Oleh Romualdus San Udika
Perempuan cenderung diidentikan dengan kelembutan dan ketelatenan. Selain itu, sifat-sifat lain seperti lebih hati-hati dan waspada, juga membuat peran perempuan menjadi semakin penting tidak hanya dalam kehidupan sosial namun juga bagi bisnis. Umumnya, sifat-sifat itu membuat perempuan lebih sadar akan risiko dari perkembangan suatu usaha.
Kecenderungan ini dinilai para peneliti manajemen sumber daya manusia seperti Cliff, (1998) dan Watson and Robinson, (2002) membuat perempuan melihat pertumbuhan usaha sebagai pandangan yang lebih luas daripada hanya melihat pada masalah pembiayaan, ekonomi atau pertumbuhan semata.
Sementara itu, Asia Development Bank (ADB) dalam sebuah penelitian di dua kota besar di Indonesia (2001) menyimpulkan bahwa perempuan-perempuan pengusaha merupakan manajer yang baik dan sangat berhati-hati dalam mengembangkan bisnisnya. Artinya, dari beragam penelitian dan pandangan di atas, bisa disimpulkan bahwa kaum pria lebih paham bisnis, tetapi tidak dari sisi administrasi.Demikian dari sisi pengelolaan keuangan, yang mana lebih didominasi oleh kaum hawa.
Bagaimana di jagat perbankan? Saat ini, peran perempuan mulai merebak hingga mencapai posisi bankir papan atas dengan posisi srategis. Mulai dari posisi sebagai Presiden Direktur, Wakil Direktur Utama, maupun sejumlah pos penting seperti direktur.
Bahkan sejumlah bank swasta mempercayakan lebih dari satu direktur perempuan pada posisi penting mereka. Sebut saja di PermataBank dan CIMB Niaga yang mempercayakan hingga empat direktur perempuan. Bahkan di BII menempatkan hingga lima direktur perempuan. Danamon mempercayakan tiga direktur dipegang oleh perempuan, sedangkan BCA dan Mandiri yang masing-masing menempatkan satu orang direktur perempuan.
Lantas apa yang menarik dari komposisi direksi perempuan di atas? Mungkin ketika mencermati posisi perempuan yang memegang pucuk pimpinan divisi manajemen risiko dan kepatuhan. Yang mana boleh dikatakan manajemen risiko dan kepatuhan adalah hal yang masih baru di sektor perbankan, tetapi sejumlah bank telah mempercayakan posisi itu dipimpin oleh direktur perempuan.
Sebut saja Fransiska Oei (Direktur kepatuhan Danamon), Vera Handayani (Direktur Manajemen Risiko CIMB Niaga), Lydia Wulan Tumbelaka (Direktur Kepatuhan, Corporate Affairs dan Hukum CIMB Niaga), Dhien Tjahajani (Direktur Hukum dan Kepatuhan BII), Mirah Wiryoatmodjo (Compliance Director PermataBank), Anika Faisal (Direktur Kepatuhan BTPN).
Terlihat kehadiran mereka seolah-olah ‘menantang’ kebiasaan-kebiasaan lama di industri perbankan nasional yang biasanya didominasi lelaki. Lalu pertanyaannya apakah fenomena itu terjadi begitu saja, atau memang secara alami perempuan memang cocok untuk memimpin divisi yang mengelola potensi-potensi kerugian di masa mendatang agar bank bisa terhindar dari dampaknya.
Jika melihat fenomen tersebut, mungkin benar apa yang diungkapkan Fischer dalam publikasinya pada 1993, bahwa perempuan cenderung lebih sadar akan risiko. Dan dengan itu mereka lebih concern kepada pertumbuhan yang pruden dan sustainable.
Menurut Angela Minzoni Alessio, pakar dan konsultan multikultural, penanganan risiko memang masih menjadi bidang di mana pria melalui hubungan kerja, menegaskan kembali persepsi mereka sendiri dan rekan-rekan mereka, mengenai nilai-nilai tradisional laki-laki, seperti berani menghadapi bahaya, menjadi pahlawan, memberi perintah, berada di bawah tekanan, tidak menangis dan lain-lain. Situasi-situasi risiko menyajikan kesempatan bagi kaum Adam untuk mengoperasikan proses tak terucapkan ini melindungi diri.
Angela adalah seorang antropologi industri dan bisnis serta profesor paro-waktu pada Ecole Centrale Paris.
