• Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
Kamis, Oktober 22, 2026
  • Login
Stabilitas
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
Stabilitas
No Result
View All Result
 
Home Laporan Utama

Srikandi Manajemen Risiko

by Sandy Romualdus
25 Februari 2015 - 00:00
45
VIEWS
Srikandi Manajemen Risiko
0
SHARES
45
VIEWS

Oleh Romualdus San Udika

Perempuan cenderung diidentikan dengan kelembutan dan ketelatenan. Selain itu, sifat-sifat lain seperti lebih hati-hati dan waspada, juga membuat peran perempuan menjadi semakin penting tidak hanya dalam kehidupan sosial namun juga bagi bisnis. Umumnya, sifat-sifat itu membuat perempuan lebih sadar akan risiko dari perkembangan suatu usaha.

  • Baca juga: Daya Beli Tertekan Inflasi Pangan, Saldo Rekening di Bawah Rp100 Juta Turun ke Rp1,66 Juta

Kecenderungan ini dinilai para peneliti manajemen sumber daya manusia seperti Cliff, (1998) dan Watson and Robinson, (2002) membuat perempuan melihat pertumbuhan usaha sebagai pandangan yang lebih luas daripada hanya melihat pada masalah pembiayaan, ekonomi atau pertumbuhan semata.

BERITA TERKAIT

No Content Available

Sementara itu, Asia Development Bank (ADB) dalam sebuah penelitian di dua kota besar di Indonesia (2001) menyimpulkan bahwa perempuan-perempuan pengusaha merupakan manajer yang baik dan sangat berhati-hati dalam mengembangkan bisnisnya. Artinya, dari beragam penelitian dan pandangan di atas, bisa disimpulkan bahwa kaum pria lebih paham bisnis, tetapi tidak dari sisi administrasi.Demikian dari sisi pengelolaan keuangan, yang mana lebih didominasi oleh kaum hawa.

Bagaimana di jagat perbankan? Saat ini, peran perempuan mulai merebak hingga mencapai posisi bankir papan atas dengan  posisi srategis. Mulai dari posisi sebagai Presiden Direktur, Wakil Direktur Utama, maupun sejumlah pos penting seperti direktur.

Bahkan sejumlah bank swasta mempercayakan lebih dari satu direktur perempuan pada posisi penting mereka. Sebut saja di PermataBank dan CIMB Niaga yang mempercayakan hingga empat direktur perempuan. Bahkan di BII menempatkan hingga lima direktur perempuan. Danamon mempercayakan tiga direktur dipegang oleh perempuan, sedangkan BCA dan Mandiri yang masing-masing menempatkan satu orang direktur perempuan.

Lantas apa yang menarik dari komposisi direksi perempuan di atas? Mungkin ketika mencermati posisi perempuan yang memegang pucuk pimpinan divisi manajemen risiko dan kepatuhan. Yang mana boleh dikatakan manajemen risiko dan kepatuhan adalah hal yang masih baru di sektor perbankan, tetapi sejumlah bank telah mempercayakan posisi itu dipimpin oleh direktur perempuan.

Sebut saja Fransiska Oei (Direktur kepatuhan Danamon), Vera Handayani (Direktur Manajemen Risiko CIMB Niaga), Lydia Wulan Tumbelaka (Direktur Kepatuhan, Corporate Affairs dan Hukum CIMB Niaga), Dhien Tjahajani (Direktur Hukum dan Kepatuhan BII), Mirah Wiryoatmodjo (Compliance Director PermataBank), Anika Faisal (Direktur Kepatuhan BTPN).

Terlihat kehadiran mereka seolah-olah ‘menantang’ kebiasaan-kebiasaan lama di industri perbankan nasional yang biasanya didominasi lelaki. Lalu pertanyaannya apakah fenomena itu terjadi begitu saja, atau memang secara alami perempuan memang cocok untuk memimpin divisi yang mengelola potensi-potensi kerugian di masa mendatang agar bank bisa terhindar dari dampaknya.

