Oleh Agustaman
Kesetaraan gender adalah isu tak pernah habis dibahas. Jika dalam dunia politik di Indonesia ada batasan minimal 30 persen perempuan untuk mengisi bangku parlemen, bagaimana dengan dunia ekonomi?
Sebuah riset dari Grant Thornton International Business Report (IBR) Maret 2014 lalu menunjukkan bahwa, peran manajemen senior di Indonesia banyak dipegang oleh perempuan dengan porsi mencapai 41 persen. Jumlah tersebut berada pada peringkat kedua dunia setelah Rusia (43 persen). Sedangkan untuk wilayah ASEAN, proporsi perempuan Indonesia di level senior masih tertinggi melebihi Filipina (40 persen), Thailand (38 persen), Malaysia (25 persen) dan Singapura (23 persen).
BERITA TERKAIT
Posisi manajemen senior teratas yang dipegang oleh perempuan adalah Chief Finance Officer (54 persen), Chief Management Officer (24 persen), Sales Director (19 persen) dan Human Resource Director (17 persen).
Hasil riset IBR juga mengatakan, sebagian besar perusahaan memberikan penawaran yang menarik kepada para pekerja perempuan di Indonesia. Penawaran-penawaran tersebut antara lain soal pengaturan waktu kerja yang fleksibel, program bimbingan, peluang mendapatkan libur ekstra atau cuti tidak berbayar, dan penanggungan biaya melahirkan yang lebih tinggi dari yang diwajibkan peraturan. Faktor pendukung lainnya adalah kecenderungan perusahaan untuk mempromosikan lebih banyak perempuan pada tingkatan manajemen senior.
“Melalui kolaborasi dengan sektor swasta, pemerintah Indonesia memiliki potensi yang besar untuk mengurangi ketidaksetaraan gender di Indonesia. Hal ini merupakan hal yang vital, sebab lingkungan dengan kesetaraan gender yang baik juga dipersepsikan sebagai lingkungan yang baik untuk bisnis. Dikombinasikan dengan optimisme bisnis yang tinggi, kolaborasi ini akan membuat Indonesia sebagai surga bisnis tropis, tidak hanya di wilayah sekitar, tapi juga di pasar internasional,” kata Johanna Gani, Managing Partner Grant Thornton Indonesia.
Cukup terbukanya kesempatan bagi perempuan Indonesia untuk berkarier cemerlang di berbagai perusahaan, menurut Wakil Presiden Direktur Bank Panin Roosniati Salihin adalah karena kebebasan untuk mengakses pendidikan. “Saya sendiri bisa menuntut ilmu hingga Jepang dan Amerika,” ujar dia.
Prestasi Roosniati juga menghapus stigma lawas bahwa ‘perempuan kerjanya hanya di dapur’. Kepandaiannya dalam berbahasa asing serta keluwesannya berkomunikasi, perempuan kelahiran Jakarta, 1948 ini sukses menempati posisi penting di Bank Panin selama beberapa dekade.
Baginya, pendidikan adalah alat jitu yang sanggup mengantarkan setiap individu ke gerbang kesuksesan. “Meskipun saya keturunan Tionghoa, tetapi tidak katrok harus mikirin berdagang terus. Sebaliknya, ayah menyuruh saya sekolah setinggi-tingginya. Ini mutlak,” papar perempuan yang pernah belajar bahasa Jepang di Kokusai Gakkuyukai, belajar bahasa Inggiris di UCLA, AS, menjadi mahasiswi ilmu Bahasa Inggris di Sophia University dan menempuh pendidikan di Tokyo Business School jurusan manajemen.
Anggota Board of Suoervisors University of Washington untuk Pasific Rim Banker Program ini mengatakan, peranan perempuan sudah dipandang sebagai hal yang krusial, bahkan diperhitungkan di berbagai kehidupan masyarakat.
“Sekarang jamannya sudah enak, perempuan sudah bisa diterima di jabatan atas. Waktu saya mulai tahun 70-an dulu, perempuan tidak dianggap perlu untuk memegang posisi pimpinan. Kalau pun ada itu cuma sementara. Tapi, dalam pikiran saya waktu itu, saya bilang saya mau melanjutkan karier saya. Jika saya menikah dengan orang yang tepat, saya yakin dia bisa mendukung karier saya,” aku ibu satu anak ini.
Memiliki bawahan yang mayoritas laki-laki, mengharuskan Roos lebih tenang dalam membawakan diri. “Setiap karyawan pria saya tanya, apa ada masalah dengan bos perempuan? Jika tidak ada, berarti pekerjaan akan baik-baik saja, sementara jika karyawan pria tersebut tidak biasa di bawah naungan bos perempuan, saya akan selesaikan sampai ada kata sepakat,” ceritanya.
