILITAS

Welcome Back!

Login to your account below

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.