Jika melihat fenomen tersebut, mungkin benar apa yang diungkapkan Fischer dalam publikasinya pada 1993, bahwa perempuan cenderung lebih sadar akan risiko. Dan dengan itu mereka lebih concern kepada pertumbuhan yang pruden dan sustainable.

Menurut Angela Minzoni Alessio, pakar dan konsultan multikultural, penanganan risiko memang masih menjadi bidang di mana pria melalui hubungan kerja, menegaskan kembali persepsi mereka sendiri dan rekan-rekan mereka, mengenai nilai-nilai tradisional laki-laki, seperti berani menghadapi bahaya, menjadi pahlawan, memberi perintah, berada di bawah tekanan, tidak menangis dan lain-lain. Situasi-situasi risiko menyajikan kesempatan bagi kaum Adam untuk mengoperasikan proses tak terucapkan ini melindungi diri.

Angela adalah seorang antropologi industri dan bisnis serta profesor paro-waktu pada Ecole Centrale Paris.

  • Baca juga: Bank BSN Perkuat Ekosistem UMKM Halal, Dorong Pertumbuhan Ekonomi Kerakyatan yang Inklusif

Perempuan, dari generasi ke generasi dan terlepas dari budaya suatu bangsa, telah dilatih untuk  bertanggung jawab untuk merawat kehidupan. Mereka terbiasa untuk merawat mereka sendiri sebagai pengasuh serta untuk kehidupan anak-anak mereka. “Hal ini lebih dari sebuah kebetulan, karena misalnya, perempuan yang menikmati olahraga berisiko sangat jarang,” kata Angela.

Perempuan secara tradisional telah dimasukkan ke dalam situasi untuk peduli tentang hal-hal yang berbeda pada saat yang sama: anak, rumah tangga (termasuk manajemen anggaran), pekerjaan profesional, merawat kerabat dan lain-lain.

Risk Oriented

Oleh karena itu kehadiran perempuan di bidang manajemen risiko dan juga kepatuhan di sektor keuangan juga bukanlah sebuah kebetulan. Peran mereka dari waktu ke waktu pun makin menonjol. Semua itu tidak bisa dilepaskan dari sifat dasar perempuan yang bisa mengerjakan beberapa tugas dalam satu kesempatan. Bahkan sifat yang cenderung lebih teliti terlihat lebih jelas pada perempuan-perempuan yang bekerja.

Lidya  Wulan Tumbelaka, Direktur Compliance, Corporate Affairs & Legal CIMB Niaga, menilai, hampir semua perempuan yang bekerja memiliki sifat-sifat seperti itu, multitasking. “Selain di lain pihak perempuan memang secara natural itu lebih banyak pertimbangan. Maka jadilah kelihatannya perempuan lebih risk oriented.”

Dia menjelaskan, sejatinya, imej bahwa perempuan lebih patuh dan mampu menangani risiko ketimbang pria tidak selamanya benar, apalagi dirinya juga tidak merasa demikian. Namun, pada kenyataanya bahwa perempuan seringkali lebih mau ‘ngulik’ dari pada laki-laki, atau dalam arti lebih teliti.

“Memang sering saya jumpai, karena pada dasarnya perempuan lebih biasa multitasking. Bayangkan mana ada perempuan yang bekerja di kantor, yang pada saat yang sama tidak juga memikirkan hal-hal di rumah tangganya, memikirkan sekolah anak-anak, memikirkan acara keluarga, liburan keluarga, dan sebagainya.”

Namun, Wulan lagi-lagi menegaskan bahwa sejatinya tidak ada tendensi untuk mengarahkan perempuan ke bidang risk manajemen atau sebaliknya. Menurut dia, governance di sebuah bank atau perusahaan pada umumnya harus ditegakkan. Apalagi untuk isu baru seperti governance, risk, compliance(GRC) di Indonesia yang masih mencari bentuk.