Seperti halnya Roosniati, para bankir perempuan lainnya juga menganggap setiap persoalan sama pentingnya dan harus dituntaskan sampai selesai. Mereka percaya bahwa monitor atas apa yang dilakukan oleh bawahan penting, kadang cenderung menggurui, memata-matai, atau terkesan kurang memercayai bawahan. Pokok perhatian mereka adalah eksekusi, monitor, dan follow up.
Menurut Awaldi, pengamat SDM perbankan yang juga Direktur Towers Watson Indonesia, perempuan pekerja mempunyai tingkat engagement dan loyalitas lebih baik ketimbang pria. Hanya seperempat dari pekerja perempuan yang berpikir-pikir untuk pindah pekerjaan, sementara lebih dari separuh karyawan pria di Indonesia sedang meragukan keterikatannya dengan perusahaannya sekarang.
Engagement dan loyalitas yang tinggi terhadap perusahaan membuat pekerja perempuan lebih produktif, lebih inovatif, dan lebih mempunyai rasa atas keberlangsungan kinerja perusahaan. Perusahaan yang memiliki lebih banyak eksekutif perempuan, lanjut Awaldi, sejatinya akan memiliki tingkat produktivitas yang lebih baik, nasabahnya lebih happy, dan kinerja perusahaannya lebih bagus.
Tak Kalah Cemerlang
Dari sisi jumlah eksekutif di jajaran puncak, perempuan memang belum sepadan jika dibandingkan dengan kaum pria. Namun, para perempuan yang saat ini menduduki posisi ini memiliki track record yang tidak kalah cemerlang dengan bankir pria dalam mengelola bank.
Sebut saja nama Fransisca Nelwan Mok. Sejak 2010 sampai sekarang, alumnus Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran, Bandung ini tercatat sebagai salah satu direktur perempuan pertama di PT Bank Mandiri Tbk. Oleh para pemegang saham, ibu tiga putri ini dinilai sangat memahami visi dan misi dalam mengemban tugas, serta kewajiban dan wewenangnya sebagai Direktur Corporate Banking pada bank dengan nilai aset terbesar di Indonesia. Kemampuan analisisnya tidak perlu diragukan dan pengalaman menjadikannya sebagai penentu kebijakan.
Menurutnya, banyak perempuan di Indonesia yang memiliki kecerdasan dan pengalaman yang baik, sehingga dapat menjadi pemimpin di suatu perusahaan. Baginya, jika perempuan Indonesia ingin terus maju, maka jangan cengeng. “Jangan cengeng,” kata Fransisca yang memulai karier di Bank Bumi Daya pada tahun 1983, memotivasi.
Contoh lain adalah Ani Murdiati. Sosok bankir perempuan satu ini termasuk langka di dunia perbankan Tanah Air. Datang dari latar belakang ilmu biologi UGM, Ani mampu mensejajarkan dirinya di barisan bankir top yang umumnya didominasi pria.
Setahun setelah dirinya diangkat sebagai Direktur Utama Bank Victoria Syariah pada 1 April 2013, laba bank ini melesat 32,27 persen menjadi Rp7,05 miliar. Ini terjadi lantaran melonjaknya pembiayaan hingga Rp860 miliar atau 80,67 persen dibandingkan tahun 2012.
Sebelumnya, dia berkarier di Bank Mega Syariah dan menjadi satu-satunya perempuan yang duduk di jajaran direksi bank tersebut dengan jabatan Direktur Bisnis. “Bukan hal mudah. Setiap hari saya mendapat tekanan. Semua terlewati karena campur tangan Tuhan, apalagi yang saya kerjakan untuk umat,” ujar perempuan yang mengawali karier di Jayabank dari mulai sebagai teller sampai menjadi kepala cabang.
Peran perempuan di perbankan tidak bisa dilepaskan dari nama besar Gunarni Soewarno. Dia adalah CEO Bank Niaga era 1995-2000 yang sebelumnya menjadi direktur corporate banking bank yang sama.
Sentuhan Gunarni yang humanis, perhatiannya yang jujur akan kesiapan talenta masa depan, serta bekerjanya yang detil dan monitor ketat membuatnya berbeda sebagai CEO yang berasal dari “Planet Venus”.
Bank Niaga juga memelopori dibukanya outlet serbawanita dengan sebutan ladies branch. Cabang sepenuhnya dipimpin dan diawaki oleh para bankir perempuan. Beberapa di antaranya kemudian menjadi pemuncak dan tersebar di berbagai bank, seperti Winny Erwindia, Dian Soerarso, Catherine Hadiman, Dina Carolina, Laksmi Mustikaningrat, dan Diah Sulianto.
