Perempuan, dari generasi ke generasi dan terlepas dari budaya suatu bangsa, telah dilatih untuk bertanggung jawab untuk merawat kehidupan. Mereka terbiasa untuk merawat mereka sendiri sebagai pengasuh serta untuk kehidupan anak-anak mereka. “Hal ini lebih dari sebuah kebetulan, karena misalnya, perempuan yang menikmati olahraga berisiko sangat jarang,” kata Angela.
Perempuan secara tradisional telah dimasukkan ke dalam situasi untuk peduli tentang hal-hal yang berbeda pada saat yang sama: anak, rumah tangga (termasuk manajemen anggaran), pekerjaan profesional, merawat kerabat dan lain-lain.
Risk Oriented
Oleh karena itu kehadiran perempuan di bidang manajemen risiko dan juga kepatuhan di sektor keuangan juga bukanlah sebuah kebetulan. Peran mereka dari waktu ke waktu pun makin menonjol. Semua itu tidak bisa dilepaskan dari sifat dasar perempuan yang bisa mengerjakan beberapa tugas dalam satu kesempatan. Bahkan sifat yang cenderung lebih teliti terlihat lebih jelas pada perempuan-perempuan yang bekerja.
Lidya Wulan Tumbelaka, Direktur Compliance, Corporate Affairs & Legal CIMB Niaga, menilai, hampir semua perempuan yang bekerja memiliki sifat-sifat seperti itu, multitasking. “Selain di lain pihak perempuan memang secara natural itu lebih banyak pertimbangan. Maka jadilah kelihatannya perempuan lebih risk oriented.”
Dia menjelaskan, sejatinya, imej bahwa perempuan lebih patuh dan mampu menangani risiko ketimbang pria tidak selamanya benar, apalagi dirinya juga tidak merasa demikian. Namun, pada kenyataanya bahwa perempuan seringkali lebih mau ‘ngulik’ dari pada laki-laki, atau dalam arti lebih teliti.
“Memang sering saya jumpai, karena pada dasarnya perempuan lebih biasa multitasking. Bayangkan mana ada perempuan yang bekerja di kantor, yang pada saat yang sama tidak juga memikirkan hal-hal di rumah tangganya, memikirkan sekolah anak-anak, memikirkan acara keluarga, liburan keluarga, dan sebagainya.”
Namun, Wulan lagi-lagi menegaskan bahwa sejatinya tidak ada tendensi untuk mengarahkan perempuan ke bidang risk manajemen atau sebaliknya. Menurut dia, governance di sebuah bank atau perusahaan pada umumnya harus ditegakkan. Apalagi untuk isu baru seperti governance, risk, compliance(GRC) di Indonesia yang masih mencari bentuk.
Memahami akan posisi vital di perbankan ini, maka untuk mempertajam pengetahuan dan pemahaman soal manajemen risiko, Wulan mengaku selalu melakukan action and learning. Artinya, dengan makin kompleksnya operasi perbankan, banyaknya produk dan aktifitas baru, selain tentunya juga aturan baru, maka proses pengelolaan risiko, mulai dari identifikasi sampai mitigasi senantiasa dilakukan untuk mempertajam risk assesment.
“Kami punya forum CAR (Compliance, Audit and Risk Management) yang berusaha meng-explore resiko atas aktifitas dan produk bank dari segala sisi. Termasuk produk dan aktifitas yang sudah jalan kami review juga,” kata dia.
Selain itu, lanjut Wulan, sebagai pucuk pimpinan divisi kepatuhan, dia juga meminta first line of defense, alias unit bisnis dan unit support di lini pertama, untuk melakukan assessment sendiri atas kondisi operational risk di unit masing-masing, untuk kemudian mempresentasikannya di Operational Risk Committee(ORC). “Maksudnya agar lini pertama ini mendalami risiko-resiko operasional mereka sendiri.” Saat mereka presentasikan di ORC, Commitee akan memberikan komentar dan masukan agar penerapan risk management di unit tersebut menjadi lebih baik,” imbuhnya.
Sementara dari sisi learning, tentunya dibutuhkan refreshment programs untuk risk management. dan sesi-sesi yang dilakukan oleh otoritas seperti OJK dan BI dinilainya sangat membantu untuk me-recharge pendalaman terhadap risiko.
***
