Memahami akan posisi vital di perbankan ini, maka untuk mempertajam pengetahuan dan pemahaman soal manajemen risiko, Wulan mengaku selalu melakukan action and learning. Artinya, dengan makin kompleksnya operasi perbankan, banyaknya produk dan aktifitas baru, selain tentunya juga aturan baru, maka proses pengelolaan risiko, mulai dari identifikasi sampai mitigasi senantiasa dilakukan untuk mempertajam risk assesment.

“Kami punya forum CAR (Compliance, Audit and Risk Management) yang berusaha meng-explore resiko atas aktifitas dan produk bank dari segala sisi. Termasuk produk dan aktifitas yang sudah jalan kami review juga,” kata dia.

Selain itu, lanjut Wulan, sebagai pucuk pimpinan divisi kepatuhan, dia juga meminta first line of defense, alias unit bisnis dan unit support di lini pertama, untuk melakukan assessment sendiri atas kondisi operational risk di unit masing-masing, untuk kemudian mempresentasikannya di Operational Risk Committee(ORC). “Maksudnya agar lini pertama ini mendalami risiko-resiko operasional mereka sendiri.” Saat mereka presentasikan di ORC, Commitee akan memberikan komentar dan masukan agar penerapan risk management di unit tersebut menjadi lebih baik,” imbuhnya.

  • Baca juga: Suku Bunga Tinggi dan Rupiah Loyo, OJK Evaluasi Revisi Rencana Bisnis 105 Bank

Sementara dari sisi learning, tentunya dibutuhkan refreshment programs untuk risk management. dan sesi-sesi yang dilakukan oleh otoritas seperti OJK dan BI dinilainya sangat membantu untuk me-recharge pendalaman terhadap risiko.

***

Tags: Srikandi Manajemen Risiko
 
 
 
 
 
Previous Post

Geliat Bankir Dari Planet Venus

Next Post

Hentakan Perempuan di Barat

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BACA JUGA

Related Posts

Sejarah Uang

Daya Beli Tertekan Inflasi Pangan, Saldo Rekening di Bawah Rp100 Juta Turun ke Rp1,66 Juta

by Stella Gracia
21 Oktober 2026 - 14:20

INDEF menyoroti fenomena makan tabungan akibat inflasi pangan di atas 5 persen yang membuat rata-rata saldo tabungan di bawah Rp100...

Bank BSN Perkuat Ekosistem UMKM Halal, Dorong Pertumbuhan Ekonomi Kerakyatan yang Inklusif

Bank BSN Perkuat Ekosistem UMKM Halal, Dorong Pertumbuhan Ekonomi Kerakyatan yang Inklusif

by Sandy Romualdus
21 Juli 2026 - 07:47

Bank BSN mendorong penguatan ekonomi kerakyatan, pengembangan kewirausahaan, serta pertumbuhan ekonomi yang inklusif, berkeadilan, dan berkelanjutan Stabilitas.id - Direktur Network...

Berantas Judi Online, OJK Perintahkan Bank Blokir 33.000 Rekening Penampung

Suku Bunga Tinggi dan Rupiah Loyo, OJK Evaluasi Revisi Rencana Bisnis 105 Bank

by Sandy Romualdus
10 Juli 2026 - 12:52

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tengah mengevaluasi revisi Rencana Bisnis Bank (RBB) 2026 yang diajukan oleh sekitar 105 bank akibat penyesuaian...

Respons Aturan KUR 5% Presiden Prabowo, OJK Minta Himbara Pertebal Pencadangan

by Sandy Romualdus
21 Mei 2026 - 14:50

Stabilitas.id — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyambut positif arahan Presiden RI Prabowo Subianto yang meminta perbankan pelat merah (Himbara) untuk...

Virsem LPPI #107: Bukan Sekadar Religi, Hijrah Finansial Jadi Tren Baru Ekonomi Berkelanjutan

Virsem LPPI #107: Bukan Sekadar Religi, Hijrah Finansial Jadi Tren Baru Ekonomi Berkelanjutan

by Sandy Romualdus
13 April 2026 - 14:54

Stabilitas.id — Industri perbankan syariah nasional terus menunjukkan tren pertumbuhan positif meski masih menghadapi tantangan penetrasi pasar yang belum optimal....

Menaker Terbitkan SE WFH 1 Hari Sepekan, Dorong Ketahanan Energi Nasional

Menaker Terbitkan SE WFH 1 Hari Sepekan, Dorong Ketahanan Energi Nasional

by Stella Gracia
1 April 2026 - 21:53

Stabilitas.id – Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli resmi mengimbau perusahaan swasta, Badan Usaha Milik Negara (BUMN), dan Badan Usaha Milik Daerah...

E-MAGAZINE

TERPOPULER

  • Transaksi Repo Tembus Rp17,5 Triliun per Hari, BI Luncurkan Tri-Party Agent Repo

    Transaksi Repo Tembus Rp17,5 Triliun per Hari, BI Luncurkan Tri-Party Agent Repo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • OJK dan Bappebti Perkuat Sinergi dalam Pengawasan Derivatif Keuangan Berbasis Efek

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • LinkUMKM Tembus 14 Juta User, BRI Dorong Kerajinan Ramah Lingkungan Go International

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menyiapkan Talenta Hijau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Keras Dan Menghantam

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pacu Belanja Turis Asing ke Daerah, Garuda Indonesia Luncurkan Skema Multi-Destinasi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Nakhoda Baru Askrindo: Mahelan Prabantarikso Gantikan M. Fankar Umran

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
 

Terbaru

Optimalkan Pemulihan Aset BPR KRI, LPS Terima Hasil Sita Lelang Rp2,78 Miliar dari Kejari

BI Tahan Suku Bunga Acuan 5,75 Persen, Kerek Deposit Facility dan Pangkas GWM Perbankan

Pangsa Pasar Sentuh 7 Persen, BI Pacu Pendalaman Sukuk Sekunder dan Repo Syariah

Manufaktur Tetap Ekspansif, PMI-BI Kuartal III/2026 Naik ke Level 52,28 Persen

Sambut Libur Akhir Tahun, BI Proyeksikan SBT Kegiatan Usaha Kuartal IV/2026 Tumbuh 10,77 Persen

Jaring Talenta Vokasi Global, Kemnaker Gelar InaSkills 2026 Berstandar Internasional

Soroti AI hingga Green Transformation, Pameran INCHEM TOKYO 2027 Gandeng Industri Global

JLL Ungkap Pasar Properti Indonesia Masuki Era Desentralisasi dan Aset Digital

Gandeng Danantara dan BNSP, Kemnaker Perkuat Ekosistem Sertifikasi Tenaga Kerja BUMN

STABILITAS CHANNEL

 
 
Next Post
CIMB Niaga Serahkan Donasi AMDB 2014 Senilai Rp300 Juta ke Dua Yayasan

CIMB Niaga Serahkan Donasi AMDB 2014 Senilai Rp300 Juta ke Dua Yayasan

  • Advertorial
  • Berita Foto
  • BUMN
  • Bursa
  • Ekonomi
  • Eksmud
  • Figur
  • Info Otoritas
  • Internasional
  • Interview
  • Keuangan
  • Kolom
  • Laporan Utama
  • Liputan Khusus
  • Manajemen Resiko
  • Perbankan
  • Portofolio
  • Resensi Buku
  • Riset
  • Sektor Riil
  • Seremonial
  • Syariah
  • Teknologi
  • Travel & Resto
  • UKM
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pesan Majalah
  • Kontak Kami
logo-footer

Copyright © 2021 – Stabilitas

Find and Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata

Copyright © 2021 Stabilitas - Governance, Risk Management & Compliance